Jumat, 06 Januari 2012

Supaya “Pintar” Anjing pun Rajin ke Sekolah



Oleh Cardiyan HIS


“Takut Masuk Neraka Orang Hutan pun Terpaksa Berpuasa dan Kelelawar Menjerit-jerit Kesakitan”. Itu judul artikel “Ole-ole Kalimantan” dari penulis 2 tahun lalu. Ole-ole Kalimantan kali ini soal nasib binatang juga. Tapi yang ini soal Anjing bernama Blacky, yang rajin pergi ke sekolah, ke ruang kelas 3, Sekolah Dasar Negeri 8 Tewah, kecamatan Tewah, kabupaten Gunung Mas, provinsi Kalimantan Tengah. Apakah si Blacky ingin belajar Matematika agar “pintar” seperti kepintaran si Blacky berburu Kijang dan Babi Hutan? Entahlah.

Pada mulanya si Blacky sebagai bukti kesetiaan terhadap bos tersayang, ingin mengantar bosnya, Yudisia, yang masih siswa kelas 2 ke sekolah. Waktu masih kelas 1 Yudisia masih diantar ibunya dan Si Blacky juga masih kecil “belum percaya diri” untuk antar bosnya. Dan setelah merasa “besar dan PD” si Blacky berinisiatip mengantar bosnya, setelah mandi pagi disabunin bosnya dan sarapan pagi.
Tetapi ternyata si Blacky keblablasan ingin sekaligus masuk ke ruang kelas 2. Meskipun dipaksa-paksa diusir dari ruang kelas, si Blacky tetap bersikukuh ingin masuk kelas; ingin ikut “belajar” bersama-sama bosnya; Yudisia, murid kelas 2 di sekolah itu. Meski sudah dirayu oleh bos Yudisia agar menunggu di luar kelas saja, Si Blacky terus memaksa masuk dengan perangai “bersahabat”. Dan hebatnya setelah gagal diusir, si Blacky malah langsung minta tempat “meja belajar” di atas meja baris belakang; persis di belakang bos, Yudisia.

Sang ibu guru Ny. Suryaningsih SPd, (isteri Dodi Jamal, manajer perusahaan batubara SWI Group) pada mulanya ketakutan juga dan merasa tak pantas anjing ikut-ikutan belajar bersama murid-muridnya. Namun akhirnya bu guru “mengalah” setelah Yudisia muridnya “menjamin” si Blacky tak akan mengganggu suasana belajar siswa. Dan memang betul, selama bu guru mengajar dengan “disiplin” si Blacky mendengarkan segala penjelasan. Entah mengerti atau tidak penjelasan bu guru, yang jelas si Blacky tak bikin gaduh dengan menggonggong layaknya seekor anjing, misalnya. Ini malah berbeda dengan para siswa yang kadang bikin gaduh kalau pelajaran sudah dirasakan “bete”.

Dan manakala bel berbunyi tanda istirahat, si Blacky pun meloncat dari “meja belajar” dan berjalan mengikuti bos Yudisia dan siswa-siswa lainnya untuk makan-minum siang. Kadangkala kalau istirahat panjang, para siswa main sepakbola. Si Blacky pun ikut-ikutan main sepakbola; ke mana Yudisia lari mengejar bola si Blacky selalu mengikuti di belakangnya. Sekali Yudisia bertindak menjadi penjaga gawang, si Blacky pun ikut menjadi “penjaga gawang kedua” dengan berdiri gagah di belakang Yudisia.

Setelah bel berbunyi tanda siswa harus masuk kelas kembali, si Blacky dengan “disiplin” selalu masuk menguntit bos Yudisia. Dan setelah bosnya duduk, si Blacky langsung meloncat ke “meja belajar”. Suasana belajar pun berlangsung dengan tenang dengan si Blacky tetap setia duduk di “meja belajar”. Begitulah suasana di salah satu ruang kelas SDN 8 Tewah dengan kehadiran seekor anjing “pintar” Blacky yang telah “naik kelas” ke kelas 3, berlangsung dengan tenang hampir dua tahun lamanya.


www.cardiyanhis.blogspot.com
http: //id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6