Sabtu, 10 Juli 2010

Indonesia Mendarahi Sukses Belanda ke Final Piala Dunia 2010

Oleh Cardiyan HIS

Semakin terbukti bahwa talenta anak Indonesia bermain sepakbola sebenarnya berkelas dunia. Anak-anak keturunan Indonesia turut mengantar kesebelasan nasional Belanda menembus final Piala Dunia 2010. Manajemen PSSI harus direformasi total dalam kompetisi sepakbola berbagai level sejak usia dini sampai senior. Kalau tidak, ambisi Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid membawa Indonesia ke pentas dunia sampai “Lebaran Kuda” pun tak akan pernah kesampaian.


Cannon ball berjarak 40 meter itu menembus telak pojok atas kiri gawang Uruguay. Sang penendang gol emas ini adalah kapten tim nasional Belanda, Giovanni van Bronckhorst. Mantan bek kiri klub Barcelona dan kini akan segera mundur dari klub Feyenoord pasca Piala Dunia 2010 ini, ternyata memiliki darah Indonesia. Ibu kandungnya adalah wanita berdarah Maluku dari fam Sapulete. Tak mengherankan sosok “hanya” bertinggi badan 178 cm pada aura wajahnya masih sangat kuat terpancar Ambon manise.

Gol sang kapten pada menit ke 18 ini (merupakan salah satu nominasi gol terbaik Piala Dunia 2010) tentu membangkitkan moral timnas Belanda di pertandingan semifinal yang sangat krusial melawan satu-satunya tim tersisa asal Amerika Latin; Uruguay. Terlebih-lebih gol ini membangkitkan semangat dan kebanggaan bagi 3 orang lagi sesama keturunan Indonesia yang bermain di semifinal; Johny Heitinga (bek tengah, pemain klub Everton, UK), Deny de Zeeuw (gelandang bertahan, Ajax, the Netherlands) dan Robin van Persie (penyerang, Arsenal, UK ini neneknya berdarah Jawa 100%). Sedangkan satu lagi keturunan Indonesia adalah gelandang bertahan; Nigel de Jong (Manchester City, UK) karena mendapat hukuman akumulasi kartu kuning tak bisa tampil di semifinal. Dengan semua 5 (lima) pemain keturunan Indonesia bebas dari hukuman akumulasi kartu sampai semifinal, maka kelimanya yang merupakan pemain inti kemungkinan besar akan dimainkan sepenuhnya oleh pelatih timnas Belanda, Bert van Marwijk melawan Spanyol di final 12 Juli 2010 jam 1.30 dini hari.

Cerita manis kiprah pemain nasional Belanda berdarah Indonesia sebenarnya bukan ceritera baru lagi. Malahan terjadi sejak jauh hari ketika timnas Indonesia asuhan pelatih asal Yugoslavia, Tony Pogacknik , melakukan Tour Eropa pertama pada awal 1965. Seorang pemain timnas Indonesia bernama Domingus asal Persipura, Jayapura, Irian Barat (kini Papua) membelot dari timnas Indonesia ke Belanda! Peristiwa yang sangat berbau politis ini, terjadi segera setelah pertandingan timnas Indonesia yang dikapteni Soetjipto “Gareng” Soentoro melawan Guus Hiddink, yang mengkapteni timnas Belanda. Bung Karno, Presiden RI marah besar dan semakin menguatkan tekadnya untuk membangun kesebelasan Indonesia yang kuat untuk event dunia Ganefo di Jakarta. Di event sebagai tandingan Olimpiade karena Indonesia memboikot Olimpiade Tokyo 1960, di final kesebelasan Indonesia mengalahkan Mesir 1-0 melalui gol tunggal striker Komar, asal Persib Bandung. Ketika itu Indonesia memang sedang mengalami masa-masa panas hubungan diplomatik dengan pemerintah Belanda pasca Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) oleh PBB yang akhirnya pada tahun 1962 membawa kembali Irian Barat dari cengkeraman penjajah Belanda ke pangkuan Ibu Pertiwi, Indonesia.

Setelah kejadian itu, baru muncul Simon Tahamata berdarah Indonesia Maluku sebagai pemain inti tim nasional Belanda awal tahun 1980an. Bermain sebagai kiri luar yang sangat cemerlang di klub Ajax, membawa Simon Tahamata ke timnas Belanda. Simon mengakhiri karier internasionalnya di sebuah klub papan atas Belgia, Anderlecht. Nah yang menjadi menarik belakangan ini fenomena jumlah populasi pemain timnas Belanda ternyata semakin banyak dihuni oleh para pemain berdarah Indonesia. Timnas Belanda yang akan tampil di final melawan Spanyol tanggal 12 Juli 2010 jam 1.30, dipastikan akan melibatkan 5 (lima) orang keturunan Indonesia!

Dan masa depan para pemain keturunan Indonesia untuk bisa menembus pemain elite timnas Belanda pasca Piala Dunia 2010 ini pun masih sangat terbuka lebar. Karena masih sangat banyak pemain-pemain keturunan Indonesia yang terlibat dalam kompetisi divisi utama Belanda Eradivisie. Setelah salah seorang pemain timnas Belanda keturunan Indonesia bernama Hedwiges Maduro (juga mantan kapten timnas Belanda yang menjuarai Piala Eropa U-20 tahun 2005) menurun dan tak dipanggil oleh pelatih timnas Belanda 2010, kini ada barisan panjang nama-nama keturunan Indonesia yang kualitasnya sangat menjanjikan antara lain Christian Sapusepa, Michael Timisela, Robert Timisela dan Sven Taberima (Ajax, Amsterdam); Djilmal Lawansuka (Feyenoord, Rotterdam); Raphael Tuanakotta dan Ignacio Tuhuteru (FC Groningen); Gaston Salasiwa (AZ Alkmaar); Marciano Kastirejo, Stefano Lilipaly dan Max Lohy (FC Utrech); Nelljoe Latumahina, Juan Hatumena, Petg Toisuta dan Domingus Lim-Duan (FC Zwolle).

Melihat deretan nama tersebut, tak mengherankan bila Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI sangat tergiur untuk secara instant merekrut pemain-pemain keturunan Indonesia ini menjadi pemain timnas PSSI, melalui proses naturalisasi terlebih dulu. Maka segera dia menyuruh Nugraha Besoes, Sekjen PSSI yang menjabat Sekjen terlama di dunia untuk menjajaginya. Tapi sebagian terbesar dari mereka ternyata tidak mau bermain untuk tim PSSI karena mereka menilai peluang untuk lolos ke Piala Dunia sangat tipis bagi timnas Indonesia dibandingkan kalau mereka membela timnas Belanda. Alasan lain penolakan mereka tentunya adalah masalah jaminan hidup pemain yang sangat diragukan karena kompetisi PSSI masih sangat ecek-ecek.

Memang ada beberapa keturunan Indonesia yang mencoba peruntungan di kompetisi Indonesia Super League (ISL) seperti Irvan Bachdim, (ayahnya keturunan Minangkabau). Namun pemain yunior FC Groningen ini ditolak oleh Persib Bandung karena dinilai masih belum siap untuk mengarungi kompetisi ISL yang sangat keras. Ada lagi Sergio van Dijk, salah seorang top scorer liga Australia (A-League), tetapi beritanya tak kedengaran lagi, mungkin dia tahu Indonesia ditolak FIFA pada bidding keikutsertaannya untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

PSSI kepengurusan Nurdin Halid kalau mau maju ke pentas dunia janganlah berpikir serba instant dong. Jangan agar bisa lolos ke Piala Dunia lalu mencoba merekayasa menjadi Tuan Rumah Piala Dunia. Ini namanya ingin tampil di Piala Dunia dengan tiket gratis! Jangan karena ingin lolos ke Piala Dunia lalu berpikir segera menaturalisasi para pemain bola internasional keturunan Indonesia. Benahi dulu dong, semua level kompetisi sejak usia dini, berjenjang beberapa tingkatan sampai ke kompetisi senior. Kompetisi yang berjalan bagus, kompetitip dan dijalankan secara fair itulah yang akan membawa pemain-pemain Indonesia berada pada level tinggi sebagai pemain sepakbola yang nantinya direkrut memperkuat timnas Indonesia.

Datangkan ke Indonesia pelatih berkelas dunia sekelas Tony Pogacknik, yang didukung penuh oleh pemerintah di bawah Presiden RI, Ir. Soekarno; yang berhasil membawa timnas Indonesia lolos ke Olimpiade Melbourne, Australia 1956 setelah di final Pra Olimpiade mengalahkan timnas Cina 5-3 dan kemudian di perempat final Olimpiade Melbourne membuat kejutan dengan menahan 0-0 calon juara Olimpiade yang akhirnya memang juga menjuarai Olimpiade Melbourne; Uni Soviet (sekarang Rusia), melalui pertandingan sangat dramatik. Atau datangkan pelatih asal Belanda sekelas, Wiel Coerver, yang membawa Feyenoord memenangi piala Champions dan nyaris membawa timnas Indonesia lolos ke Olimpiade Montreal, Kanada 1976, hanya karena kalah adu penalti 5-6 melawan Korea Utara. Suruh pelatih timnas Indonesia ini keliling Indonesia memantau pemain-pemain muda berbakat tanpa diintervensi pengurus PSSI. Suruh dia memantau pemain-pemain di kompetisi ISL dan terus berdiskusi dengan para pelatih klub anggota ISL. Suruh dia memberi kursus kepelatihan bagi calon pelatih Indonesia terutama yang berasal dari mantan pemain nasional.

Ayo sebenar-benarnya Indonesia itu bisa ke Piala Dunia!!!!!


Kepustakaan:

www.fifa.com

www.cardiyanhis.blogspot.com

Cardiyan HIS, “PSSI Tempo Doeloe Hebring”, Penerbit PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta, 1988.

Cardiyan HIS dan Muhamad Kusnaeni, “Intinya Pemain Inti untuk PSSI”, Penerbit PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta, 1988.

Cardiyan HIS, “Soetjipto ‘GARENG’ Soentoro Menggoreng Bola”, Penerbit PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta, 1988.

2 komentar:

  1. mantap..
    setuju banget..
    kalo mau kuat, pondasi harus mantap..
    klo metode Nurdin Halid tu spt bangun rumah di atas pasir...
    kalo dr dasar dulu sama kyk bangun rumah di atas batu..
    pasti kokoh..

    BalasHapus
  2. Senang sekali saya membaca tulisan2 anda, khusunya yg mengenai persepakbolaan Indonesia.
    Ingin sekali saya bisa mendapatkan data yg seakurat mungkin mengenai nama2 pemain timnas sepakbola Indonesia dari masa ke masa berikut formasi dan pertandingan resmi internasional-nya, apakah barangkali bisa dibantu? terima kasih.

    BalasHapus