Oleh Cardiyan HIS
Indonesia nyaris lolos ke Piala Dunia Meksiko Tahun 1986 kalau tak jegal oleh Korea Selatan di Pra-Piala Dunia. Mengapa Indonesia terus-terusan nyaris lolos? Inilah ceritera di balik kegagalan yang mengundang kontroversi sangat luas sepanjang sejarah pembentukan tim nasional.
Benarkah tentang adanya anggapan Ajat Sudrajat dan Adolf Kabo tidak bagus kalau main di tim nasional? Padahal keduanya selalu bermain cemerlang di Persib Bandung dan Perseman Manokwari. Mengapa? Ada apa di balik itu?
Penyebabnya menurut saya adalah karena ada persaingan tidak sehat antara pengurus PSSI yang menaungi kompetisi PSSI Perserikatan dengan kompetisi PSSI Galatama pada tahun 1980an. Persaingan yang mengorbankan kepentingan yang lebih tinggi yakni kepentingan nasional Bangsa Indonesia. Persaingan tajam ini mengerucut ketika pelatih tim nasional Indonesia untuk Pra-Piala Dunia Meksiko, Sinyo Aliandu sama sekali tidak memanggil Ajat Sudrajat (Persib), Adolf Kabo (Perseman), Robby Darwis Persib), Yonas Sawor (Perseman) dan Budi Juhanis (Persebaya) yang merupakan pemain-pemain andalan asal PSSI Perserikatan bahkan sekedar untuk mengikuti Pelatnas. Padahal performa kelimanya pada tahun 1985 sedang dalam puncaknya.
Inilah polemik yang sangat tajam dan meluas di masyarakat dalam sejarah pembentukan tim nasional sepakbola Indonesia. Mengapa? Karena untuk posisi dari penjaga gawang, belakang dan gelandang, kualitas timnas Indonesia relatif sudah bagus meskipun masih ada juga sedikit kekurangan disana-sini. Tetapi untuk barisan depan menjadi sektor yang sangat lemah yang harus segera diatasi. Barisan penyerang Bambang Nurdiansyah, Wahyu Tanoto, Dede Sulaeman dan Sulianto, sebenarnya secara jujur harus diakui teknisnya tidak sebagus dan semengkilap Ajat Sudrajat dan Adolf Kabo pada tahun 1985 itu.
Bambang Nurdiansyah adalah tipe striker eksekutor. Dia tak memiliki dribbling yang bagus, sundulan yang hanya medioker, penempatan posisi dan cara melindungi bola screening) lemah. Kebiasaan jeleknya adalah selalu mengulang-ulang back-pass tak perlu ke barisan gelandang karena memang tadi dia tak memiliki kemampuan dribbling melewati satu dua pemain lawan. Hanya karena timnas memiliki gelandang sangat bagus pada diri Zulkarnain Lubis (penonton di jazirah Arab pada kejuaraan Piala Champions Asia menyebutnya “Maradona Asia”) dan Rully Nere (“Jean Tigana Asia”), maka suplai bola keduanya sangat memanjakan seorang striker tipe eksekutor macam Bambang Nurdiansyah.
Ajat Sudrajat dalam biografi bersama Ricky Yacobi, yang ditulis oleh saya bersama Muhammad Kusnaeni (Muhammad Kusnaeni dan Cardiyan HIS, Intinya Pemain Inti untuk PSSI, Penerbit PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988), mengungkapkan kekecewaannya: "Saya sangat kecewa sekali merasa dicampakkan oleh pelatih Aliandu. Karena sama sekali tak dipanggil bahkan untuk sekedar mengikuti Pelatnas. Mengapa Sulianto dan Wahyu Tanoto yang oleh kolumnis sepakbola "Kompas" Kadir Jusuf dinilai tak ada apa-apanya di Galatama, kok dipanggil?”
Bukan hanya kolumnis Kadir Jusuf, pelatih Yuswardi yang membesarkan Ajat sejak di Timnas PSSI Putih (untuk kualifikasi Pra Olimpiade ada 3 tim dibentuk PSSI yang lainnya PSSI Hijau dan PSSI Merah), kemudian di PSSI Perserikatan dan PSSI Garuda sangat marah. Yuswardi gusar alasan Aliandu yang hanya bilang Ajat dan Kabo tak cocok dengan skemanya. Ronny Pattinasarani, mantan kapten timnas bahkan menyarankan Ajat dan Kabo segera dipanggil. Kehadiran Ajat dan Kabo akan membuat persaingan di sektor gelandang menyerang dan atau striker menjadi tumbuh secara sehat. “Dan ini sangat positif bagi kemajuan timnas Indonesia yang sangat timpang di sektor penyerang”, Ronny Patti menambahkan.
Dan terakhir sang begawan sepakbola terpaksa turun dari pertapaan. Soetjipto “Gareng” Soentoro, mantan kapten timnas Indonesia tahun 1960-an dan Asia All Stars yang hanya mengagumi dua orang saja pemain Indonesia yakni Ajat Sudrajat dan Heri Kiswanto sebagai generasi muda penerusnya pada tahun 1980-an (Cardiyan HIS, Si Gareng Menggoreng Bola, Penerbit Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988), mencak-mencak sangat keras sama Aliandu: “Belum dicoba kok sudah dibilang tidak cocok. Menjadi kewajiban pelatih untuk mengangkat pemain agar kemampuannya berkembang selama di Pelatnas. Ajat, Kabo, Robby Darwis, Budi Juhanis dan Yonas Sawor adalah korban persekongkolan orang-orang PSSI Galatama yang tak mau pemain-pemain asal PSSI Perserikatan maju. Mereka dengan egois mengorbankan begitu saja kepentingan nasional”.
Ajat memang pemain asal PSSI Perserikatan yang selalu dipersepsikan sebagian wartawan Indonesia sebagai tak cocok bila main di timnas dan hanya cocok main di klub: “Ajat di timnas kehebatannya tak muncul dibanding kalau ia main begitu impresif di Persib”.
“Persepsi yang lebih berbau lelucon bahkan asal main vonis saja”, bantah pelatih PSSI Perserikatan, Yuswardi dengan sengitnya karena tak mau anak didiknya diperlakukan tidak adil. Yuswardi memberi contoh ketika membawa tim PSSI Perserikatan pada Merdeka Games 1984. Koran “Utusan Malaysia” menganugrahi Ajat sebagai “The Best Player” ketika Indonesia mempermak timnas Thailand 5-2 dan draw 1-1 dengan Malaysia. Meskipun Indonesia kalah 0-2 dari Brazil yang akhirnya juara. Tetapi dalam pertandingan tersebut Ajat sempat mendemonstrasikan kemampuan mengecoh lawan dengan gerak melingkar (penemuan Wiel Coerver yang Ajat dapatkan dari tips seniornya Encas Tonif yang pernah menjadi anak asuh Wiel Coerver) dan dribblingnya yang yahud, melampaui 5 pemain Brazil sekaligus!!!
Boleh Jadi Lolos
Dan akhirnya seperti sama-sama diketahui timnas asuhan Aliandu ini tersisih dari persaingan sub-grup III-B Zona Asia Piala Dunia dari kesebelasan Korsel yang menang (home, di Seoul) 2-0 dan (away, di Jakarta) 1-4. Walaupun tidak menjamin kehadiran Ajat dan Kabo di timnas akan meloloskan Indonesia ke Piala Dunia Meksiko 1986. Tetapi setidaknya kehadiran Ajat dan Kabo akan mengubah total kemandulan sektor penyerang selama ini menjadi kekuatan dahsyat yang diharapkan mampu membongkar pertahanan Korea Selatan.
Dan pasca Pra Piala Dunia, ada kejuaraan Piala Kemerdekaan I Tahun1985, tim asuhan Aliandu (Bambang Nurdiansyah dkk dengan tim PSSI Rajawali) yang sebetulnya diberikan kemudahan di grup lunak dibanding grup keras (Ajat Sudrajat dkk dengan tim PSSI Garuda) juga babak belur dan tersisih lebih awal.
Ketika Indonesia yang nyaris lolos ke tingkat dunia karena timnas asuhan Wiel Coerver gagal di tangan Korea Utara pada drama adu penalti Pra Olimpide Montreal 1976, masyarakat masih memberikan simpati luas kepada timnas Indonesia. Tak ada caci maki sedikit pun dari masyarakat kepada pemain-pemain timnas Indonesia maupun Wiel Coerver. Namun ketika kegagalan Indonesia diulang secara lebih tragis oleh pelatih Sinyo Aliandu karena kekerasan hatinya untuk tak mau mendengar sama sekali saran mantan rekan-rekannya di timnas Indonesia dan juga masyarakat luas. Maka sumpah serapah membanjiri begitu deras media massa Indonesia kepada pelatih Sinyo Aliandu.
Inilah awal sejarah PSSI yang terus-terusan kelabu karena masalah mismanajemen. Sebuah pembelajaran yang sangat mahal akibat terlalu mengangkat kepentingan tertentu dengan mengorbankan kepentingan nasional. Sejak kejadian itu Indonesia tak diperhitungkan lagi sebagai kesebelasan yang hebat di Asia. Bahkan di Asia Tenggara saja Indonesia menduduki kasta yang rendah alias second tier di bawah Thailand, Singapura dan Vietnam!!!
Selasa, 11 Agustus 2009
Senin, 10 Agustus 2009
Menangani Mahasiswa Sebagai Bagian Proses Pendidikan. Rektor Mau?
Oleh Cardiyan HIS
Rektor-rektor PTN di Indonesia telah mengingkari sendiri model keberhasilan menangani mahasiswa melalui sebanyak mungkin proses latihan di kampus. Ada pragmatisme nyata, kampus secara sadar hanya akan dijadikan sebagai Lembaga Ujian dan bukan Lembaga Pendidikan.
Sebagian mahasiswa baru kampus-kampus di Indonesia sudah mulai menjalani kuliah. Tentu tanpa kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa (OSM). Karena OSM dinyatakan sebagai kegiatan haram di kampus oleh para Rektor nyaris di semua kampus-kampus Indonesia. Terlebih tahun lalu pada acara OSM yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB ada musibah seorang mahasiswanya meninggal karena kelelahan fisik (bukan karena ditendang dan disiksa seperti di sebuah perguruan tinggi calon pamong praja yang sangat menghebohkan itu). Sanksinya pun luar biasa. Puluhan mahasiswa kena skorsing sampai dua semester. Puluhan mahasiswa lagi harus kerja sosial yang sesuai bidang studinya yakni membuat Peta Desa pada puluhan desa di kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Puluhan alumninya yang “rindu kampus” sehingga ikut menonton acara, kena skorsing black list tak akan mendapat pelayanan ITB kalau tak minta maaf kepada Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.
Padahal sesungguhnya OSM itu sangat indah. Bukan hanya indah tetapi secara ilmiah terbukti sangat berhasil sebagai model keberhasilan menangani mahasiswa melalui sebanyak mungkin proses latihan di kampus; bagaimana kampus menangani mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan. Setidaknya bagi kami 1.000 mahasiswa ITB Angkatan Masuk 1973, yang menjadi “Kelinci Percobaan” ketika ITB ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai “Pilot Projek Pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia” pada akhir tahun 1972.
Disamping banyak terobosan yang dilakukan dalam hal Kurikulum Baru di ITB pada tahun 1973 itu seperti Program Terminal Sarjana Empat Tahun; pemberlakuan sepenuhnya penerusan Sistem Kredit Semester beserta Sistem Penilaiannya yang telah diadopsi ITB sejak tahun 1971; beberapa mata kuliah seperti Konsep Teknologi dilakukan dengan sistem Kuliah Seminar dimana mahasiswa dituntut aktif dialog di kelas; pertama kali di Indonesia ITB mengenalkan mata kuliah Ilmu Lingkungan. ITB secara resmi, secara sadar dan konsepsional mengadakan OSM I (minggu pertama masuk ITB). OSM II selama masa Matrikulasi (enam bulan) dan Tingkat Pertama Bersama atau TPB (satu tahun). OSM Jurusan ketika masuk jurusan (satu minggu) sebagai kegiatan wajib bagi mahasiswa. Dan selanjutnya ITB menganjurkan kepada para mahasiswa untuk secara sukarela aktif pada berbagai Unit Aktivitas Mahasiswa (UAM) sepanjang masih menjadi mahasiswa.
Ketika itu ITB juga diuntungkan karena memiliki dosen bergelar doktor terbanyak di Asia Tenggara (karena universiti-universiti di Singapura seperti NUS dan NTU baru meraih kemajuan pada akhir tahun 1980-an). Sementara itu di ITB sudah ada 600 mahasiswa asal Malaysia dan puluhan mahasiswa non-degree dari Thailand, Filipina dan Papua New Guinea yang sedang menempuh kuliah. Para dosen ini memiliki idealisme sangat tinggi. Mereka mayoritas pemegang gelar PhD World Class Universities di Amerika Serikat ini membawa banyak ide perubahan di kampus ITB, bahwa hanya dengan proses latihan sebanyak mungkin selama mahasiswa kuliah akan menghasilkan mahasiwa-mahasiswa yang berkarakter kuat disamping berintelegensia tinggi.
Ketika OSM II, ITB mewajibkan mahasiswanya memilih 3 (tiga) kegiatan yakni Umum, Seni dan Olahraga yang tersebar pada sedikitnya 86 UAM. Masa OSM memang adalah masa indah kemahasiswaan. Karena secara tidak langsung kita dibikin bergaul dengan sebanyak mungkin mahasiswa yang berbeda-beda kelas sejak di Matrikulasi (6 bulan) dan dikocok ulang oleh ITB agar sebagian besar mahasiswa berbeda kelas di TPB (satu tahun). Dilanjutkan lagi OSM Jurusan di jurusan masing-masing selama 2 minggu. Dan sepanjang menjadi mahasiswa aktif di 3 UAM berbeda yakni Umum, Olahraga dan Seni. Sungguh suatu masa yang paling indah. Karena proses latihan berorganisasi berlangsung begitu dinamis. Begitu pula dalam hubungan dengan lingkungan masyarakat. Kita dilatih terus menerus untuk menyadari; betapa perlunya bersosialisasi dengan masyarakat yang telah melahirkan kita, sehingga kita bisa menikmati bangku kuliah.
Mereguk Proses Latihan
Buah pertama kehidupan dinamis kemahasiswaan di ITB adalah “memberikan pelajaran
kepada Soeharto” bahwa mahasiswa ITB berhasil melakukan Pemilu Mahasiswa Pertama di Indonesia untuk memilih Ketua Dewan Mahasiswa ITB, dengan one student, one vote pada tahun 1977. Herry Akhmadi, terpilih menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB pertama dengan mekanisme Pemilu Mahasiswa langsung, jujur dan rahasia ini. Sementara di Senayan, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sejak tahun 1966 terus menerus memilih Soeharto sebagai calon tunggal Presiden Republik Indonesia.
Dewan Mahasiswa ITB mempelopori Gerakan Anti Kebodohan (GAK) secara sistematis dan konsepsional yang dituangkan dalam sebuah paper. Sehingga oleh sebuah pusat kajian di Cornell University, Amerika Serikat, yang menerbitkan sebuah buku karangan Ben Anderson tentang pledoi Herry Akhmadi pada Pengadilan Negeri Bandung, disebut dalam pengantar bukunya oleh Prof. George Kahin, sebagai pemikiran spektakuler mahasiswa ITB yang mendahului jamannya. Kalangan pendidikan dari Indonesia sendiri seperti Prof. Winarno Surachmad (IKIP Jakarta) dan Prof. Anton Muliono (UI) memang menilai konsep Gerakan Anti Kebodohan sebagai pemikiran terobosan bahwa mahasiswa ternyata tak hanya pintar teriak demonstrasi di jalan-jalan tetapi juga memiliki ide dan pemikiran mendasar dan cemerlang untuk mencerdaskan bangsanya sesuai UUD 1945. Ketika itu memang ada sedikitnya 7 juta anak Indonesia yang tak bisa sekolah hanya untuk masuk sekolah dasar (SD). Pasca pendudukan kampus ITB yang dilakukan secara kekerasan dan brutal oleh serdadu yang setia kepada Soeharto dan setelah Soeharto dinyatakan MPR sebagai calon tunggal presiden RI yang sah menjadi Presiden RI definitip. Maka rezim Soeharto menjawab Gerakan Anti Kebodohan mahasiswa ITB ini dengan adanya Wajib Belajar 6 Tahun.
Dewan Mahasiswa ITB juga mempelopori Asuransi Kesehatan Mahasiswa yang pertama kali di Indonesia bahkan di Asia pada tahun 1973 dengan membayar iuran sebesar Rp 100,-/semester. Sehingga mahasiswa tidak perlu memikirkan biaya jika terjadi musibah sakit. Dewan Mahasiswa ITB sendiri yang mencarikan 2 dokter yang standby selama 24 jam, sedangkan ITB menyediakan tempat klinik di lingkungan kampus. ITB sendiri menyiapkan dana alokasi khusus yang cukup besar ketika itu karena harus menutup segala kemungkinan atas kesehatan lebih 5.000 mahasiswanya.
UAM ITB sebanyak 86 buah antara lain Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK), Lembaga Bantuan Teknologi, Keluarga Donor Darah (KDD), Marching Band (hanya ITB dan AKABRI yang punya ketika itu), Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Unit Gitar Klasik, Lingkung Seni Sunda (LSS), Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK), unit kesenian Bali Mahagotra Ganesha, Liga Film Mahasiswa (satu-satunya bioskop kampus di Indonesia sejak tahun 1967), Radio 8EH (satu-satunya radio FM di Indonesia sejak tahun 1967) untuk menyebut di antaranya; telah menjadi mesin organisasi yang mandiri dan efektif bagi mahasiswa untuk proses latihan.
Sebagai suatu ilustrasi ada sedikitnya 5 media kampus pusat (tidak termasuk majalah himpunan mahasiswa di masing-masing jurusan) seperti majalah-majalah “Kampus”, “Elektronika”, tabloid “Integritas”, “Berita-berita ITB”, dan yang paling besar dan menonjol adalah bagaimana majalah sains dan teknologi “Scientiae ITB” (kebetulan saya menjadi Pemimpin Redaksi) pada tahun 1974-1975 bisa disegani oleh majalah umum sekelas majalah “Tempo”. Mengapa? Karena oplaag (tiras) majalah bulanan mahasiswa yang terbit secara teratur tiap bulan sejak tahun 1969 ini telah mencapai rata-rata 30.000 eksemplar/bulan! Bahkan di saat penerimaan mahasiswa baru bisa mencapai 50.000 eksemplar. Majalah “Scientiae ITB”, yang dikelola dengan hati, dengan idealisme gotong royong mahasiswa telah mampu menggaji dengan lancar sedikitnya 8 karyawan profesional non-mahasiswa ITB. Majalah ini banyak meraih iklan komersial yang kebanyakan iklan berwarna. Ada iklan yang kami peroleh dari biro iklan papan atas. Ada iklan yang kami peroleh door to door kepada para alumni ITB yang telah memegang posisi kunci di perusahaan-perusahaan industri milik negara maupun swasta. Dan ada juga “inovasi” yang kami banggakan pada tahun 1973 itu yang kemudian ditiru oleh media umum lainnya di Indonesia yakni iklan barter tiket pesawat seperti dengan Garuda Indonesia Airways (GIA) dan iklan barter kamar pada jaringan hotel bertaraf internasional. Sehingga dengan demikian kami mampu meningkatkan mutu liputan dengan mengirim langsung wartawan-wartawan mahasiswa ITB sampai ke kampus-kampus besar di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, India, Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura.
Maka tak mengherankan dari 1.000 mahasiswa ITB Angkatan 1973 pasti saling kenal baik. Kalau tak hapal lagi nama, setidaknya masih hapal wajahnya. Kekerabatan, pertemanan kita begitu kuatnya sejak tahun 1973 terus berlanjut hingga sekarang. Dengan 5 (lima) orang teman-teman yang sudah dan sedang menjabat Menteri pada kabinet era Gus Dur, era Megawati dan era SBY yakni Rizal Ramli, Alhilal Hamdi, Hatta Rajasa, Kusmayanto Kadiman dan Yusman SD. Kita bergaul sangat akrab dan egaliter. Lu-gue tetap nyaring terdengar dan begitu enaknya terdengar di telinga kami. Tanpa menyebut Bapak Menteri segala tetapi memanggil namanya saja. Tanpa basa-basi. Tanpa kepura-puraan. Mengalir begitu saja. Sungguh mengharukan. Bahkan dua orang Wakil Rektor Senior ITB sekarang yakni Prof. Adang Surahman dan Prof. Carmadi Mahbub tetap sangat akrab meskipun sudah jadi pejabat tinggi ITB. Begitu pula dengan teman-teman yang sukses sebagai wirausaha berkelas internasional.
Bagian dari Proses Pendidikan
Jadi adalah sangat mengherankan bagi saya dan teman-teman justru di jaman Reformasi ini, di jaman Demokrasi, di jaman Keterbukaan, ITB (melalui Wakil Rektor bidang Mahasiswa dan Alumni) malah mundur, tidak mentolerir OSM lagi. Menurut saya, sungguh suatu penghianatan besar bagi proses pendidikan. ITB sebagai lembaga pendidikan menutup mata atas model keberhasilan dirinya sendiri sebagai “Pilot Projek Pengembangan Pendidikan Tinggi: pada tahun 1972 yang diujicobakan kepada mahasiswa ITB angkatan masuk 1973. Model keberhasilan yang justru berlangsung di bawah rezim refresif Soeharto, eh malah di era Reformasi ini justru ditinggalkan oleh kampus-kampus di seluruh Indonesia.
Jadi dimanakah mahasiswa sekarang mereguk proses latihan? Teman-teman dosen senior ITB menginformasikan dan berkilah kepada saya, bahwa OSM yang dilakukan mahasiswa ITB belakangan ini sangat berbeda dengan OSM I dulu yang berlangsung seminggu atau maksimum 2 minggu. Sekarang berlangsung hampir sepanjang tahun dengan kegiatan antara lain baris berbaris, pakai hukuman push-up, sit-up bahkan bisa lebih keras lagi. Semua himpunan mahasiswa ada hirarkinya: Anggota Biasa dan Anggota Muda yaitu mereka yang masih yunior. Ngerinya dilakukan secara clandestine dan sembunyi-sembunyi di tengah-tengah masa sibuk kuliah.
Nah, karena hal-hal seperti itu, kata teman-teman dosen senior ITB kepada saya. Maka pola pembinaan mahasiswa diubah. Karena kondisinya sudah berbeda dengan jaman dulu. Pertama, perpeloncoan dalam bentuk apa pun tidak diizinkan karena lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya. Kedua, pembinaan mahasiswa menjadi tanggung jawab Program Studi. Tugas Program Studi adalah melaksanakan pendidikan dan membina kehidupan kemahasiswaan, tidak lagi ngurus dosen. Dosen sekarang diurus oleh Fakultas. Ketiga, kegiatan kemahasiswaan diarahkan kepada pengembangan karier, keolahragaan, kesenian, kemasyarakatan (politik juga boleh tapi bukan demonstrasi teriak-teriak di jalanan), pembinaan intelektualita, soft skills, dan sejenisnya. Keempat, mahasiswa baru tetap boleh melakukan kegiatan asal mereka tidak dijadikan "obyek" kegiatan. Dalam OSM, mahasiswa senior jadi panitia, mahasiswa baru jadi peserta. Cara melihatnya gampang kok: Jika mahasiswa baru dan mahasiswa senior sama-sama jadi peserta atau sama-sama jadi panitia. Maka akan terjadi alih pengalaman, tanpa ada yang namanya perpeloncoan.
Namun demikian saya dan juga tak sedikit teman-teman mantan aktivis maupun alumni lainnya harus mengkritik para pimpinan ITB, yang lebih melihat kegiatan mahasiswa seperti “bola panas”. Tidak ada yang mau menangani OSM secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari proses pendidikan. Kegiatan mahasiswa seolah adalah kegiatan para “tamu”, para alumni yang berkolaborasi dengan mahasiswa ITB. “Bila ITB tidak setuju, ya diusir. Bila disetujui, ya didukung. Tapi cuma segitu”. Sekali lagi, OSM tidak dijadikan secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari proses pendidikan.
Namun pada sisi lain, saya ingin mengingatkan dan harus mengkritik banyak teman-teman alumni pula, yang menginginkan the good old times back to campus. Saya ingin mengkritik banyak alumni dan pengamat kampus yang berpendapat: “Menangani mahasiswa saja, kok repot?”. Ada baiknya kita dengar pendapat pakar psikologi dunia Barbe dan Renzulli (1975), Gallagher (1975) dan Conny Semiawan (1984) yang mengatakan: “Menangani high-achiever itu sangatlah sulit. Bila salah menanganinya akan menjadi anak bermasalah”. Dan inilah agaknya yang dihadapi oleh para Pimpinan ITB dalam menangani begitu banyak high-achiever yakni para mahasiswanya sendiri. Misalnya, nyaris tiap tahun selalu saja ada puluhan mahasiswa pandai yang berbuat kriminal menjadi Phantom Writer (istilah Phantom Writer atau Penulis Hantu ini populer di universitas-universitas Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai joki seleksi masuk PTN. Hal ini menjadi pertanyaan besar yang perlu djawab sampai ke akar masalahnya. Mengapa sampai terjadi?
Oleh karena itu, terus terang saya mendambakan dosen yang ideal, yang bernama “Dosen Pelatih”. Bukan dosen wali yang hanya bertugas pada setiap awal semester pendafaran rencana studi mahasiswa, yang berbicara beberapa menit saja dengan mahasiswa dalam rentang enam bulan. Kita ingin lebih dari itu yakni dosen yang tak hanya menyatakan puas karena telah memberikan materi kuliah dengan baik di ruang kuliah. Tetapi dia juga hendaknya menjadi dosen pelatih bagi para mahasiswa dalam menjalani proses latihan di kampus. Mendengar dengan sabar aspirasi dan pendapat para mahasiswa; sewaktu-waktu berlaku seolah sebagai ayah, terkadang seolah menjadi teman mahasiswa bercengkerama. Aktivitas dosen pelatih ini semuanya dalam kerangka membentuk karakter kuat kepada para mahasiswanya.
“Tak ada waktu. Capek ngurus mahasiswa”. Mudah-mudahan kilah seperti ini bukan menjadi gambaran umum dosen-dosen di Indonesia yang secara sadar cenderung berpikir pragmatis untuk menjadikan kampus sebagai Lembaga Ujian dan bukan Lembaga Pendidikan. Selamat menjadi Dosen Pelatih.
Rektor-rektor PTN di Indonesia telah mengingkari sendiri model keberhasilan menangani mahasiswa melalui sebanyak mungkin proses latihan di kampus. Ada pragmatisme nyata, kampus secara sadar hanya akan dijadikan sebagai Lembaga Ujian dan bukan Lembaga Pendidikan.
Sebagian mahasiswa baru kampus-kampus di Indonesia sudah mulai menjalani kuliah. Tentu tanpa kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa (OSM). Karena OSM dinyatakan sebagai kegiatan haram di kampus oleh para Rektor nyaris di semua kampus-kampus Indonesia. Terlebih tahun lalu pada acara OSM yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB ada musibah seorang mahasiswanya meninggal karena kelelahan fisik (bukan karena ditendang dan disiksa seperti di sebuah perguruan tinggi calon pamong praja yang sangat menghebohkan itu). Sanksinya pun luar biasa. Puluhan mahasiswa kena skorsing sampai dua semester. Puluhan mahasiswa lagi harus kerja sosial yang sesuai bidang studinya yakni membuat Peta Desa pada puluhan desa di kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Puluhan alumninya yang “rindu kampus” sehingga ikut menonton acara, kena skorsing black list tak akan mendapat pelayanan ITB kalau tak minta maaf kepada Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.
Padahal sesungguhnya OSM itu sangat indah. Bukan hanya indah tetapi secara ilmiah terbukti sangat berhasil sebagai model keberhasilan menangani mahasiswa melalui sebanyak mungkin proses latihan di kampus; bagaimana kampus menangani mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan. Setidaknya bagi kami 1.000 mahasiswa ITB Angkatan Masuk 1973, yang menjadi “Kelinci Percobaan” ketika ITB ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai “Pilot Projek Pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia” pada akhir tahun 1972.
Disamping banyak terobosan yang dilakukan dalam hal Kurikulum Baru di ITB pada tahun 1973 itu seperti Program Terminal Sarjana Empat Tahun; pemberlakuan sepenuhnya penerusan Sistem Kredit Semester beserta Sistem Penilaiannya yang telah diadopsi ITB sejak tahun 1971; beberapa mata kuliah seperti Konsep Teknologi dilakukan dengan sistem Kuliah Seminar dimana mahasiswa dituntut aktif dialog di kelas; pertama kali di Indonesia ITB mengenalkan mata kuliah Ilmu Lingkungan. ITB secara resmi, secara sadar dan konsepsional mengadakan OSM I (minggu pertama masuk ITB). OSM II selama masa Matrikulasi (enam bulan) dan Tingkat Pertama Bersama atau TPB (satu tahun). OSM Jurusan ketika masuk jurusan (satu minggu) sebagai kegiatan wajib bagi mahasiswa. Dan selanjutnya ITB menganjurkan kepada para mahasiswa untuk secara sukarela aktif pada berbagai Unit Aktivitas Mahasiswa (UAM) sepanjang masih menjadi mahasiswa.
Ketika itu ITB juga diuntungkan karena memiliki dosen bergelar doktor terbanyak di Asia Tenggara (karena universiti-universiti di Singapura seperti NUS dan NTU baru meraih kemajuan pada akhir tahun 1980-an). Sementara itu di ITB sudah ada 600 mahasiswa asal Malaysia dan puluhan mahasiswa non-degree dari Thailand, Filipina dan Papua New Guinea yang sedang menempuh kuliah. Para dosen ini memiliki idealisme sangat tinggi. Mereka mayoritas pemegang gelar PhD World Class Universities di Amerika Serikat ini membawa banyak ide perubahan di kampus ITB, bahwa hanya dengan proses latihan sebanyak mungkin selama mahasiswa kuliah akan menghasilkan mahasiwa-mahasiswa yang berkarakter kuat disamping berintelegensia tinggi.
Ketika OSM II, ITB mewajibkan mahasiswanya memilih 3 (tiga) kegiatan yakni Umum, Seni dan Olahraga yang tersebar pada sedikitnya 86 UAM. Masa OSM memang adalah masa indah kemahasiswaan. Karena secara tidak langsung kita dibikin bergaul dengan sebanyak mungkin mahasiswa yang berbeda-beda kelas sejak di Matrikulasi (6 bulan) dan dikocok ulang oleh ITB agar sebagian besar mahasiswa berbeda kelas di TPB (satu tahun). Dilanjutkan lagi OSM Jurusan di jurusan masing-masing selama 2 minggu. Dan sepanjang menjadi mahasiswa aktif di 3 UAM berbeda yakni Umum, Olahraga dan Seni. Sungguh suatu masa yang paling indah. Karena proses latihan berorganisasi berlangsung begitu dinamis. Begitu pula dalam hubungan dengan lingkungan masyarakat. Kita dilatih terus menerus untuk menyadari; betapa perlunya bersosialisasi dengan masyarakat yang telah melahirkan kita, sehingga kita bisa menikmati bangku kuliah.
Mereguk Proses Latihan
Buah pertama kehidupan dinamis kemahasiswaan di ITB adalah “memberikan pelajaran
kepada Soeharto” bahwa mahasiswa ITB berhasil melakukan Pemilu Mahasiswa Pertama di Indonesia untuk memilih Ketua Dewan Mahasiswa ITB, dengan one student, one vote pada tahun 1977. Herry Akhmadi, terpilih menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB pertama dengan mekanisme Pemilu Mahasiswa langsung, jujur dan rahasia ini. Sementara di Senayan, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sejak tahun 1966 terus menerus memilih Soeharto sebagai calon tunggal Presiden Republik Indonesia.
Dewan Mahasiswa ITB mempelopori Gerakan Anti Kebodohan (GAK) secara sistematis dan konsepsional yang dituangkan dalam sebuah paper. Sehingga oleh sebuah pusat kajian di Cornell University, Amerika Serikat, yang menerbitkan sebuah buku karangan Ben Anderson tentang pledoi Herry Akhmadi pada Pengadilan Negeri Bandung, disebut dalam pengantar bukunya oleh Prof. George Kahin, sebagai pemikiran spektakuler mahasiswa ITB yang mendahului jamannya. Kalangan pendidikan dari Indonesia sendiri seperti Prof. Winarno Surachmad (IKIP Jakarta) dan Prof. Anton Muliono (UI) memang menilai konsep Gerakan Anti Kebodohan sebagai pemikiran terobosan bahwa mahasiswa ternyata tak hanya pintar teriak demonstrasi di jalan-jalan tetapi juga memiliki ide dan pemikiran mendasar dan cemerlang untuk mencerdaskan bangsanya sesuai UUD 1945. Ketika itu memang ada sedikitnya 7 juta anak Indonesia yang tak bisa sekolah hanya untuk masuk sekolah dasar (SD). Pasca pendudukan kampus ITB yang dilakukan secara kekerasan dan brutal oleh serdadu yang setia kepada Soeharto dan setelah Soeharto dinyatakan MPR sebagai calon tunggal presiden RI yang sah menjadi Presiden RI definitip. Maka rezim Soeharto menjawab Gerakan Anti Kebodohan mahasiswa ITB ini dengan adanya Wajib Belajar 6 Tahun.
Dewan Mahasiswa ITB juga mempelopori Asuransi Kesehatan Mahasiswa yang pertama kali di Indonesia bahkan di Asia pada tahun 1973 dengan membayar iuran sebesar Rp 100,-/semester. Sehingga mahasiswa tidak perlu memikirkan biaya jika terjadi musibah sakit. Dewan Mahasiswa ITB sendiri yang mencarikan 2 dokter yang standby selama 24 jam, sedangkan ITB menyediakan tempat klinik di lingkungan kampus. ITB sendiri menyiapkan dana alokasi khusus yang cukup besar ketika itu karena harus menutup segala kemungkinan atas kesehatan lebih 5.000 mahasiswanya.
UAM ITB sebanyak 86 buah antara lain Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK), Lembaga Bantuan Teknologi, Keluarga Donor Darah (KDD), Marching Band (hanya ITB dan AKABRI yang punya ketika itu), Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Unit Gitar Klasik, Lingkung Seni Sunda (LSS), Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK), unit kesenian Bali Mahagotra Ganesha, Liga Film Mahasiswa (satu-satunya bioskop kampus di Indonesia sejak tahun 1967), Radio 8EH (satu-satunya radio FM di Indonesia sejak tahun 1967) untuk menyebut di antaranya; telah menjadi mesin organisasi yang mandiri dan efektif bagi mahasiswa untuk proses latihan.
Sebagai suatu ilustrasi ada sedikitnya 5 media kampus pusat (tidak termasuk majalah himpunan mahasiswa di masing-masing jurusan) seperti majalah-majalah “Kampus”, “Elektronika”, tabloid “Integritas”, “Berita-berita ITB”, dan yang paling besar dan menonjol adalah bagaimana majalah sains dan teknologi “Scientiae ITB” (kebetulan saya menjadi Pemimpin Redaksi) pada tahun 1974-1975 bisa disegani oleh majalah umum sekelas majalah “Tempo”. Mengapa? Karena oplaag (tiras) majalah bulanan mahasiswa yang terbit secara teratur tiap bulan sejak tahun 1969 ini telah mencapai rata-rata 30.000 eksemplar/bulan! Bahkan di saat penerimaan mahasiswa baru bisa mencapai 50.000 eksemplar. Majalah “Scientiae ITB”, yang dikelola dengan hati, dengan idealisme gotong royong mahasiswa telah mampu menggaji dengan lancar sedikitnya 8 karyawan profesional non-mahasiswa ITB. Majalah ini banyak meraih iklan komersial yang kebanyakan iklan berwarna. Ada iklan yang kami peroleh dari biro iklan papan atas. Ada iklan yang kami peroleh door to door kepada para alumni ITB yang telah memegang posisi kunci di perusahaan-perusahaan industri milik negara maupun swasta. Dan ada juga “inovasi” yang kami banggakan pada tahun 1973 itu yang kemudian ditiru oleh media umum lainnya di Indonesia yakni iklan barter tiket pesawat seperti dengan Garuda Indonesia Airways (GIA) dan iklan barter kamar pada jaringan hotel bertaraf internasional. Sehingga dengan demikian kami mampu meningkatkan mutu liputan dengan mengirim langsung wartawan-wartawan mahasiswa ITB sampai ke kampus-kampus besar di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, India, Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura.
Maka tak mengherankan dari 1.000 mahasiswa ITB Angkatan 1973 pasti saling kenal baik. Kalau tak hapal lagi nama, setidaknya masih hapal wajahnya. Kekerabatan, pertemanan kita begitu kuatnya sejak tahun 1973 terus berlanjut hingga sekarang. Dengan 5 (lima) orang teman-teman yang sudah dan sedang menjabat Menteri pada kabinet era Gus Dur, era Megawati dan era SBY yakni Rizal Ramli, Alhilal Hamdi, Hatta Rajasa, Kusmayanto Kadiman dan Yusman SD. Kita bergaul sangat akrab dan egaliter. Lu-gue tetap nyaring terdengar dan begitu enaknya terdengar di telinga kami. Tanpa menyebut Bapak Menteri segala tetapi memanggil namanya saja. Tanpa basa-basi. Tanpa kepura-puraan. Mengalir begitu saja. Sungguh mengharukan. Bahkan dua orang Wakil Rektor Senior ITB sekarang yakni Prof. Adang Surahman dan Prof. Carmadi Mahbub tetap sangat akrab meskipun sudah jadi pejabat tinggi ITB. Begitu pula dengan teman-teman yang sukses sebagai wirausaha berkelas internasional.
Bagian dari Proses Pendidikan
Jadi adalah sangat mengherankan bagi saya dan teman-teman justru di jaman Reformasi ini, di jaman Demokrasi, di jaman Keterbukaan, ITB (melalui Wakil Rektor bidang Mahasiswa dan Alumni) malah mundur, tidak mentolerir OSM lagi. Menurut saya, sungguh suatu penghianatan besar bagi proses pendidikan. ITB sebagai lembaga pendidikan menutup mata atas model keberhasilan dirinya sendiri sebagai “Pilot Projek Pengembangan Pendidikan Tinggi: pada tahun 1972 yang diujicobakan kepada mahasiswa ITB angkatan masuk 1973. Model keberhasilan yang justru berlangsung di bawah rezim refresif Soeharto, eh malah di era Reformasi ini justru ditinggalkan oleh kampus-kampus di seluruh Indonesia.
Jadi dimanakah mahasiswa sekarang mereguk proses latihan? Teman-teman dosen senior ITB menginformasikan dan berkilah kepada saya, bahwa OSM yang dilakukan mahasiswa ITB belakangan ini sangat berbeda dengan OSM I dulu yang berlangsung seminggu atau maksimum 2 minggu. Sekarang berlangsung hampir sepanjang tahun dengan kegiatan antara lain baris berbaris, pakai hukuman push-up, sit-up bahkan bisa lebih keras lagi. Semua himpunan mahasiswa ada hirarkinya: Anggota Biasa dan Anggota Muda yaitu mereka yang masih yunior. Ngerinya dilakukan secara clandestine dan sembunyi-sembunyi di tengah-tengah masa sibuk kuliah.
Nah, karena hal-hal seperti itu, kata teman-teman dosen senior ITB kepada saya. Maka pola pembinaan mahasiswa diubah. Karena kondisinya sudah berbeda dengan jaman dulu. Pertama, perpeloncoan dalam bentuk apa pun tidak diizinkan karena lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya. Kedua, pembinaan mahasiswa menjadi tanggung jawab Program Studi. Tugas Program Studi adalah melaksanakan pendidikan dan membina kehidupan kemahasiswaan, tidak lagi ngurus dosen. Dosen sekarang diurus oleh Fakultas. Ketiga, kegiatan kemahasiswaan diarahkan kepada pengembangan karier, keolahragaan, kesenian, kemasyarakatan (politik juga boleh tapi bukan demonstrasi teriak-teriak di jalanan), pembinaan intelektualita, soft skills, dan sejenisnya. Keempat, mahasiswa baru tetap boleh melakukan kegiatan asal mereka tidak dijadikan "obyek" kegiatan. Dalam OSM, mahasiswa senior jadi panitia, mahasiswa baru jadi peserta. Cara melihatnya gampang kok: Jika mahasiswa baru dan mahasiswa senior sama-sama jadi peserta atau sama-sama jadi panitia. Maka akan terjadi alih pengalaman, tanpa ada yang namanya perpeloncoan.
Namun demikian saya dan juga tak sedikit teman-teman mantan aktivis maupun alumni lainnya harus mengkritik para pimpinan ITB, yang lebih melihat kegiatan mahasiswa seperti “bola panas”. Tidak ada yang mau menangani OSM secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari proses pendidikan. Kegiatan mahasiswa seolah adalah kegiatan para “tamu”, para alumni yang berkolaborasi dengan mahasiswa ITB. “Bila ITB tidak setuju, ya diusir. Bila disetujui, ya didukung. Tapi cuma segitu”. Sekali lagi, OSM tidak dijadikan secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari proses pendidikan.
Namun pada sisi lain, saya ingin mengingatkan dan harus mengkritik banyak teman-teman alumni pula, yang menginginkan the good old times back to campus. Saya ingin mengkritik banyak alumni dan pengamat kampus yang berpendapat: “Menangani mahasiswa saja, kok repot?”. Ada baiknya kita dengar pendapat pakar psikologi dunia Barbe dan Renzulli (1975), Gallagher (1975) dan Conny Semiawan (1984) yang mengatakan: “Menangani high-achiever itu sangatlah sulit. Bila salah menanganinya akan menjadi anak bermasalah”. Dan inilah agaknya yang dihadapi oleh para Pimpinan ITB dalam menangani begitu banyak high-achiever yakni para mahasiswanya sendiri. Misalnya, nyaris tiap tahun selalu saja ada puluhan mahasiswa pandai yang berbuat kriminal menjadi Phantom Writer (istilah Phantom Writer atau Penulis Hantu ini populer di universitas-universitas Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai joki seleksi masuk PTN. Hal ini menjadi pertanyaan besar yang perlu djawab sampai ke akar masalahnya. Mengapa sampai terjadi?
Oleh karena itu, terus terang saya mendambakan dosen yang ideal, yang bernama “Dosen Pelatih”. Bukan dosen wali yang hanya bertugas pada setiap awal semester pendafaran rencana studi mahasiswa, yang berbicara beberapa menit saja dengan mahasiswa dalam rentang enam bulan. Kita ingin lebih dari itu yakni dosen yang tak hanya menyatakan puas karena telah memberikan materi kuliah dengan baik di ruang kuliah. Tetapi dia juga hendaknya menjadi dosen pelatih bagi para mahasiswa dalam menjalani proses latihan di kampus. Mendengar dengan sabar aspirasi dan pendapat para mahasiswa; sewaktu-waktu berlaku seolah sebagai ayah, terkadang seolah menjadi teman mahasiswa bercengkerama. Aktivitas dosen pelatih ini semuanya dalam kerangka membentuk karakter kuat kepada para mahasiswanya.
“Tak ada waktu. Capek ngurus mahasiswa”. Mudah-mudahan kilah seperti ini bukan menjadi gambaran umum dosen-dosen di Indonesia yang secara sadar cenderung berpikir pragmatis untuk menjadikan kampus sebagai Lembaga Ujian dan bukan Lembaga Pendidikan. Selamat menjadi Dosen Pelatih.
Label:
Cardiyan HIS,
Lembaga Pendidikan,
Lembaga Ujian,
Mahasiswa,
Rektor
Sabtu, 01 Agustus 2009
Adjat Sudradjat atawa Robby Darwis Ikon Sajati Persib teh?

Oleh Boboko (Bobotoh Kolot)
Sambil belajar bahasa Sunda kembali, sambil mengingat kenangan indah kota Bandung. Berikut tulisan dari yang mengaku Boboko (Bobotoh Kolot) yang sangat lucu dalam memilih siapa ikon Persib yang pantas versi Boboko. Sedikit Akang edit untuk penyesuaian penyajian tanpa mengubah substansinya.
Rumasa, kuring téh kuduna geus kaasup sabagé anggota rombongan Boboko (bobotoh kolot). Barina gé ku teu pati akrab-akrab teuing ka kumaha bungkeuleukanna Persib jaman kiwari mah. Geus lila teuing ngumbara jauh ti lembur. Atuh keur ngubaran kasono ka si "Pangeran Biru" euweuh deui ari lain tina mukaan kaca-kaca internét mah.
Nu pangmindengna mah mukaan wébsait PR (www.pikiran-rakyat.com) atawa kadieunakeun mah wébsait Komunitas Bobotoh Sa-Alam Dunya (www.persib-bandung.or.id) jeung Jurnal Persib. Bobotoh jaman ayeuna mah bagéa, meni bisa talertib-katalatur siga aya nu ngomandoan waé (hehehe... enya kétah, pan ayeuna mah geus aya "panglima"na sagala, panglima Viking Ayi Beutik). Baréto mah nya kitu wé lah, bobotoh téh teu dikomandoan gé daratang ti suklakna ti siklukna ari si Pangeran keur tandang ka Senayan mah. Teu weléh ti sakuliah Jawa Barat, lain ngan anu ti Bandung wungkul. Apan Persib téh geus jadi jatidiri keur nu ngarasa sabagé urang Sunda mah.
Kunaon maké dilandi "si Pangeran Biru" ? Atuh puguh da kostimna pan pulas bulao. Jaman perserikatan mah asana téh euweuh deui kasawelasan punjul anu kostimna bulao salian ti Persib.
Naha Pangeran ? Nya puguh, da pantes. Pan barudak lalaki anu maéngbalna. Oooh... éta téh kutan kulantaran ari keur tandang, para suporter teu burung disuguhan ku "permainan cantik nan mematikan" ála Persib. Pantes pisan atuh dilandi Pangeran Biru mah da ari keur di lapangan mah pamaén Persib teh meni pada mangrupakeun "kijang kencana".
Ari jaman makalanganna anu kaalaman langsung ku kuring mah nyéta basa Persib ngaraja dina lalaga pamaéngbalan nasional taun-tahun:
Tahun 1983-1985 : Skor 0-0 & 2-2 vs PSMS Medan; éléh adu pinalti duanana. Coba mun euweuh Ponirin Mekka mah, da pastina pan lebeng lawang gul tim ti Medan téh, da euweuh kiperan! Jaba pan si Nomer 10 (Adjat Sudradjat) téh keur kinclong-kinclongna!
Tahun 1986 : Skor 1 - 0 vs Perseman Manokwari; jaman si Adolf "Mutiara Hitam" Kabo, anu pernah api-api éléh 6 - 0, ku saha nya, poho! (Persebaya, jaman “Sepakbola Gajah” tea, Kang Boboko)
Tahun 1990 : Skor 2 - 0 vs Persebaya; si Putu Yasa maju teuing ka hareup, bék Persebaya Subangkit ngoper tarik teuing atuh jadi gul bunuh diri. Terus babak kadua Kang Dede Rosadi noél bal ku dampal suku kénca anu dilipet di tukangeun nu katuhu, ngagulkeun nu kadua.
Tapi anu istiméwa ogé, dina semipinal (3 - 0 vs PSM Ujungpandang), gul nu kadua. Bal dioper ti sayap katuhu, si nomer 6 (Robby Darwis) maju ka hareup terus megat muntah balna anu masih kénéh ngapung di udara. Disipat ku tungtung luar suku katuhu. Jelebeeet... Gul!!!! Halaaah..
Kang Robby éta gul téh pangsaé-saéna anu kapanonan sorangan ku abdi! Jeung éta deuih, kuduna kiper urang téh pada wanian siga Kang Samai S. Basa bek Kang Ade Mulyono aya musuh nu némprang tarik pisan, Kang Ade ogé nepi ka gugulitikan, beretek Kang Samai lumpat sataker kebek ti daérah gawang, aya kana satengah lapangna mah. Éta pamaén tim lawan anu jail téa diudag nepi ka kabur tipaparétot ka sisi lapang, LoL!
Tahun 1993 : Skor 2 - 0 vs PSM Ujung Pandang; jadi jawara dina lalaga sepakbola perserikatan anu pamungkas)
Tahun 1994: Skor (1 - 0 vs Petrokimia Putra; jadi jawara "Ligina" édisi kahiji). Si sayahna geus kaburu ngalalana jauh ti lembur, teu bisa miluan nempo jeung ngarayakeun.. halah... keun baé dibedag ku dana telepon anu mahal gé teu nanaon, nu penting inpo ti Bapa jeung Adi nu lalaki cukup ngabagéakeun!)
Tah nepi ka ayeuna can aya deui catetan préstasi anu cukup nyugemakeun. Kalahka wé cenah téréh dégradasi... beu!...
Sigana kuduna mah nya, sacara mistis, sayah kudu balik jeung cicing di lembur deui euy, ambéh Persib unggul deui.. hahahah...
Ngadu Bako
Ieu mah urang ngadu bako wé lah, saha diantara anu dua, Kang Adjat Sudradjat atawa Kang Robby Darwis, anu cocog dijadikeun ikon sajati Persib ti jaman baheula nepi ka ayeuna. Atawa aya ngaran séjén?
Nu pasti mah, Kang Adjat leuwih motékar jaman taun 1980an. Sanajan jarang dipaké ku timnas (konspirasi heuy!!!), ari keur béla Persib mah asa nempo Maradona keur béla Argentina. Teu burung bébéakan.
Sabagé pamaén tengah-hareup, anjeunna pangwujudan pamaén serang modéren saperti Platini, Maradona atawa Zidane. Téknik mawa bal jeung gigilekan bari bal téh napel pageuh kana suku, anu jadi kaistiméwaanna. Gul-gul bisa ngajadi boh tina sépakan (anu kénca nu leuwih hadé) atawa meunang ngahéden.
Pokona mah gaya méngbal Kang Adjat mah titingalieun anu matak kukurayeun. (Aya béja cenah patung pamaén bola anu di jalan Tamblong téh mangrupakeun tribut kanggé kang Adjat).
Terus datang wéh téh Hetty Koes Endang. Duka wé ti dinya mah da rada nutug wé prestasi Kang Adjat téh. Mangka anjeunna téh perenah maké pindah ka Bandung Raya FC sagala. Ieu ogé anu matak loyalitas anjeunna loba nu mertanyakeun. Kuring mah henteu pipiluan, da angger keur kuring mah anjeunna sosok anu paling mucunghul lamun keur ngomongkeun Persib mah. Ayeuna anjeunna.... dimana nya? Rarasaan mah kakara kamari maca tentang Kang Adjat di hiji blog. Ké urang téangan heula geura inpona (Kang Adjat teh ayeuna mah jadi karyawan Bank Jabar Banten, Kantor Pusat di jalan Braga tea, Kang Boboko!).
Ari Kang Robby mah sanajan babarengan ti anggangna, tapi terus moncér nepi ka asup dasawarsa 1990an. Ngalaman ogé jadi "Pemain Terbaik" sa-Indonesia. Keun ka dibeuli ku Kelantan FC ti Liga Malaysia, ngan hanjakal meunang maén ngan sakali wungkul terus dikartu merah (Konspirasi Malayu buruk eta mah... heuy!!! Nepi ka Robby teu bisa maen di SEA Games, Kuala Lumpur). Kang Robby ogé terus-terusan nempatan posisi stopper/bék di tim nasional jaman pertengahan1980an nepi 1990an (Sempet mawa timnas Indonesia jadi juara kaopat Asian Games di Seoul, Korsel, tahun 1986, Kang Boboko!).
Nepi ka panungtungan sabagé pamaén, anjeunna nutup karir di Persib (Nu di Kelantan mah urang pohokeun wé!). Ku kituna mah anjeunna téh bisa disaruakeun jeung bék lèhendaris ti Arsenal London, Tony Adams. Ayeuna ogé masih aktip kétang, teu jauh-jauh, jadi salah sahiji asisten Arcan Iurie di Persib. Sugan hiji poé mah jadi pelatih penuh, nya Kang?
Persib jaman baréto ogé apan lain ngan duaan ieu wungkul, pan aya ogé pamaén-pamaén lehendaris séjénna saperti Kang Adeng Hudaya (si Kapten), Kang Sobur (si Leugeut Teureup, ceuk majalah basa Sunda “Manglé”), Kang Yoesoef Bachtiar (si Jendral), Kang Uut Kuswendi (Pamaén sayap kanan lokal pangalusna anu pernah kasaksian ku sayah), Kang Sutiono Lamso (si penyerang sejati, ceuk tabloid “Bola”), Kang Wawan Karnawan (si Beton, urang Panjalu, Ciamis), Kang Iwan Sunarya, Kang Sukowiyono (urang Solo nu satia ka Persib), Kang Nyanyang, Kang Kekey Zakaria, Kang Dede Iskandar, Kang Ade Mulyono, Kang Dadang Kurnia, Kang Nandang Kurnaedi, Kang Boyke Adam, Kang Anwar Sanusi, jst.. Tapi keur sayah pribadi, anu pangpunjulna mah ngan dua ngaran di luhur.
Ari dititah milih, komo ari bari dipaksa mah, pilihan sayah mah ka Kang Adjat baé ah. Wajar wé, da sabagé pamaén serang, anjeunna leuwih sering jadi selebritis di lapang, komo basa karék ngagulkeun mah. Pamaén serang téa bakal leuwih kapilem.
Ti jaman keur leutik kénéh mindset kuring gé geus kasetél yén tukang maéngbal pangalus-alusna sadunya téh kahijina Maradona, nu kaduana Kang Adjat.
Tapi Kang Robby ogé salilana jadi pamaén idola keur sayah mah. Komo pernah ngobrol sautak-saeutik basa anjeunna keur tugas jeung PLN ka sakola SMA sayah di wewengkon Cigéréléng, Bandung Selatan. Asa teu percaya, tapi da bener éta téh Kang Robby Darwis anu rekaman gulna ka gawang PSM Ujungpandang langsung dipaké foreshadowing keur acara "Arena dan Juara" dina TVRI bareto.
Hahahah... waas euy jaman keur ngora.
Diadaptasi dari: www.madsundanese.multiply.com
Label:
Adjat Sudradjat,
Cardiyan HIS,
Ikon,
Persib,
Robby Darwis
Kamis, 30 Juli 2009
ITB dan UGM Tetap Nomor 1 di SNMPTN 2009
Oleh Cardiyan HIS
ITB dan UGM tetap memegang rekor pencapaian Nilai Rata-rata Tertinggi untuk kelompok IPA dan IPS pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009. ITB bahkan rekornya untuk kelompok IPA belum pernah tumbang sejak tahun 1989 ketika masih bernama UMPTN.
Jumlah peserta SNMPTN 2009 yang diikuti 57 PTN, naik 9,04% dibanding tahun lalu yakni 422.534 orang. “Dari jumlah tersebut, peserta yang mengembalikan formulir 412.534 orang dan peserta yang mengikuti ujian sebanyak 359.751 orang,” kata Ketua Umum Panitia SNMPTN 2009, Haris Supratno, kepada para wartawan.
Meski hasil SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2009 akan diumumkan serentak pada 1 Agustus 2009 jam 00.00. Namun Nilai Rata-rata Tertinggi calon mahasiswa yang diterima di kelompok IPA dan IPS telah diumumkan oleh Ketua Umum Panitia Ketua Umum Panitia SNMPTN 2009.
Inilah hasil Nilai Rata-rata Tertinggi 5 Besar PTN sbb:
Kelompok IPA
1. ITB, Bandung (92,54)
2. UGM, Yogyakarta (88,88)
3. UI, Depok (87,11)
4. ITS, Surabaya (83,55)
5. Unair, Surabaya ( 83,89)
Kelompok IPS
1. UGM, Yogyakarta (88,42)
2. UI, Depok (85,97)
3. Unair, Surabaya (83,89)
4. UNS, Solo (79,89)
5. Unbraw, Malang (78,35)
Bagi ITB ini merupakan rekor yang belum terpecahkan oleh PTN manapun untuk pencapaian nilai Kelompok IPA sejak tahun 1989 ketika masih bernama Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) kemudian berganti-ganti nama -----antara lain terakhir SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) sejak 2002, sebelum berganti nama SNMPTN sejak tahun 2008 hingga SNMPTN 2009 sekarang ini. Sedangkan bagi UGM, ini pencapaian tiga tahun berturut-turut Nilai Rata-rata Tertinggi untuk kelompok IPS. Biasanya UGM saling bergantian bersaing dengan UI untuk menjadi nomor 1 di kelompok IPS ini.
Selamat datang calon mahasiswa baru di kampus yang kamu cita-citakan. Selamat bergabung di “Klub Kampus yang dicita-citakan”. Tapi ingat-ingat pesan Mama; “Kalau sudah pintar, jangan sekali-kali terpikir menjadi JOKI di SNMPTN 2010 mendatang, yaahh!”.
ITB dan UGM tetap memegang rekor pencapaian Nilai Rata-rata Tertinggi untuk kelompok IPA dan IPS pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009. ITB bahkan rekornya untuk kelompok IPA belum pernah tumbang sejak tahun 1989 ketika masih bernama UMPTN.
Jumlah peserta SNMPTN 2009 yang diikuti 57 PTN, naik 9,04% dibanding tahun lalu yakni 422.534 orang. “Dari jumlah tersebut, peserta yang mengembalikan formulir 412.534 orang dan peserta yang mengikuti ujian sebanyak 359.751 orang,” kata Ketua Umum Panitia SNMPTN 2009, Haris Supratno, kepada para wartawan.
Meski hasil SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2009 akan diumumkan serentak pada 1 Agustus 2009 jam 00.00. Namun Nilai Rata-rata Tertinggi calon mahasiswa yang diterima di kelompok IPA dan IPS telah diumumkan oleh Ketua Umum Panitia Ketua Umum Panitia SNMPTN 2009.
Inilah hasil Nilai Rata-rata Tertinggi 5 Besar PTN sbb:
Kelompok IPA
1. ITB, Bandung (92,54)
2. UGM, Yogyakarta (88,88)
3. UI, Depok (87,11)
4. ITS, Surabaya (83,55)
5. Unair, Surabaya ( 83,89)
Kelompok IPS
1. UGM, Yogyakarta (88,42)
2. UI, Depok (85,97)
3. Unair, Surabaya (83,89)
4. UNS, Solo (79,89)
5. Unbraw, Malang (78,35)
Bagi ITB ini merupakan rekor yang belum terpecahkan oleh PTN manapun untuk pencapaian nilai Kelompok IPA sejak tahun 1989 ketika masih bernama Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) kemudian berganti-ganti nama -----antara lain terakhir SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) sejak 2002, sebelum berganti nama SNMPTN sejak tahun 2008 hingga SNMPTN 2009 sekarang ini. Sedangkan bagi UGM, ini pencapaian tiga tahun berturut-turut Nilai Rata-rata Tertinggi untuk kelompok IPS. Biasanya UGM saling bergantian bersaing dengan UI untuk menjadi nomor 1 di kelompok IPS ini.
Selamat datang calon mahasiswa baru di kampus yang kamu cita-citakan. Selamat bergabung di “Klub Kampus yang dicita-citakan”. Tapi ingat-ingat pesan Mama; “Kalau sudah pintar, jangan sekali-kali terpikir menjadi JOKI di SNMPTN 2010 mendatang, yaahh!”.
Selamat Datang Nilai AB, BC Dosen ITB
Oleh Cardiyan HIS
Apakah Dosen ITB yang Bijak ataukah Dosen ITB yang Kejam akan coba disiasati ITB dengan sistem penilaian ini. Satu-satunya siasat mahasiswa adalah belajar lebih keras lagi. Maklum standar nilai masih ditetapkan oleh dosen ITB sendiri secara personal.
Ada yang sangat menarik dari acara “Penyegaran Dosen ITB 2008” pada 29 Agustus 2008. Apa yang disampaikan oleh Prof. Ir. Adang Surahman, Ph.D, Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB pada acara tersebut adalah pengakuan fakta yang sangat ironis seperti yang ramai diungkapkan pada mailist IA ITB baru-baru ini dengan tajuk “ITB yang Bijak ataukah ITB yang Kejam”.
Statistik Seleksi Masuk Mahasiswa Baru secara Nasional sejak 1977 sampai 2008, selalu menempatkan ITB sebagai PTN di Indonesia dengan standar Nilai Masuk (passing grade) paling tinggi; Nilai Rataan tertinggi dan Nilai Maksimal tertinggi (bahkan bila ditelusuri lagi mahasiswa baru ITB adalah pemilik Nilai Rataan tertinggi Nilai Ebtanas Murni/NEM Sekolah Menengah Umum; nilai maksimal NEM SMU). Mahasiswa baru yang diterima di ITB adalah 80% berada pada ranking 1-2500 dan 20% berada pada ranking 2501-12.500, dari rata-rata 250.000 peserta seleksi masuk mahasiswa secara nasional bidang IPA.
Pokoknya mahasiswa yang masuk ITB itu hebring-lah. Namun pada kenyataannya (antara lain pengalaman dan pengamatan Betti Alisyahbana ketika masih menjadi Presiden IBM Indonesia), di dunia kerja, seringkali lulusan ITB bahkan tidak masuk hitungan dalam seleksi administratif karena tersandung permasalahan Indeks Prestasi (IP) yang kecil, jika dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri atau swasta lainnya. Jadi hanya sedikit saja pelamar alumni ITB yang masuk short list para recruiter. Hal ini tentu sangat merugikan lulusan ITB khususnya yang mau meniti karier di dunia PNS atau juga pegawai swasta nasional.
Prof. Adang Surahman sendiri mengakui berdasar berbagai kuesioner dan penelitian yang dilakukan Wakil Rektor Bidang Akademis ITB sangatlah sulit untuk mendapatkan nilai A pada sebuah dan apalagi pada banyak matakuliah di ITB. (Saya secara acak sudah “mensurvey” pada Program Studi di ITB bahwa untuk mendapatkan Nilai Huruf A itu mahasiswa harus mendapatkan Nilai Angka ujiannya 95-100). Wakil Rektor Senior Bidang Akademik mendapatkan sebuah fakta bahwa kebanyakan nilai mahasiswa ITB kurang ditentukan oleh kualitas dosen atau proses pembelajaran mahasiswa, tetapi oleh standar yang ditetapkan oleh dosen sendiri yang sangat personal. Disinilah terkuak betapa ITB sendiri tak berdaya atas “kekuasaan” masing-masing dosen ITB. Karena itu sudah menyangkut otoritas dosen ITB masing-masing, maka Rektor ITB sekalipun sebagai “bos” dosen-dosen seluruh ITB, tak bisa “intervensi” agar dosen-dosen mengubah kebijakan penilaian terhadap berkas para mahasiswanya menjadi “lebih bijaksana”.
Maka berdasarkan “keukeuhnya” (ngotot) para personal dosen ITB yang hendaknya tetap dihargai, mulai kurikulum baru 2008 ini, pihak ITB “mensiasatinya” dengan menerapkan sebuah sistem penilaian yang baru. Yaitu selain ada nilai A (4), B (3), C (2), D (1), dan E (0, tak lulus), akan ada nilai AB, dan BC. Dengan adanya nilai antara tersebut, diharapkan dosen dapat “lebih bijak” dalam memberikan penilaian. Sehingga menurut Prof. Adang, nilai-nilai mahasiswa yang "menyerempet", dalam hal ini contohnya "B gemuk", dapat dikelompokkan menjadi AB. Bagaimana dengan perhitungan IP? Tidak ada masalah signifikan, mengingat nilai AB adalah setara dengan 3.5, dan BC setara 2.5. Sistem penilaian baru ini akan mulai diterapkan di semester ini, dan berlaku bagi seluruh mahasiswa seluruh angkatan di ITB.
Nah, karena akan mulai diterapkan segera di semester ini, maka mahasiswa ITB hendaknya menyambutnya dengan sedikit gembira. Jahkan dari prasangka dosen ITB itu “kejam” bin ”killer” dsb. Belajar itu harus penuh dengan kegembiraan. Bangga diterima di ITB itu harus diimbangi dengan belajar lebih keras tetapi dalam suasana gembira, jauh dari suasana yang terbebani.
Oleh karena itu, para mahasiswa ITB juga hendaknya juga aktif bersosialisasi dalam kehidupan kampus sebagai proses latihan meraih softskill. Karena disinilah kelemahan umumnya mahasiswa ITB. Nilai IP tinggi itu bagus untuk diraih tetapi belum cukup bila tak memiliki tambahan softskill. Dan itu telah dibuktikan oleh softskill kakak-kakak alumni ITB yang sukses dalam kariernya, baik sebagai “tukang insinyur”, ilmuwan kelas dunia, wirausaha sukses maupun alumni yang telah menjadi Presiden RI dan Perdana Menteri RI (kalau Menteri-menteri alumni ITB sejak republik ini berdiri sudah nggak kehitung lagi sampai lupa namanya kecuali 5 menteri-alumni ITB angkatan saya, angkatan 1973 he he he ....!)
Sebaliknya, kepada para dosen ITB yang telah “disegarkan” oleh Wakil Rektor Senior ITB Prof. Ir. Adang Surahman, PhD -----Seangkatan dengan saya, tetapi saya di Departemen Teknik Geodesi. Di Departemen Sipil ITB, Kang Adang ini nomor pokok mahasiswanya 8173002 artinya ranking dua dari 120 mahasiswa Sipil ITB 1973. Waktu itu belum ada jurusan Informatika, yang paling top ya Sipil disusul Elektro !!!------ kita berharap otoritas yang dimiliki tidak “disalahgunakan” sebagai “kekuasaan mutlak”.
Dosen-dosen ITB juga harus mengevaluasi diri dalam proses belajar mengajarnya. Apakah cara penyampaian kuliahnya sudah komunikatif sehingga mudah diserap oleh mahasiswanya atau sebaliknya hanya pinter untuk diri sendiri. Apakah dosen-dosen senior ITB telah konsisten mengajar secara langsung dan tidak mewakilkan kepada para asistennya? Apakah ITB juga telah menyediakan sarana dan prasarana bagi 1.025 dosen (800 di antaranya bergelar doktor), misalnya dengan ruangan dosen yang memadai lengkap dengan koleksi buku-buku mutakhir. Karena penulis menemukan banyak fakta kalau profesor doktor ITB yang berkelas dunia pun ruangannya sangat sempit. Lalu bagaimana dengan ratusan doktor-doktor muda ITB pasti ruangannya akan lebih sempit lagi atau jangan-jangan ada yang tak memiliki meja kerja ....?
Selamat ujian bagi para mahasiswa ITB dan selamat menilai bagi para dosen ITB yang bijak. And last but not least kepada para alumni (apalagi yang punya anak, mahasiswa ITB he he he ...!) seperti biasa, selamat mengkritisi jalannya penilaian oleh para dosen ITB.
Apakah Dosen ITB yang Bijak ataukah Dosen ITB yang Kejam akan coba disiasati ITB dengan sistem penilaian ini. Satu-satunya siasat mahasiswa adalah belajar lebih keras lagi. Maklum standar nilai masih ditetapkan oleh dosen ITB sendiri secara personal.
Ada yang sangat menarik dari acara “Penyegaran Dosen ITB 2008” pada 29 Agustus 2008. Apa yang disampaikan oleh Prof. Ir. Adang Surahman, Ph.D, Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB pada acara tersebut adalah pengakuan fakta yang sangat ironis seperti yang ramai diungkapkan pada mailist IA ITB baru-baru ini dengan tajuk “ITB yang Bijak ataukah ITB yang Kejam”.
Statistik Seleksi Masuk Mahasiswa Baru secara Nasional sejak 1977 sampai 2008, selalu menempatkan ITB sebagai PTN di Indonesia dengan standar Nilai Masuk (passing grade) paling tinggi; Nilai Rataan tertinggi dan Nilai Maksimal tertinggi (bahkan bila ditelusuri lagi mahasiswa baru ITB adalah pemilik Nilai Rataan tertinggi Nilai Ebtanas Murni/NEM Sekolah Menengah Umum; nilai maksimal NEM SMU). Mahasiswa baru yang diterima di ITB adalah 80% berada pada ranking 1-2500 dan 20% berada pada ranking 2501-12.500, dari rata-rata 250.000 peserta seleksi masuk mahasiswa secara nasional bidang IPA.
Pokoknya mahasiswa yang masuk ITB itu hebring-lah. Namun pada kenyataannya (antara lain pengalaman dan pengamatan Betti Alisyahbana ketika masih menjadi Presiden IBM Indonesia), di dunia kerja, seringkali lulusan ITB bahkan tidak masuk hitungan dalam seleksi administratif karena tersandung permasalahan Indeks Prestasi (IP) yang kecil, jika dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri atau swasta lainnya. Jadi hanya sedikit saja pelamar alumni ITB yang masuk short list para recruiter. Hal ini tentu sangat merugikan lulusan ITB khususnya yang mau meniti karier di dunia PNS atau juga pegawai swasta nasional.
Prof. Adang Surahman sendiri mengakui berdasar berbagai kuesioner dan penelitian yang dilakukan Wakil Rektor Bidang Akademis ITB sangatlah sulit untuk mendapatkan nilai A pada sebuah dan apalagi pada banyak matakuliah di ITB. (Saya secara acak sudah “mensurvey” pada Program Studi di ITB bahwa untuk mendapatkan Nilai Huruf A itu mahasiswa harus mendapatkan Nilai Angka ujiannya 95-100). Wakil Rektor Senior Bidang Akademik mendapatkan sebuah fakta bahwa kebanyakan nilai mahasiswa ITB kurang ditentukan oleh kualitas dosen atau proses pembelajaran mahasiswa, tetapi oleh standar yang ditetapkan oleh dosen sendiri yang sangat personal. Disinilah terkuak betapa ITB sendiri tak berdaya atas “kekuasaan” masing-masing dosen ITB. Karena itu sudah menyangkut otoritas dosen ITB masing-masing, maka Rektor ITB sekalipun sebagai “bos” dosen-dosen seluruh ITB, tak bisa “intervensi” agar dosen-dosen mengubah kebijakan penilaian terhadap berkas para mahasiswanya menjadi “lebih bijaksana”.
Maka berdasarkan “keukeuhnya” (ngotot) para personal dosen ITB yang hendaknya tetap dihargai, mulai kurikulum baru 2008 ini, pihak ITB “mensiasatinya” dengan menerapkan sebuah sistem penilaian yang baru. Yaitu selain ada nilai A (4), B (3), C (2), D (1), dan E (0, tak lulus), akan ada nilai AB, dan BC. Dengan adanya nilai antara tersebut, diharapkan dosen dapat “lebih bijak” dalam memberikan penilaian. Sehingga menurut Prof. Adang, nilai-nilai mahasiswa yang "menyerempet", dalam hal ini contohnya "B gemuk", dapat dikelompokkan menjadi AB. Bagaimana dengan perhitungan IP? Tidak ada masalah signifikan, mengingat nilai AB adalah setara dengan 3.5, dan BC setara 2.5. Sistem penilaian baru ini akan mulai diterapkan di semester ini, dan berlaku bagi seluruh mahasiswa seluruh angkatan di ITB.
Nah, karena akan mulai diterapkan segera di semester ini, maka mahasiswa ITB hendaknya menyambutnya dengan sedikit gembira. Jahkan dari prasangka dosen ITB itu “kejam” bin ”killer” dsb. Belajar itu harus penuh dengan kegembiraan. Bangga diterima di ITB itu harus diimbangi dengan belajar lebih keras tetapi dalam suasana gembira, jauh dari suasana yang terbebani.
Oleh karena itu, para mahasiswa ITB juga hendaknya juga aktif bersosialisasi dalam kehidupan kampus sebagai proses latihan meraih softskill. Karena disinilah kelemahan umumnya mahasiswa ITB. Nilai IP tinggi itu bagus untuk diraih tetapi belum cukup bila tak memiliki tambahan softskill. Dan itu telah dibuktikan oleh softskill kakak-kakak alumni ITB yang sukses dalam kariernya, baik sebagai “tukang insinyur”, ilmuwan kelas dunia, wirausaha sukses maupun alumni yang telah menjadi Presiden RI dan Perdana Menteri RI (kalau Menteri-menteri alumni ITB sejak republik ini berdiri sudah nggak kehitung lagi sampai lupa namanya kecuali 5 menteri-alumni ITB angkatan saya, angkatan 1973 he he he ....!)
Sebaliknya, kepada para dosen ITB yang telah “disegarkan” oleh Wakil Rektor Senior ITB Prof. Ir. Adang Surahman, PhD -----Seangkatan dengan saya, tetapi saya di Departemen Teknik Geodesi. Di Departemen Sipil ITB, Kang Adang ini nomor pokok mahasiswanya 8173002 artinya ranking dua dari 120 mahasiswa Sipil ITB 1973. Waktu itu belum ada jurusan Informatika, yang paling top ya Sipil disusul Elektro !!!------ kita berharap otoritas yang dimiliki tidak “disalahgunakan” sebagai “kekuasaan mutlak”.
Dosen-dosen ITB juga harus mengevaluasi diri dalam proses belajar mengajarnya. Apakah cara penyampaian kuliahnya sudah komunikatif sehingga mudah diserap oleh mahasiswanya atau sebaliknya hanya pinter untuk diri sendiri. Apakah dosen-dosen senior ITB telah konsisten mengajar secara langsung dan tidak mewakilkan kepada para asistennya? Apakah ITB juga telah menyediakan sarana dan prasarana bagi 1.025 dosen (800 di antaranya bergelar doktor), misalnya dengan ruangan dosen yang memadai lengkap dengan koleksi buku-buku mutakhir. Karena penulis menemukan banyak fakta kalau profesor doktor ITB yang berkelas dunia pun ruangannya sangat sempit. Lalu bagaimana dengan ratusan doktor-doktor muda ITB pasti ruangannya akan lebih sempit lagi atau jangan-jangan ada yang tak memiliki meja kerja ....?
Selamat ujian bagi para mahasiswa ITB dan selamat menilai bagi para dosen ITB yang bijak. And last but not least kepada para alumni (apalagi yang punya anak, mahasiswa ITB he he he ...!) seperti biasa, selamat mengkritisi jalannya penilaian oleh para dosen ITB.
Kesebelasan Indonesia vs Argentina di Piala Dunia
Oleh Cardiyan HIS
Manchester United batal dijajal Indonesia All Stars di Stadion Utama Bung Karno, Senayan, Jakarta, gara-gara bom teroris. Biar tak terlalu kecewa berikut ditampilkan pertandingan nostalgia kesebelasan nasional Indonesia melawan Argentina yang dikapteni Diego Armando MARADONA di Piala Dunia Yunior 1979 di Tokyo, Jepang.
PSSI dapat durian runtuh. Arab Saudi sebagai juara Piala Asia Yunior 1978 mengundurkan diri karena alasan tidak siap. Maka otomatis PSSI yang semifinalis Piala Asia Yunior 1978 terkatrol bersama tuan rumah Jepang dan Korea Selatan mewakili Asia ke Piala Dunia Yunior 1979 di Tokyo, Jepang. Ali Sadikin sebagai Ketua Umum PSSI langsung menunjuk Soetjipto Soentoro yang baru saja pulang setelah dikirim PSSI ke Jerman Barat (ketika itu) mengikuti kursus pelatih yang diselenggarakan oleh FIFA dan kemudian terpilih sebagai pelatih terbaik dan berhak memiliki sertifikat kelas A.
Soetjipto "Gareng" Soentoro (almarhum) yang mendapat kepercayaan, langsung memilih pemain. Pemain yang dipanggil Soetjipto adalah pemain pilihan yang masih muda penuh talenta yakni Endang Tirtana, Sudarno, Eddy Harto (Penjaga Gawang), Nasir Salassa, Mustafa Umarella, Nus Lengkoan, Subangkit, Didik Dharmadi, Tonggo Tambunan (kakaknya Patar Tambunan), Ristomoyo, Aun Harhara (adik pemain timnas senior Sutan Harhara), Catur Sudarmanto (Belakang), Arief Hidayat (kapten, adik pemain timnas senior Sofyan Hadi), Berti Tutuarima, Mundari Karya, Herry Kiswanto, Zulkarnaen Lubis, Rully Nere (Gelandang), Bambang Nurdiansyah, Wahyu Tanoto, Bambang Sunarto, Dede Sulaeman (Penyerang).
Timnas ini melakukan rangkaian banyak ujicoba dari mulai Aceh, Medan, Bandung, Surabaya, Makassar sampai ke Jayapura. Bahkan sampai kota-kota kabupaten di Jawa Barat seperti Tasikmalaya dan Ciamis pun dijadikan ajang ujicoba. Sebagian besar ujicoba dimenangi oleh tim asuhan Soetjipto ini. Sayang tak ada ujicoba ke luar negeri atau melawan tim luar negeri yang didatangkan ke Jakarta. Sehingga PSSI tak bisa mengukur kekuatan sebenarnya bila dibanding kemajuan kesebelasan sepakbola negara lain.
Soal banyak ujicoba sampai ke kota-kota kecil: "Agar menggugah anak-anak muda untuk menjadi pemain nasional kelak," ungkap Soetjipto kepada penulis dalam buku biografinya (Cardiyan HIS, "Si Gareng Menggoreng Bola", Penerbit Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988). Gareng adalah julukan Soetjipto Suntoro, Kapten Timnas Indonesia tahun1966-1970 yang sangat hebat performanya. Sehingga ia dipercaya pula sebagai kapten tim Asian All Stars tahun 1967-1970. *)
Indonesia masuk di grup maut bersama Argentina, Yugoslavia dan Polandia. Karena kurang pengalaman dan tak memiliki kompetisi yang teratur dan ketat, Indonesia menjadi bulan-bulanan lawan. Penyerang Bambang Nurdiansyah praktis tak bisa mendekati gawang Argentina. Sementara lapangan tengah Indonesia yang dikoordinasikan oleh Arief Hidayat, kalah kelas dengan Diego Maradona. Maka pertunjukan lebih banyak berada di pertahanan Indonesia. Kalau saja penjaga gawang Endang Tirtana tidak bermain cemerlang dengan melakukan banyak safety gemilang, Argentina yang dikapteni Diego Armando MARADONA dipastikan akan memukul telak Indonesia lebih dari 6-0. Setelah wasit meniup peluit panjang, pemain-pemain Indonesia segera berebut berfoto bersama Maradona yang dengan senang hati melayaninya. Sementara pada pertandingan berikutnya, Yugoslavia dan Polandia mencukur Indonesia masing-masing 5-0.
Akhirnya Argentina keluar sebagai juara setelah di final mengalahkan juara bertahan Uni Soviet (Rusia sekarang) dengan skor 3-1. Uni Soviet sebenarnya memimpin dulu 1-0 sampai menit ke 60. Tetapi Argentina mendapat penalti pada menit ke 61, yang tak disia-siakan oleh Maradona. Setelah gol penalti ini, Maradona dkk mengamuk dan menambah 2 gol lagi.
Tapi ada pengalaman berharga yang berhasil diserap oleh Soetjipto dari pelatih timnas Argentina Yunior dan ArgentinaSenior berkelas dunia; Cesar Louis Menotti. "Menotti banyak memberi tips, baik segi teknik maupun non-teknik tentang bagaimana menciptakan kesebelasan tangguh. Indonesia harus memiliki kompetisi yang tertata baik sejak jenjang yunior sampai senior," ungkap Soetjipto Soentoro yang mendapat kehormatan untuk ketemu empat mata dengan Menotti, dalam kesempatan terpisah.
*) Catatan tentang Soetjipto Soentoro sebagai bintang Asia:
Sebagai pemain dan kapten timnas Indonesia, Soetjipto Soentoro, memimpin Indonesia meraih kejayaan di peta sepakbola Asia. Indonesia menjuarai turnamen-turnamen bergengsi di Asia seperti Agha Khan Gold Cup (Pakistan Timur, sekarang Bangladesh) 3 tahun berturut 1966, 1967 dan 1968; King’s Cup Thailand pertama pada tahun 1968; Merdeka Games (Malaysia) 1969.
Tak mengherankan bila Indonesia mendominasi dari segi jumlah pemain yang masuk tim Asia All Stars ini. Sebab disamping Soetjipto ada Iswadi Idris, Yacob Sihasale dan Abdul Kadir. Dari negara lain adalah Tian Aung dan Suk Bahadur (Birma, Myanmar sekarang), Kunishige Kamamoto (Jepang), Jarnel Sing (India), Kim Yung Nam dan Kim Sam Rha (Korea Selatan), Abdul Gani bin Mirhat dan Chow Che Keong (Malaysia), Niwat (Thailand) dan Spigler (Israel, dulu masuk grup Asia). Spigler ini adalah pemain Asia pertama yang bergabung dengan klub elite Cosmos, New York, dimana Pele, Franz Beckenbauer, Carlos Alberto dan Chinaglia bermain.
Manchester United batal dijajal Indonesia All Stars di Stadion Utama Bung Karno, Senayan, Jakarta, gara-gara bom teroris. Biar tak terlalu kecewa berikut ditampilkan pertandingan nostalgia kesebelasan nasional Indonesia melawan Argentina yang dikapteni Diego Armando MARADONA di Piala Dunia Yunior 1979 di Tokyo, Jepang.
PSSI dapat durian runtuh. Arab Saudi sebagai juara Piala Asia Yunior 1978 mengundurkan diri karena alasan tidak siap. Maka otomatis PSSI yang semifinalis Piala Asia Yunior 1978 terkatrol bersama tuan rumah Jepang dan Korea Selatan mewakili Asia ke Piala Dunia Yunior 1979 di Tokyo, Jepang. Ali Sadikin sebagai Ketua Umum PSSI langsung menunjuk Soetjipto Soentoro yang baru saja pulang setelah dikirim PSSI ke Jerman Barat (ketika itu) mengikuti kursus pelatih yang diselenggarakan oleh FIFA dan kemudian terpilih sebagai pelatih terbaik dan berhak memiliki sertifikat kelas A.
Soetjipto "Gareng" Soentoro (almarhum) yang mendapat kepercayaan, langsung memilih pemain. Pemain yang dipanggil Soetjipto adalah pemain pilihan yang masih muda penuh talenta yakni Endang Tirtana, Sudarno, Eddy Harto (Penjaga Gawang), Nasir Salassa, Mustafa Umarella, Nus Lengkoan, Subangkit, Didik Dharmadi, Tonggo Tambunan (kakaknya Patar Tambunan), Ristomoyo, Aun Harhara (adik pemain timnas senior Sutan Harhara), Catur Sudarmanto (Belakang), Arief Hidayat (kapten, adik pemain timnas senior Sofyan Hadi), Berti Tutuarima, Mundari Karya, Herry Kiswanto, Zulkarnaen Lubis, Rully Nere (Gelandang), Bambang Nurdiansyah, Wahyu Tanoto, Bambang Sunarto, Dede Sulaeman (Penyerang).
Timnas ini melakukan rangkaian banyak ujicoba dari mulai Aceh, Medan, Bandung, Surabaya, Makassar sampai ke Jayapura. Bahkan sampai kota-kota kabupaten di Jawa Barat seperti Tasikmalaya dan Ciamis pun dijadikan ajang ujicoba. Sebagian besar ujicoba dimenangi oleh tim asuhan Soetjipto ini. Sayang tak ada ujicoba ke luar negeri atau melawan tim luar negeri yang didatangkan ke Jakarta. Sehingga PSSI tak bisa mengukur kekuatan sebenarnya bila dibanding kemajuan kesebelasan sepakbola negara lain.
Soal banyak ujicoba sampai ke kota-kota kecil: "Agar menggugah anak-anak muda untuk menjadi pemain nasional kelak," ungkap Soetjipto kepada penulis dalam buku biografinya (Cardiyan HIS, "Si Gareng Menggoreng Bola", Penerbit Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988). Gareng adalah julukan Soetjipto Suntoro, Kapten Timnas Indonesia tahun1966-1970 yang sangat hebat performanya. Sehingga ia dipercaya pula sebagai kapten tim Asian All Stars tahun 1967-1970. *)
Indonesia masuk di grup maut bersama Argentina, Yugoslavia dan Polandia. Karena kurang pengalaman dan tak memiliki kompetisi yang teratur dan ketat, Indonesia menjadi bulan-bulanan lawan. Penyerang Bambang Nurdiansyah praktis tak bisa mendekati gawang Argentina. Sementara lapangan tengah Indonesia yang dikoordinasikan oleh Arief Hidayat, kalah kelas dengan Diego Maradona. Maka pertunjukan lebih banyak berada di pertahanan Indonesia. Kalau saja penjaga gawang Endang Tirtana tidak bermain cemerlang dengan melakukan banyak safety gemilang, Argentina yang dikapteni Diego Armando MARADONA dipastikan akan memukul telak Indonesia lebih dari 6-0. Setelah wasit meniup peluit panjang, pemain-pemain Indonesia segera berebut berfoto bersama Maradona yang dengan senang hati melayaninya. Sementara pada pertandingan berikutnya, Yugoslavia dan Polandia mencukur Indonesia masing-masing 5-0.
Akhirnya Argentina keluar sebagai juara setelah di final mengalahkan juara bertahan Uni Soviet (Rusia sekarang) dengan skor 3-1. Uni Soviet sebenarnya memimpin dulu 1-0 sampai menit ke 60. Tetapi Argentina mendapat penalti pada menit ke 61, yang tak disia-siakan oleh Maradona. Setelah gol penalti ini, Maradona dkk mengamuk dan menambah 2 gol lagi.
Tapi ada pengalaman berharga yang berhasil diserap oleh Soetjipto dari pelatih timnas Argentina Yunior dan ArgentinaSenior berkelas dunia; Cesar Louis Menotti. "Menotti banyak memberi tips, baik segi teknik maupun non-teknik tentang bagaimana menciptakan kesebelasan tangguh. Indonesia harus memiliki kompetisi yang tertata baik sejak jenjang yunior sampai senior," ungkap Soetjipto Soentoro yang mendapat kehormatan untuk ketemu empat mata dengan Menotti, dalam kesempatan terpisah.
*) Catatan tentang Soetjipto Soentoro sebagai bintang Asia:
Sebagai pemain dan kapten timnas Indonesia, Soetjipto Soentoro, memimpin Indonesia meraih kejayaan di peta sepakbola Asia. Indonesia menjuarai turnamen-turnamen bergengsi di Asia seperti Agha Khan Gold Cup (Pakistan Timur, sekarang Bangladesh) 3 tahun berturut 1966, 1967 dan 1968; King’s Cup Thailand pertama pada tahun 1968; Merdeka Games (Malaysia) 1969.
Tak mengherankan bila Indonesia mendominasi dari segi jumlah pemain yang masuk tim Asia All Stars ini. Sebab disamping Soetjipto ada Iswadi Idris, Yacob Sihasale dan Abdul Kadir. Dari negara lain adalah Tian Aung dan Suk Bahadur (Birma, Myanmar sekarang), Kunishige Kamamoto (Jepang), Jarnel Sing (India), Kim Yung Nam dan Kim Sam Rha (Korea Selatan), Abdul Gani bin Mirhat dan Chow Che Keong (Malaysia), Niwat (Thailand) dan Spigler (Israel, dulu masuk grup Asia). Spigler ini adalah pemain Asia pertama yang bergabung dengan klub elite Cosmos, New York, dimana Pele, Franz Beckenbauer, Carlos Alberto dan Chinaglia bermain.
Untung Menolak Hadiah Seperangkat Golf
Oleh Cardiyan HIS
Seorang sobat yang konglomerat papan atas Indonesia menawarkan seperangkat golf gratis kepada saya pada tahun 1989. "Biar liputan you tambah eksklusif mesti main golf dong. Di padang golf banyak pejabat-pejabat tinggi dan konglomerat kumpul. Jadi you bisa main golf sambil korek informasi A-1", ajak sobat saya.
"Wah terima kasih. Tapi maaf saya sulit atur waktu bila harus seharian main golf," kilah saya.
Eh, semingggu kemudian ketika majalah ekonomi milik saya menurunkan “cover story” "Orang Terkaya di ASEAN. Siapa Mereka? Berapa dari Indonesia?", saya yang tengah memburu Eka Tjipta Widjaja, Bob Hasan, William Soerjadjaja, Liem Soei Liong, jadi ingat saran sobat saya itu.
Benar saja. Akhirnya setelah “hotline” dengan Oom Eka yang dihubungkan sekretaris pribadinya Wen Yu dari kantornya di kawasan jalan Thamrin, Jakarta, saya berhasil menemui Eka Tjipta jam 6 pagi keesokan harinya di Pondok Indah Golf.
Dan ketika menemuinya, sekelilingnya sudah ada Ali Wardhana, Adrianus Mooy, Soemarlin, penyanyi Bruri Marantika dan Indra Widjaja (anak Eka, Dirut Bank Internasional Indonesia). Eka dan Indra kemudian beranjak mengajak saya ke ruang ganti pakaian. Dan menyuruh Indra sendiri saja yang main golf. “Indra kamu yang main golf saja. “Bapak mau pulang untuk wawancara dengan pak Cardiyan,” kata Oom Eka sambil mengajak masuk ke mobil Jaguar warna hitamnya. Tahun 1989, yang punya Jaguar masih terbatas jumlahnya dan saya mewancarai Eka Tjipta Widjaja sambil keliling Jakarta.
Wawancara dengan Eka Tjipta berlangsung sukses. Bahkan saya berdampingan dengan Eka difoto melalui kamera saya oleh ajudan Eka yang saya tengarai seorang tentara aktif dari kesatuan komando khusus. Saya mendapatkan Bob Hasan wawancara di lapangan Atletik PASI Gelora Senayan beberapa hari kemudian. Sedangkan William Soerjadjaja saya wawancarai langsung di kantor pusat Astra. Sedangkan Oom Liem masih di Hong Kong ketika “deadline” terlewati.
Dua puluh tahun kemudian saya tetap tak memilih olahraga golf. Bukan karena takut "katuliskeun jurig" (tercatat oleh hantu) di lapangan golf seperti nasib Antasari Azhar atau Nasrudin Zulkarnaen. Atau juga bukan karena anti olahraga orang kaya, orang borjuis seperti terkesan selama ini tentang golf. Tetapi saya mah penggemar olahraga rakyat saja yakni sepakbola. Karena saya mah euy bobotoh Persib......!
Seorang sobat yang konglomerat papan atas Indonesia menawarkan seperangkat golf gratis kepada saya pada tahun 1989. "Biar liputan you tambah eksklusif mesti main golf dong. Di padang golf banyak pejabat-pejabat tinggi dan konglomerat kumpul. Jadi you bisa main golf sambil korek informasi A-1", ajak sobat saya.
"Wah terima kasih. Tapi maaf saya sulit atur waktu bila harus seharian main golf," kilah saya.
Eh, semingggu kemudian ketika majalah ekonomi milik saya menurunkan “cover story” "Orang Terkaya di ASEAN. Siapa Mereka? Berapa dari Indonesia?", saya yang tengah memburu Eka Tjipta Widjaja, Bob Hasan, William Soerjadjaja, Liem Soei Liong, jadi ingat saran sobat saya itu.
Benar saja. Akhirnya setelah “hotline” dengan Oom Eka yang dihubungkan sekretaris pribadinya Wen Yu dari kantornya di kawasan jalan Thamrin, Jakarta, saya berhasil menemui Eka Tjipta jam 6 pagi keesokan harinya di Pondok Indah Golf.
Dan ketika menemuinya, sekelilingnya sudah ada Ali Wardhana, Adrianus Mooy, Soemarlin, penyanyi Bruri Marantika dan Indra Widjaja (anak Eka, Dirut Bank Internasional Indonesia). Eka dan Indra kemudian beranjak mengajak saya ke ruang ganti pakaian. Dan menyuruh Indra sendiri saja yang main golf. “Indra kamu yang main golf saja. “Bapak mau pulang untuk wawancara dengan pak Cardiyan,” kata Oom Eka sambil mengajak masuk ke mobil Jaguar warna hitamnya. Tahun 1989, yang punya Jaguar masih terbatas jumlahnya dan saya mewancarai Eka Tjipta Widjaja sambil keliling Jakarta.
Wawancara dengan Eka Tjipta berlangsung sukses. Bahkan saya berdampingan dengan Eka difoto melalui kamera saya oleh ajudan Eka yang saya tengarai seorang tentara aktif dari kesatuan komando khusus. Saya mendapatkan Bob Hasan wawancara di lapangan Atletik PASI Gelora Senayan beberapa hari kemudian. Sedangkan William Soerjadjaja saya wawancarai langsung di kantor pusat Astra. Sedangkan Oom Liem masih di Hong Kong ketika “deadline” terlewati.
Dua puluh tahun kemudian saya tetap tak memilih olahraga golf. Bukan karena takut "katuliskeun jurig" (tercatat oleh hantu) di lapangan golf seperti nasib Antasari Azhar atau Nasrudin Zulkarnaen. Atau juga bukan karena anti olahraga orang kaya, orang borjuis seperti terkesan selama ini tentang golf. Tetapi saya mah penggemar olahraga rakyat saja yakni sepakbola. Karena saya mah euy bobotoh Persib......!
Label:
Cardiyan HIS,
Golf,
Konglomerat,
Menolak
Langganan:
Postingan (Atom)
