Sabtu, 12 September 2009

Dan Lebaran pun Marak dengan Pamer Mobil Baru

Oleh Cardiyan HIS



Transportasi umum hampir pasti akan harus dikembangkan sebaik-baiknya, terutama di kawasan-kawasan padat penduduk. Akan tetapi orang akan tetap mencari ruang untuk pribadi. Dan jika ruang lain sulit dicari, maka tempat yang paling baik untuk menyendiri adalah kendaraan bermotor pribadi.



“I think I need a bigger TRUCK. Yes, Indonesia can attract Investment in the Global Automotive Industry of the World”. Kata-kata itu mengucur demikian deras dari Anthony (Tom) McDonald, seorang tokoh otomotif pada Australian Trade Commission, kepada penulis sesaat setelah ia selesai mempresentasikan papernya pada sebuah seminar dan pameran otomotif di Jakarta Convention Centre, Jakarta beberapa waktu lalu.


Apanya yang menarik dari Indonesia? “Indonesia adalah negara yang memiliki potensi luar biasa dalam segi pertumbuhan pemilikan kendaraan bermotor. Karena yang telah memiliki kendaraan bermotor adalah kurang dari 2% penduduknya yang jumlahnya sekitar 240 juta”, tegas Tom. Menurut Tom pula, perlu dicatat bahwa Indonesia adalah pemilik sepeda motor terbanyak ketiga di dunia setelah Cina dan India. Sehingga bila Indonesia bangkit dari keterpurukan otomatis punya peluang akan kepemilikan kendaraan bermotor di masa-masa mendatang.


Bila bermain dengan “angka-angka yang mengesankan”, Indonesia memang belum apa-apa dalam segi kuantitas kepemilikan kendaraan bermotor. Studi-studi World Bank, Autopolis, Euromonitor International dan Bridge menunjukkan jumlah kendaraan bermotor per 1 km jalan raya di Indonesia masih terbilang rendah yakni 14 buah. Namun Indonesia masih di atas India (3), Cina (7) dan Filipina (11). Angka tertinggi dicapai Hong Kong 276 buah kendaraan bermotor per km jalan; Singapura (170), Korea Selatan (120), Thailand (97), Malaysia (69) dan Jepang (61).
Sedangkan bila diukur oleh jumlah kendaraan penumpang per 1.000 penduduk, Indonesia masih termasuk paling rendah pula yakni hanya 14 buah. Hanya di atas Filipina 12 buah, tetapi sangat jauh dibanding Malaysia dan Thailand, yang masing-masing telah mencapai angka 177 dan 36 buah kendaraan penumpang per 1.000 penduduk.
Namun melihat dari pertumbuhan kendaraan bermotor per 1 km jalan, Indonesia termasuk yang memiliki pertumbuhan cukup pesat yakni rata-rata 4%. Pertumbuhan ini agaknya dipacu oleh faktor betapa harga BBM di Indonesia adalah tetap termasuk paling rendah di Asia Pasifik meskipun pihak Pertamina kerap menaikkan harga BBM.


Indonesia jelas memiliki potensi sangat besar untuk menjadi pemilik kendaraan bermotor yang sangat diperhitungkan di masa depan. Indikator “kulit kemewahan” di kota-kota besar Indonesia, yang secara kualitatif menunjukkan ke arah itu sulit untuk dibantah. Dan secara kualitatif memang kesenjangan antara pemilik kendaraan bermotor dengan yang belum memiliki kendaraan bermotor, begitu menganga lebar. Bahkan secara kualitatif pemilik kendaraan bermotor Indonesia dari kelas “low-end to high-end” yang memiliki lebih dari satu kendaraan mewah, terbilang sudah memiliki gaya hidup seperti rekan-rekan mereka di negara-negara maju. Bahkan kalau dikuantifikasi secara kasar pun jumlah pemilik kendaraan bermotor di kota-kota besar Indonesia pada kelas tadi, boleh jadi akan mengalahkan angka Singapura yang jumlah penduduknya cuma sekitar 3,5 juta orang.


Sesungguhnya, salah satu tantangan serius di masa-masa mendatang adalah memecahkan masalah kesenjangan sosial di antara pemilik kendaraan bermotor dan bukan pemilik kendaraan bermotor, yang lingkupnya tidak hanya terbatas pada satu negara tertentu, seperti ilustrasi di Indonesia. Tetapi kini lingkup problematikanya telah mendunia. Yakni tentang kenyataan adanya kebutuhan mobilitas dan aspirasi-aspirasi kawasan dunia yang masih berkembang terhadap rekan-rekan mereka di negara-negara maju. Sesungguhnya itulah yang menjadi tantangan besar dunia otomotif di masa-masa mendatang. Seperti ditulis oleh pakar otomotif dunia; Dennis Simanaitis pada http://www.roadtrack.com/Road Track/technical/0901_whiter_the automobile_pl.html, bahwa mau atau tidak, disadari atau tidak, nenek moyang kita adalah pengembara. Yang mewariskan kepada kita sebuah gen kecenderungan untuk mengembara ke mana pun di dunia ini.


Maka seperti kebanyakan orang lain, ia pun percaya bahwa mobilitas pribadi akan tetap menjadi prioritas utama. Transportasi umum hampir pasti akan harus dikembangkan sebaik-baiknya, terutama di kawasan-kawasan padat. Akan tetapi orang akan tetap mencari ruang untuk pribadi. Dan jika ruang lain sulit dicari, maka tempat yang paling baik untuk menyendiri adalah kendaraan bermotor pribadi.
Selain itu, akibat kepadatan penduduk yang semakin berlipat ganda di masa mendatang, hasrat untuk mendapatkan kebebasan pribadi akan semakin penting. Dan kendaraan bermotor akan tetap menjadi sesuatu yang menyenangkan, baik untuk mengisi waktu senggang maupun untuk mencari tambahan penghasilan. Kita agaknya masih akan suka berkeliling memakai kendaraan bermotor hanya demi kesenangan termasuk untuk mudik Lebaran atau Hari Raya Idhul Fitri 1430 H kali ini, sekalipun Indonesia masih terjebak dalam krisis panjang multi dimensi. Dan bahkan juga untuk sekadar “pamer” guna menunjukkan pencapaian status simbol tertentu bagi para pemilik kendaraan bermotor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar