Sabtu, 02 April 2011

Berjuang Menjadi Seorang “Billionaire” Tidaklah dalam Satu Hari




I wanna be a billionaire so fricking bad
Buy all of the things I never had
Uh, I wanna be on the cover of Forbes magazine
Smiling next to Oprah and the Queen




Oleh Cardiyan HIS


“I wanna be a billionaire so fricking bad”, intro lagu yang sungguh enak didengar. Setiap kali saya menilpun HP salah seorang Project Manager perusahaan saya, lantunan lagu yang dibawakan penyanyi Bruno Mars inilah yang menjadi nada tunggu yang menyegarkan telinga. Kedatangan Bruno Mars ke Jakarta dalam waktu dekat ini (dan konon tiketnya sudah ludes habis diborong ribuan calon penonton), semoga akan menginspirasi para anak muda yang bermimpi menjadi “a Billionaire in US Dollar” di kemudian hari.


Malinda Dee adalah “the New Indonesian Real Billionaire”, setidaknya sampai sebelum tanggal 23 Maret 2011 manakala sebuah tim dari Bareskrim Mabes Polri mencokoknya di sebuah apartemen super mewah di kawasan sentral bisnis Jakarta Selatan. Tetapi karena Dee membangun “imperium” bisnisnya tidak secara alamiah, tidak melalui perjuangan panjang dan cara memperolehnya dengan menilep dana sedikitnya 400 nasabah Citibank, Dee akhirnya tersandung. Dee lupa sebuah adagium bahwa “membangun Roma, ibukota negeri Italia penghasil Ferrari Scuderia B 5 DEE itu, tidaklah mungkin dalam satu hari !!!”




Kasus Dee dan sebelumnya seorang akuntan muda Gayus Tambunan, sebenarnya menjadi pembelajaraan yang sangat berharga bahwa menjadi “a Billionaire” itu sah-sah saja. Bahkan menjadi seorang Billionaire itu sangat dianjurkan kalau cara memperolehnya dilakukan dengan cara-cara bermartabat. Dalam berbagai agama pun menjadi kaya itu sangat dianjurkan karena orang kaya sangat berbeda dengan orang miskin yang hanya mampu berdoa saja. Seorang pengusaha kaya yang memperoleh hartanya dengan cara-cara yang bermartabat bisa berbuat banyak bagi banyak orang. Paling tidak, seorang pengusaha kaya dapat memberikan lapangan kerja yang luas bagi banyak orang, yang karena seseorang itu bekerja maka ia akan memiliki harga diri dan membuat keluarganya bisa memenuhi minimal kehidupan, menyekolahkan anak, menikmati hiburan, mampu berobat di kala sakit dan sedikitnya tabungan masa depan. Bayangkan kalau seorang pengusaha kaya itu memiliki karyawan 100.000 orang lebih berapa juta orang yang memperoleh manfaat dari seorang pengusaha kaya yang hartanya dijalankan pada bidang usahanya secara bermartabat.


Tak mengherankan manakala di Indonesia ada trend kencang “Benci deh sama pejabat yang menjadi kaya karena korupsi”, maka sekarang trend anak muda secara paralel memiliki mimpi “Bangga deh menjadi pengusaha kaya melalui bisnis yang bermartabat”. Sebagai generasi baru di era Reformasi dan era Teknologi Tinggi, anak muda sekarang merupakan “generasi yang sulit diatur”. Sulit diatur itu bisa saja terjadi, karena para orangtua memang memberi segala kemudahan sehingga mereka bisa saja menjadi anak manja, anak yang kurang diberi tantangan. Tetapi kita ambil saja yang segi positifnya saja dan tak usah banyak-banyak dari segi populasi anak muda. Maka generasi muda yang mau hidup mandiri; yang mau hidup merdeka; akan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya jiwa entrepreneurship. Bila trend ini terus berkembang di kalangan anak muda akan sangat menarik untuk dikembangkan sebagai basis “Bagaimana Membangun Bangsa Indonesia Mandiri Berbasis Kewirausahaan?”.


Negara Kesatuan Republik Indonesia yang secara historis terlahir dari berbagai daerah, secara mayoritas memang kurang memiliki basis sebagai bangsa entrepreneur. Kekuasaan raja-raja atau sultan-sultan di berbagai daerah lebih dominan dari pada “kekuasaan” atau pengaruh para entrepreneur. Kultur bagi tumbuh suburnya entrepreneurship menjadi sangat terkendala karena budaya upeti kepada raja. Dan ini berlangsung ratusan tahun lamanya. Bahkan manakala 66 tahun setelah Indonesia merdeka sekarang ini, kultur ini tak mengalami perubahan yang berarti. Para penguasa tetap dominan berkuasa sekaligus menjadi kaya karena mereka membina pengusaha-pengusaha kroninya yang ujungnya memberi upeti. Sementara “genuine entrepreneur” yang tetap setia kepada filosofi harus kaya dengan cara-cara bermartabat yang jumlahnya sangat terbatas di tengah belantara “pengusaha preman”, harus berakrobat terus menerus agar tetap mampu survive dan entah kapan meraih level sedikitnya sebagai “a Billionaire in Indonesian Rupiah” kalau belum mampu meraih “a Billionaire in US Dollar”.


Kita masih ingat bagaimana seorang Lakshmi Narayan Mittal (juga dikenal dengan Lakshmi Niwas Mittal; lahir 15 Juni 1950; umur 61 tahun) karena kecewa berat dengan birokrasi yang sulit dalam membangun usahanya di India, ia tiba di Indonesia pada tahun 1976 dan mendirikan perusahaan baja bernama PT. Ispat Indo di Waru, Jawa Timur. Ia kemudian menjadi sukses dengan membeli pabrik-pabrik baja yang merugi dan mengubahnya menjadi pabrik-pabrik baja yang berhasil. Sekarang Mittal “tukang tancap gas” didampingi anak lelakinya ahli analisis keuangan lulusan Stanford University yang menjadi “tukang tekan rem” adalah seorang “a Billionaire in USD” asal India yang tinggal di rumah termahal di kawasan Kensington Mansion, London, senilai US$128 juta. Dia adalah pemilik dari Mittal Steel Company NV, yang merupakan produsen baja terbesar di dunia. Pada 2011 ini majalah Forbes menobatkannya sebagai orang terkaya kelima di dunia dengan kekayaan USD 28,7 Billlion.


Ceritera sukses Mittal yang bermula dari kebencian terhadap birokrasi jelek di pemerintahan India dan kemudian memulai bisnisnya dari pabrik baja di Indonesia. Dan juga ceritera sukses Bill Gates dan Steve Jobs yang sengaja memilih “mendroup-outkan diri” dari Harvard University agar bisa lebih cepat mewujudkan ide invensinya di bidang Teknologi Informasi akan selalu menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda yang mau bermimpi menjadi entrepreneur kelas dunia yang bermartabat. Dari Indonesia sendiri ada sosok Aburizal Bakrie (alumnus Teknik Elektro ITB), lepas dari berbagai kontroversi tentang Aburizal Bakrie, tetapi harus diakui ia berhasil memikul tanggungjawab estafet imperium ayahnya Achmad Bakrie. Namun berbeda dengan ayahnya Achmad Bakrie yang tak mau berkroni dengan Soeharto ketika mengembangkan bisnisnya, Aburizal Bakrie “sengaja” mendekatkan diri dengan penguasa dimulai sejak Menmuda UP3DN, Ginandjar Kartasasmita membina para pengusaha muda Indonesia termasuk pengusaha Arifin Panigoro (alumnus Teknik Elektro ITB) yang akhirnya lolos menjadi “a Billionaire” dengan membangun imperium Medco Group.


Masalahnya sekarang; bagaimana kita berharap kepada Pemerintah Indonesia, apakah mau mengubah dirinya untuk menjadi pembuat regulasi yang memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuh suburnya entrepreneurship? Tidak mungkinlah entrepreneur Indonesia berkelas dunia lahir dari Indonesia bila pilar lainnya yakni Pendidikan dan Hukum yang Tegak dan Adil tidak bersamaan diberikan perhatian yang sungguh-sungguh oleh Pemerintah. Pendidikan yang baik akan memberikan dasar-dasar ilmu, pendidikan yang berkarakter dan sentuhan etika untuk menjadi bekal bagi generasi muda berjuang menjadi “World Class Genuine Entrepreneur” di kemudian hari. Hukum yang Tegak dan Adil akan memberikan kepastian hukum bagi siapa saja untuk menjalankan bisnis secara legal, jujur dan bermartabat. Tidak akan ada lagi, pembiaran kasus korupsi yang melukai rasa keadilan masyarakat. Tidak akan ada lagi, tempat bagi para preman kerah putih untuk menjadi kaya di Indonesia manakala Pemerintah Indonesia secara sungguh-sungguh membangun tiga pilar Entrepreneur Bermartabat, Pendidikan yang Berkarakter dan Hukum yang Tegak dan Adil.


Oh oooh oh oooh for when I’m a Billionaire
-------------------------------------------------------
I ’ll be playing basketball with the President
Dunking on his delegates
Then I ‘ll compliment him on his political etiquette
--------------------------------------------------------
(Travis “Travie” McCoy)



http://www.metrolyrics.com/billionaire-lyrics-bruno-mars.html
www.cardiyanhis.blogspot.com
http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Senin, 28 Maret 2011

Nurdin Halid Terbanting. Mungkinkah Kembali Bangkit? Serahkan kepada Hammam dan ... Ical !!!

Oleh Cardiyan HIS


Bukan Nurdin Halid kalau mau menyerah begitu saja. Meskipun kekuasaannya dipreteli habis oleh Pemerintah, dan menjadi musuh bersama suporter sepakbola, tokh dia segera membuat Kongres PSSI tandingan. Dia masih berharap dukungan Mohammed Hammam, Ketua AFC dan Anggota Komite Eksekutif FIFA yang powerful. Plus tentu saja kepada Ical dan jajaran Partai Golkar.




Kemampuan berakting Nurdin Halid hebring. Bak permainan sepakbola super defensif Inter Milan manakala menggusur Barcelona di semifinal liga Champions Eropa tahun lalu, taktik pelatih special one, Jose Mourinho dari Inter Milan ini mulai diterapkan Nurdin dalam menghadapi Menpora Andi Mallarangeng. “Andi Mallarangeng tidak berlaku cakap sebagai Menpora. Saya sebagai rakyat Indonesia memohon agar Presiden SBY segera mencopotnya,” kilah Nurdin. Menurut Nurdin, PSSI tak perlu pengakuan Pemerintah. PSSI hanya tunduk mutlak kepada keputusan FIFA. Titik.





Dan karena masih merasa bahwa PSSI kepengurusannya sah di mata FIFA sebelum ada surat resmi FIFA soal status PSSI, Nurdin Halid mengklaim berkompeten untuk mengadakan Kongres PSSI. Direncanakan 4 bulan sejak Kongres PSSI di Pekanbaru yang dibatalkannya pada tanggal 26 Maret 2011, Nurdin mempersiapkan kongres pemilihan anggota Komite Pemilihan dan Komite Banding. Dua bulan kemudian PSSI versi Nurdin Halid mengadakan kongres pemilihan anggota Komite Eksekutif. Komite Eksekutif inilah yang diharapkan Nurdin, memilihnya kembali sebagai Ketua Umum PSSI mendatang.


Mungkinkah Nurdin bangkit? Segala kemungkinan bisa saja masih terjadi. Dan kita justru akan memperoleh proses pembelajaran berharga dari fenomena seorang Nurdin Halid; bagaimana seorang anak manusia bisa survive apapun orang mengatakannya sebagai sampah. Dan dari sinilah kita dapat pembelajaran bagaimana memecahkan masalah bangsa dalam skala yang lebih besar. Coba ikuti alur pemikiran Nurdin Halid.




Pertama; Saya masih berstatus resmi Ketua Umum PSSI karena FIFA -----sebagai otoritas sepakbola tertinggi di dunia adalah mutlak berkuasa atas organisasi sepakbola di negara manapun dan tak peduli dengan kekuasaan Pemerintah manapun------ belum mencopot saya.


Kedua: Saya masih dipandang Ketua Umum PSSI oleh Mohammed Hammam, Ketua AFC sekaligus Anggota Komite Eksekutif FIFA yang powerful. Nurdin Halid langsung pergi ke KL, Malaysia markas AFC menemui Hammam manakala terusir dari Pekanbaru, Riau. Hammam akan dapat menganulir keputusan rapat FIFA bila akan merugikan kepentingan saya. Hammam sangat berutang budi kepada saya karena saya mendukungnya manakala memenangi pemilihan Ketua AFC. Dan sekarang Hammam akan maju menjadi calon Presiden FIFA menghadapi incumbent Presiden FIFA Sepp Blatter, tentu saja saya sebagai Ketua Umum PSSI akan menggalang pemenangannya dimulai dari Indonesia dan kawasan ASEAN bahkan Asia.



Ketiga: Saya sebagai kader Golkar dan telah ditunjuk oleh Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) sebagai Ketua Pemenangan Pemilu Presiden Periode 2014-2019 se Sulawesi, akan mendapat dukungan penuh jajaran Partai Golkar karena saya dizalimi oleh Menpora yang berasal dari Partai Demokrat. Sebagai kader Golkar sejati secara total saya akan didukung Partai Golkar. Saya akan fight menekan SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat untuk mencopot Andi Mallarangeng sebagai Menpora kalau Partai Demokrat tak mau digembosi Partai Golkar di dalam peta konstelasi politik nasional. Kasus Bank Century, salah satunya, akan dilambungkan kembali oleh Partai Golkar untuk memporak-porandakan SBY dan Partai Demokrat.

Sisi Lain





Begitulah Nurdin Halid. Apapun jalan pikirannya, harus diakui bahwa kini Nurdin tak sekuat dulu lagi dalam mempertahankan kekuasaannya. Dulu Nurdin Halid, sebagai Ketua Umum PSSI selalu berhasil berlindung secara mutlak di bawah kekuasaan Dewa FIFA sampai-sampai Pemerintah RI pun tak bisa mengusiknya. Namun sekarang FIFA pun sudah mulai berpikir kritis dan tak mau begitu saja menerima setiap informasi dan laporan PSSI. FIFA sudah mulai menerapkan prinsip cover both sides khususnya untuk kasus Indonesia, dengan menerima pula informasi dari kubu yang bersebrangan dengan Nurdin Halid dan terlebih-lebih dari informasi masyarakat sepakbola Indonesia yang relatif murni dari kepentingan politik selain murni sepakbola. Begitu pula Presiden FIFA Sepp Blatter mulai bermain “politik” karena punya kepentingan untuk menjegal Nurdin Halid yang terang-terangan mendukung Mohammed Hammam sebagai pesaing Blatter dalam calon Presiden FIFA mendatang.




Nurdin Halid selalu mengabaikan suara suporter sepakbola, baik yang di jalanan maupun yang di dunia maya meskipun jumlahnya puluhan juta. Karena Nurdin yakin sepanjang suara pemilih PSSI untuk Kongres PSSI masih di bawah kangkangannya, ya aman-aman saja. Namun manakala infra struktur Nurdin Halid tercopoti semua terutama yang menyangkut distopnya dana APBN dan APBD untuk semua kegiatan sepakbola oleh Pemerintah RI, Nurdin bagai seorang lelaki tak berdaya lagi, nafsu besar tenaga kurang kata sebuah anekdot. Ditambah, Pemerintah juga menginstruksikan Kepolisian RI untuk tidak memberikan ijin kompetisi yang mungkin diselenggarakan oleh PSSI versi Nurdin Halid. Ini sangat strategis dalam menjegal kekuasaan Nurdin karena PSSI tanpa kegiatan kompetisi sama saja dengan bohong, ibarat macan kertas gitu.


Kehadiran Aburizal Bakrie pada kegiatan sosial Presiden SBY ketika minggu lalu meresmikan sebuah pusat kegiatan olahraga skala dunia dan terang-terangan menyindir PSSI yang terus kisruh, hendaknya dipandang sebagai “mulai beralihnya arah angin” sang “God Father” Ical terhadap Nurdin Halid. Ical sendiri yang nyaris 100% tengah merancang “Road Map to be the Next President of Republic of Indonesia” harus berhitung cermat. Sebagian besar para pemilih Pemilu 2014-2019 adalah anak muda. Mereka adalah yang sangat membenci Nurdin Halid sebagai “penjahat sepakbola” selain memandang tak pantas mantan dua kali narapidana memimpin sebuah organisasi perjuangan PSSI. Ical harus berpikir keras apakah taktis dengan tetap memilih Nurdin Halid sebagai Ketua Pemenangan Pemilu Partai Golkar se Sulawesi? Ical harus berpikir dingin agar dia sendiri tak tersandung dengan ambisinya menjadi calon Presiden RI mendatang, terlebih kasus lumpur Lapindo pun belum hilang dalam ingatan rakyat Indonesia.








Dan yang paling ditakutkan oleh Nurdin Halid sendiri, sebenarnya adalah masalah yang berkaitan dengan perkara kriminal. Dua kali menjalani penjara, sekuat apapun mental seorang Nurdin Halid, tokh ia juga manusia yang memiliki rasa takut. Nurdin Halid sudah diincar KPK karena menerima dana cek pelawat sebesar Rp. 500 juta dari anggota DPR periode 2004-2009 asal Partai Golkar, Hamka Yamdhu yang juga mantan Bendahara Umum PSSI, yang kini mendekam di penjara. Nurdin juga tengah dihadang kasus menerima uang Rp. 100 juta dari Manajer kesebelasan Persisam Samarinda, yang telah divonis bersalah oleh hakim Pengadilan Negeri Samarinda.


www.cardiyanhis.blogspot.com
http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Jumat, 25 Maret 2011

Mengamati Persib Bandung Sekarang? Cape Deh!

Oleh Cardiyan HIS


Persib melumat Persiwa Wamena 5-2. Nikmatilah dulu kemenangan ini, karena kemenangan begitu indah. Apalagi semua gol yang dibikin kedua tim sangat indah bahkan berkelas dunia. Namun ujian Persib sebenarnya manakala menghadapi pemimpin klasemen sementara ISL, Persipura Jayapura, Minggu 27 Maret 2011. Persib membobol atau malah dibobol banyak gol oleh Persipura?






Menonton pertandingan-pertandingan Persib sungguh mengecewakan belakangan ini. Kesebelasan elite yang digadang-gadang bakal menjuarai kompetisi ISL (Indonesia Super League) 2010-2011 ini malah berkutat di papan bawah. Sungguh sangat memprihatinkan. Karena sebenarnya dari segi materi pemain, Persib adalah yang paling memiliki pemain-pemain berkelas dan berharga kontrak mahal.

Persib mengawali kompetisi diperkuat oleh sedikitnya 6 pemain nasional Indonesia (Markus Horison, Maman Abdurahman, Nova Arianto, Eka Ramdani, Hariono dan Christian Gonzales) ditambah 2 pemain nasional Singapura (Syahril Ishak/kapten timnas Singapura dan Baehaki Kaizan). Tak mengherankan bila Persib memiliki nilai jual tinggi didukung suporter terbanyak di Indonesia. Hal ini sedikit banyak meringankan manajemen Persib dalam menggalang dana sponsorship, sehingga Persib bersama Arema Malang merupakan dua tim yang telah berhasil membebaskan diri dari ketergantungan dana subsidi Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD).






Dari segi kualitas permainan, Persib selama ini dikenal sebagai tim yang lebih mengutamakan teknik ketimbang permainan keras. Ikon permainan Persib dengan bola-bola tik-tak merayap dari bawah yang diakhiri dengan gol yang mematikan lawan,sungguh sangat indah ditonton. Bahkan StarTV Hong Kong berniat membeli khusus liputan pertandingan yang melibatkan Persib Bandung. Jaman kejayaan Persib di tahun 1980an yakni era Ajat Sudrajat dengan teknik tinggi misalnya selalu disandingkan dengan lawan PSMS Medan yang bermain keras tetapi tekniknya biasa saja. Permainan teknik tinggi Persib ditaklukkan kekerasan permainan PSMS adalah kemenangan adu strategi pelatih dan adu mentalitas pemain. Persib menang teknik, tetapi PSMS menang mental. Maklum Persib sampai dua tahun berturut-turut kalah adu penalti lawan PSMS di final kompetisi PSSI 1983/1984 dan 1984/1985. Jadilah PSMS Medan juara dua tahun berturut-turut dan Persib hanya juara kedua dua tahun berturut-turut pula. Sebaliknya, kalau lawan Persib adalah tim yang lebih mengutamakan bermain teknik seperti Persija Jakarta, Persipura Jayapura, Persebaya Surabaya, Arema Malang, maka Persib akan lebih banyak memenangi pertandingan.


Nah, setelah terseok-seok dari pertandingan ke pertandingan Persib di kompetisi ISL putara pertama musim ini, Persib melakukan belanja pemain baru yang cukup berhasil pada pemain-pemain Matsunaga Sohei, Miljan Radovic dan Abanda Herman. Dan keindahan permainan Persib terakhir lawan Persiwa Wamena kembali muncul. Bukan saja karena Persib memenangi pertandingan dengan skor telak 5-2. Tetapi semua gol yang terjadi oleh masing-masing tim sungguh indah, yang tidak terjadi setiap pertandingan kompetisi. Ketika kompetisi domestik yang lebih sarat dengan kerusuhan dan kekerasan pemain maupun suporter dan kualitas wasit yang diragukan serta kisruh kepengurusan PSSI Nurdin Halid, kali ini kita disuguhi permainan Persib dan Persiwa yang bermain terbuka yang sangat dinamis, enak ditonton.


Bagi penulis yang pernah menonton langsung pemain legendaris Pele dan Rivelino di stadion Senayan, Jakarta tahun 1970an, sungguh tak akan pernah melupakan bagaimana indahnya tendangan pisang keduanya. Dari kesebelasan Indonesia, kapten timnas Indonesia tahun 1980an, Ronny Pattinasarani sangat piawai dalam melakukan tendangan pisang untuk bola-bola mati yang sebagian besar menghasilkan gol. Dan tendangan pisang play maker Persib, Miljan Radovic dari sisi kiri lawan Persiwa sungguh sangat indah melengkung sampai akhirnya merobek pojok atas gawang Persiwa. Sang penjaga gawang Persiwa pun sampai bengong tak bereaksi. Begitu pula assist yang diberikan Radovic ke Hilton Moreira melengkung mengecoh cegatan penjaga gawang Persiwa, sehingga tendangan volley first time Hilton Moreira dengan mudah menembus jala lawan.


Pelatih kepala Persib, Daniel Rukito, yang sebenarnya memiliki asisten pelatih, Robby Darwis -----yang kariernya sebagai pemain belakang Persib dan tim nasional sangat cemerlang----- seharusnya lebih mampu membenahi kelemahan mencolok Persib di lini belakang. Pekerjaan rumah tim pelatih Persib ini sangat banyak, sebab gawang Persib telah kebobolan 33 gol berbanding mencetak 27 gol dari 18 pertandinga. Saya tak habis mengerti dua pemain belakang Persib sekaligus pemain nasional, Maman Abdutrahman (kapten) dan Nova Arianto begitu mudahnya ditembus pemain depan lawan. Koordinasi mereka di lini belakang sangat kacau balau. Komunikasi tidak jalan. Sering kali mereka hanya melihat bola yang sedang dipegang lawan tetapi tidak melihat pergerakan tanpa bola pemain lawan lainnya. Akibatnya gol-gol dengan sangat mudah terjadi ke gawang Persib, baik yang berasal dari umpan silang pemain sayap lawan maupun yang berasal dari serangan balik cepat lawan.


Maka menghadapi pertandingan melawan pemimpin klasemen sementara Persipura, Jayapura, merupakan ujian yang sebenarnya bagi Persib. Apakah Persib mampu menghambat laju Persipura ke tangga juara ISL dengan membobol gawangnya atau gawang Persib malah yang dibobol banyak gol oleh kepiawaian seorang Boaz Salossa, sang top scorer sementara ISL dengan 19 gol dari 17 pertandingan!

www.cardiyanhis.blogspot.com
http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Sabtu, 19 Maret 2011

Topi “Panama Americana”

Oleh Cardiyan HIS


Bukan Americana tapi Rajapolah. Menjadi pilihan tutup kepala para tokoh nasional dan internasional. BJ Habibie dan Santana pun dengan santai dan “pede” mengenakannya sangat pas pantas.



Anda pasti sudah mendengar tentang nama topi Panama. Hanya barangkali, belum dapat mengira-ngirakan dengan jelas rupa topi itu. Presiden RI ketiga BJ Habibie adalah salah seorang yang rajin menggunakan topi Panama sebagai penutup kepalanya di kala bepergian santai. Dan yang paling aktual adalah manakala pemusik jazz kelas dunia Santana tampil di Java Jazz Festival Februari 2011 lalu mengenakan topi Panama pada saat tampil di panggung.




Topi Panama selalu dihubungkan dengan nama Panama americana bukan karena topi ini didatangkan dari Amerika Latin tetapi memang nama Latin tanaman Panama adalah bernama Panama americana. Ternyata tanaman ini memang tumbuh subur di daerah Rajapolah (Tasikmalaya, Jawa Barat). Berkat tanaman ini Rajapolah merupakan daerah sentra industri kerajinan tangan terbesar dan terhalus di Indonesia mengalahkan Tangerang (Banten) dan Gombong (Jawa Tengah) sampai sekarang.



Dulu sebelum tahun 1901, pekerjaan anyam menganyam ini merupakan monopoli daerah Tangerang. Hanya saja di Tangerang ini topi anyaman dibuat dari pohon Pandan (Pandanus tectorius) dan Bambu Tali atau Bambu Apus (Gigantochloa apus). Tetapi sejak tahun 1901, atas jasa “perintis peranyaman” Kyai Haji Jasin almarhum, kiblat dunia anyam menganyam topi beralih ke Rajapolah.

Tentang bagaimana kejadiannya hingga Panama americana banyak ditanam orang di Rajapolah, penulis sendiri sebagai anak seorang pengusaha kerajinan tangan di Rajapolah, kurang begitu mengetahuinya dengan pasti. Tetapi agaknya, hal ini merupakan karunia Tuhan YME belaka kepada penduduk Rajapolah (Tasikmalaya), yang tidak boleh dilupakan begitu saja.

Cara Menanam Pohon Panama
Pohon Panama americana dapat tumbuh dengan baik di daerah yang ketinggiannya paling rendah 250 meter dari permukaan laut (Mean Sea Level). Sudah tentu daerahnya harus yang curah hujannya cukup tinggi. Penanamannya dilakukan dengan bibit-bibit yang terdiri dari anak-anak pohon Panama itu. Sebaiknya ditanam pada permulaan musim hujan, sehingga kemungkinan tumbuh lebih terjamin. Sebab yang diharapkan dari pohon-pohon Panama ialah pucuk daunnya yang lebar dan kuat.

Bibit-bibit Panama harus ditanam di dalam lobang galian sedalam 0.5 meter, dengan jarak masing-masing 1 meter satu sama lain. Tentu saja lobang-lobang galian ini harus dipersiapkan dua minggu sebelum penanaman. Untuk ini barangkali faktor pupuk sangat menentukan. Tidak usah pupuk kimia seperti urea, sendawa chili atau ZA. Penduduk Rajapolah hampir semuanya menggunakan pupuk kandang atau kompos.
Pucuk Panama

Untuk bahan topi, yang diambil dari pohon Panama ialah pucuknya. Setelah pohon Panama berumur setahun, pucuk pertama sudah boleh dipetik. Asal saja hama tidak merusak daun, panjang pucuk ini bisa mencapai 0.5 meter lebih. Hama pohon yang harus diperhatikan ialah Kupik Indol-indol (Mylabris pustulata) atau yang disebut oleh penduduk Rajapolah dengan nama Ulam. Begitu pula rumput liar bisa menghambat pertumbuhan bahkan mematikan pohon Panama. Di antaranya rumput Alang-alang (Imperata cylindrica) atau juga rumput Teki (Eleocharis dulcis).

Hati-hatilah dalam memetik pucuk karena bisa-bisa tercabut dengan pohonnya. Sebaiknya pergunakanlah pisau tajam. Perhatikan pula jangka waktu memetik pucuk. Setelah pemetikan pertama, pemetikan berikutnya hanya boleh dilakukan 3 bulan kemudian. Kalau Anda berdisiplin, sebuah pohon Panama dapat menghasilkan pucuk berturut-turut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun, tentu saja Anda harus mulai memikirkan peremajaan atau penanaman pohon baru.

Proses penanaman pohon Panama tidak serumit menanam pohon Pandan. Itulah sebabnya pucuk pohon Panama harganya lebih murah dibanding daun Pandan. Mungkin disebabkan soal harga inilah penanaman pohon Panama tidak terlalu diusahakan secara besar-besaran.

Pohon Panama ini ditanam secara “iseng” belaka. Sehingga para penanam “iseng” ini sudah merasa “untung” jika pucuk-pucuk pohon mereka terjual pada saat panenan. Itulah pula yang menjadi sebab, bahan baku topi Panama tidak menentu di pasaran Rajapolah. Hal ini menyebabkan harga topi Panama meloncat-loncat tak dapat dipegang dan kecenderungannya naik. Tak mengherankan permintaan pemakai terus mengalir ke pengusaha-pengusaha “artshop” yang menjadi tempat penampungannya.

Proses Pengolahan dan Pembuatan Topi Panama
Pucuk Panama yang baru dipetik dari pohonnya masih belum bisa dipakai sebelum diolah dulu. Proses pengolahannya sederhana saja. Mula-mula Anda sediakan sebuah wadah. Wadah apa saja dipakai asal kira-kira tepat untuk merebus pucuk. Misalnya blik bekas minyak goreng atau bekas kue pun jadilah.

Setelah blik diisi air dan dijerangkan di atas api, tunggulah supaya air mendidih dulu. Masukkan pucuk-pucuk Panama yang hendak direbus itu ke dalam air mendidih. Tak usah lama-lama, seperempat jam saja sudah cukup. Biasanya air rebusan akan memutih. Itulah tandanya rebusan pucuk sudah matang. Pucuk yang sudah direbus ini pun bersalin rupa menjadi helai-helai memanjang lurus. Kemudian barulah dikeringkan dengan menjemurnya di udara terbuka.

Proses selanjutnya ialah mengayar. Mengayar artinya menyobeki daun-daun pucuk ini menjadi helaian-helaian kecil. Dalam membuat ayaran Pandan, orang menggunakan suwakan (micro stome) agar ayarannya seragam ukurannya. Tetapi pada ayaran Panama, para pengrajin Rajapolah mengayar pakai kuku-kuku tangannya sebagai pengiris. Entah “alah bisa karena biasa” kata pepatah atau entah apa, irisan-irisan atau ayaran-ayaran yang dihasilkan pengrajin Rajapolah benar-benar mengagumkan. Oleh karena itu kuku-kuku ibu jari para pengayar yang juga merangkap penganyam, biasanya panjang-panjang.

Proses mengayar selesailah sudah. Kini tinggal lagi proses menganyam. Para penganyam memulai pekerjaannya dengan menganyam dulu bagian atas topi. Mulai di tengah-tengah bagian atas topi ini, penganyam membuat anyaman berbentuk bintang. Apabila bentuk bintang ini terus dilanjutkan, maka anyaman akan merupakan sebuah hamparan yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10 cm kali 10 cm. Barulah sekarang penganyam meneruskan pekerjaannya ke badan topi. Menganyam bagian badan ini dikerjakan dengan pertolongan alat Sunglon yakni alat pembentuk badan topi dari kayu. Penganyaman di bagian ini dilakukan dengan menurutkan lekuk-lekuk pola Sunglon. Proses menganyam topi Panama lebih sulit sulit dari pada menganyam topi Pandan atau topi Bambu. Kesulitannya terletak pada pendeknya ayaran Panama ini, sehingga sambungan-sambungan di bagian topi harus disisipkan ke sebelah dalam. Begitulah pekerjaan menganyam topi Panama ini berlangsung hingga akhirnya rangka topi pun selesailah sudah. Sebuah topi Panama dapat memakan tujuh helai pucuk.

Topi Panama yang menghiasi etalase toko-toko eksklusif, sudah tentu lebih putih warnanya dari pada ketika topi ini masih berada dalam proses penganyaman. Topi Panama yang telah selesai dianyam, masih harus diputihkan lagi dengan obat-obat pemutih kimiawi tertentu. Proses pemutihan ini boleh dikatakan merupakan proses “finishing touch” dalam proses pembuatan topi Panama setengah jadi. Oleh karena itu disarankan, agar Anda jangan sekali-kali memakainya topi Panama pada waktu hujan. Air hujan dapat menimbulkan proses kimiawi yang akan menyebabkan topi berubah tidak bersih lagi. Kecuali..... tentu saja jika Anda banyak duit untuk membeli topi Panama yang baru!

Minggu, 13 Maret 2011

Menghidupkan Kembali Budaya Relaks pada Manusia (ITB) Indonesia

Oleh Cardiyan HIS


Lomba band antar angkatan alumni ITB dan pesta seni lainnya adalah contoh bagaimana merelakskan Manusia (ITB) Indonesia. Budaya relaks perlu dihidupkan kembali setelah kita bekerja keras, berpikir keras, berjuang dalam kesabaran untuk mayoritas rakyat Indonesia yang justru malah semakin terpuruk dan terpinggirkan di pasca Reformasi ini.


Anak ITB “maen ben” euy! Sungguh menghebohkan. Karena diformat dalam bentuk “Lomba Band antar Angkatan Alumni ITB”. Dan hebatnya para pemusik kelas nasional bahkan internasional seperti Purwacaraka (TI 1979), Doni Suhendra, Hari Sungkari (gitaris), Fuad Zakaria (drummer, GD 1973), penyanyi Agnes Sitompul (MA1979) ikut dalam lomba dan tentunya tampil sangat memukau. Sungguh saya sangat menyesal tak menyaksikan teman-teman alumni unjuk kemampuan, karena pada hari Jum’at, 11 Maret 2011 yang sama, saya sendiri harus dengar pendapat di depan para anggota DPRD Katingan, Kalimantan Tengah, tentang pembangunan proyek PLTU Mulut Tambang 62 MW.

Dan kehebohan berlanjut khas anak ITB yakni pasca penentuan pemenang. Yang difavoritkan juara Alumni ITB Angkatan 1983 (juara 2) tetapi yang akhirnya juara Alumni ITB Angkatan 1984. Karena ada banyak kritik tentang penilaian juri, sang Dewan Juri melalui Amrie Noor (AR 1977) cukup sewot juga atas insinuasi salah seorang alumnus wanita ITB yang band angkatannya kalah. Sabar-sabar.

Ide dasar dan atau esensi lomba band antar angkatan alumni ITB adalah lebih ditekankan kepada partisipasi untuk menjalin keakraban antar alumni ITB ketimbang suatu komba dalam arti sebenarnya. Bahwa Alumni ITB Angkatan 1984 yang menjuarai ya Alhamdulillah, anggap saja sebagai bonus (seperangkat alat band lengkap lho!). Atau dalam kata-kata Eko Tjahjo P., Direktur Eksekutif Ikatan Alumni ITB, pemenangnya adalah semua partisipan, baik itu kontestan, panitia maupun dewan juri. Bukan basa-basi. Karena di tengah kesibukan sehari-hari, mereka masih bisa menyempatkan untuk mempersiapkan diri ini semua. Sehingga penyelenggaraan lomba menjadi sukses.

Saya sangat senang, alumni ITB menikmati relaks di pasca Jum’atan. Mengapa? Karena mayoritas dari mereka selama ini terlalu larut dalam kesibukan bahkan dalam suasana di bawah tekanan. Mereka terus terjebak dalam suasana rutinitas yang sangat menjemukan. Bahkan manakala mereka menikmati suasana rekreasi pun masih berpikir tentang sesuatu yang lebih serius. “Saya memang sering diundang untuk main tenis, yang meskipun penting juga tetapi harapan saya tentu lebih dari sekedar main tenis, yang sifatnya lebih untuk tujuan rekreatif”, ungkap Sarwono Kusumaatmadja (Sipil ITB 1964), mantan Menteri di kabinet rejim Soeharto dan Gus Dur, kepada penulis beberapa waktu silam. Sementara Rachmat Witoelar (Arsitektur ITB, 1964), mantan Menteri KLH di Kabinet Indonesia Bersatu I, menganggap undangan-undangan yang sifatnya rekreatif memang perlu. “Justru untuk merelakskan ketegangan alumni ITB dari kesibukan sehari-hari yang sering kali berada di bawah tekanan”.

Istilah Budaya Relaks pertama kali dipopulerkan oleh DR. Soedjoko, dari Seni Rupa ITB pada tahun 1974 adalah suatu budaya positif yakni relaks setelah melakukan kerja keras dan kerja otak sepanjang hari. Soedjoko menarik garis pengamatannya kepada budaya kerja keras pada manusia di negara-negara maju yang mengakhirinya di ruang-ruang relaks yang berkesenian dan panggung dinamis sportifitas olahraga. Intinya adalah adanya keseimbangan jiwa, adanya keseimbangan penggunaan otak kiri dan otak kanan, yang ujung-ujungnya akan menghasilkan produktifitas tinggi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah relaks nonton anak ITB “maen baen” dan sebagian pentonton dapat pula kaos “anak ben ITB 1976” sejak sore Jum’at; setelah relaks bersama keluarga di hari Sabtu dan Minggu yang panjang. Maka di hari Senin, kita mulai kerja kembali. “I like Monday”.

www.cardiyanhis.blogspot.com
http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Sabtu, 26 Februari 2011

Menyedihkan Mantan Aktivis Kampus Menjadi Diktator dan atau Koruptor

Oleh Cardiyan HIS


Sejak lama kampus-kampus di Indonesia sudah bukan menjadi lembaga pendidikan lagi tetapi hanya lembaga ujian. Bahkan ditengarai ikut berperan juga sebagai pencetak koruptor dan atau diktator? Proses pendidikan karakter secara sistematis dan berkesinambungan adalah suatu keniscayaan. Tetapi kampus sering berkilah pendidikan karakter hanya buang-buang waktu dan duit.



Dipo Alam, Menteri Sekretaris Kabinet RI dilaporkan Media Group (“Metro TV” dan harian “Media Indonesia”) ke Bareskrim Mabes Polri. Karena waktu 3x24 jam yang diberikan “Metro TV” dan “Media Indonesia” kepada Dipo untuk meminta maaf tidak juga dipergunakan Ini sebagai buntut pernyataan Dipo Alam, agar memboikot 2 media elektronik (“Metro TV” dan “TV One”) dan satu media cetak harian “Media Indonesia”, yang dinilai selalu bersikap tendensius menjelek-jelekkan pemerintahan SBY. Dipo Alam, menurut pengacara Media Group DR. OC Kaligis, SH, telah melanggar UU 14/2008 tentang “Keterbukaan Informasi Publik” dan UU 40/1999 tentang “Pers” pasal 4 ayat 2.


Dalam pada itu, DR. Adnan Buyung Nasution, SH tak habis pikir. Seorang Dipo Alam yang dulu dikenal sebagai seorang aktivis Ketua Dewan Mahasiswa UI 1975-1976 ini berubah total menjadi seorang otoriter, seorang diktator. "Saya malu jadinya. Dipo Alam itu dulu seorang aktivis, saya ikut membela dia bersama, Hariman dan WS Rendra. Sebagai mantan aktivis kampus seharusnya dalam jiwanya terbentuk segala sikap anti-otoriter. Lha kok sekarang dia dengan jabatannya sebagai Menteri Sekretaris Kabinet menjadi sewenang-wenang," kata Buyung kepada sebuah statsiun televisi.


Fenomena Dipo Alam ini semakin menambah gugatan masyarakat bahwa para mantan aktivis kampus terkenal di Indonesia diragukan integritasnya untuk menjadi agen perubahan Indonesia yang semakin terpuruk. Gugatan masyarakat ini semakin mengemuka karena sebelumnya ada mantan aktivis kampus ITB yang dipenjara karena kasus suap di Komite Pengawasan dan Perlindungan Persaingan Usaha. Dan awal Februari 2011 ada mantan aktivis kampus ITB yang ditahan KPK atas suap cek pelawat pemenangan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Miranda Goeltom. Masyarakat pantas menggugat, alih-alih diharapkan menjadi agen perubahan yang kredibel, eh mereka malah menjadi diktator dan atau koruptor! Bahkan para mantan aktivis kampus ITB yang pernah dipenjara gara-gara melawan rejim Soeharto kepada penulis mengungkapkan: “Saya sangat muak dan tak akan pernah mau membesuk sesama rekan aktivis kampus kalau mereka dipenjara karena kasus korupsi!”.


Nah, kalau yang jelek-jelek terekspose dari para mantan aktivis kampus, maka almamater kampus dari anak durhaka itu ikut terseret-seret. Bahkan diduga kuat, ITB khususnya ikut pula berperan besar dalam keterpurukan negara Indonesia tercinta ini menjadi negara penuh skandal memalukan. Sehingga Krisis Moneter yang mengawalinya telah meningkat menjadi Krisis Multi Dimensi hingga sekarang ini? (Cukuplah Kampus Mencetak Garong, HU “Pikiran Rakyat”, 5 Maret 2006).


Barangkali penilaian itu memang terlalu ekstrim, karena dalam kenyataannya masih lebih banyak mantan aktivis kampus yang bermoral. Sehingga akibat berita yang “diplintir” wartawan “Pikiran Rakyat” -----atas makalah saya di acara seminar yang diselenggarakan oleh Kabinet Mahasiswa ITB di Aula Timur ITB pada 4 Maret 2006 itu------ saya sempat “dikeroyok” oleh dosen-dosen ITB sebagai penilaian yang sangat kejam.


Almamater memang tak bisa disalahkan terus menerus. Tetapi kampus harus terus menerus diingatkan agar merenungi kembali sebagai lembaga pendidikan dan bukan lembaga ujian. Sebagai lembaga pendidikan, sebagai lembaga penjaga pilar-pilar kebenaran, kampus harus memiliki visi kuat dalam menjalankan misi pendidikan mendidik mahasiswa yang berkarakter kuat disamping mengajar mahasiswa menjadi cerdas. Penekanan kepada bagaimana mendidik mahasiswa menjadi mahasiswa berkarakter kuat baru kemudian mahasiswa cerdas adalah sangat penting karena bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang sedikit memiliki pemimpin yang berkarakter kuat untuk membawa Indonesia lolos dari krisis multi dimensi ini. Sulit membayangkan Indonesia sebagai negara besar kalau kampus papan atas yang diharapkan sebagai pionir tak mampu mendidik para mahasiswanya dengan visi dan misi yang berkarakter kuat, penuh idealisme, berjiwa nasionalisme Indonesia disamping cerdas.


Untuk itu kampus juga harus memiliki para dosen yang berkarakter pendidik, berkarakter pelatih. Yang memiliki kesabaran dalam melakukan proses pendidikan kepada para mahasiswanya. Proses latihan yang sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya bagi para mahasiswa, jangan dipandang oleh para rektor dan jajarannya sebagai buang-buang waktu dan buang-buang duit. Tetapi ini semua adalah bagian dari bagaimana kampus papan atas yang memperoleh bahan baku lulusan SLA terbaik harus dapat mengimbanginya dengan memberikan nilai tambah tinggi menghasilkan sarjana yang berkarakter kuat, berintegritas tinggi, penuh idealisme, penuh nasionalisme Indonesia disamping cerdas.


http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Minggu, 20 Februari 2011

Menggulingkan Nurdin Halid? Serahkan kepada Ical

Oleh Cardiyan HIS

Nurdin Halid adalah sosok fenomenal bagaimana seorang anak manusia harus survive. Mana mau dia disuruh turun. Sedangkan semasa di dalam bui saja dia bisa mengendalikan PSSI. Ketua Umum PSSI, bagi Nurdin Halid adalah segalanya. Jabatan kebanggaan yang sangat prestisius apalagi setelah dirinya dua kali menjadi terpidana dan beberapa kasus lagi masih menghadang di depan. Lalu?


Bagaimana menggusur Nurdin Halid? Menurut penulis, ya serahkan saja ke Aburizal Bakrie (Ical), Ketua Umum Golkar. Lho ke Ical? Tentu saja, karena “keberhasilan” timnas masuk final Piala AFF ybl diklaim Nurdin Halid adalah karena kemampuan dirinya memimpin PSSI. Dan kemudian ada embel-embelnya, kata Nurdin Halid lagi, karena dukungan Partai Golkar! Nurdin memang jagoan memanipulasi fakta. Ketika lawannya menekan dengan jalur politik, Nurdin berkilah jangan mempolitisi sepakbola. Dan sebaliknya manakala Nurdin mengklaim keberhasilan PSSI digadang-gadang berkat dukungan Partai Golkar.

Nurdin Halid sendiri memang kader Golkar “terpercaya” dan sudah menjadi rahasia umum menjadi “ATM Berjalan” sejak jaman rejim Soeharto. Dan dalam rangka pemenangan Pemilu Presiden 2014, Nurdin Halid telah ditunjuk Ical sebagai Ketua Pemenangan Pemilu Golkar se Sulawesi. Bukan main!

PSSI yang bulan Maret 2011 nanti akan mengadakan Kongres antara lain agendanya “meresmikan” Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI yang ketiga kali berturut-turut; telah memakan korban-korbannya. Arifin Panigoro (teman sekampus Ical di ITB, bahkan sama-sama dari jurusan Teknik Elektro ITB), yang memiliki PS Bandung Raya dan menjadi pembina dan sponsor tetap kompetisi PSSI U-15 adalah salah satu korban “kepiawaian” Nurdin Halid berorganisasi di PSSI (dan Golkar). George Toisutta, jenderal bintang 4 yang sekaligus KASAD yang nota bene puluhan tahun membina Persatuan Sepakbola Angkatan Darat (anggota PSSI) juga tak lolos verifikasi Panitia Pemilihan PSSI yang nota bene kroni-kroni Nurdin Halid.

Dua tokoh kuat secara figur dan keuangan telah dilindas kehebringan Nurdin Halid. Gebrakan Arifin Panigoro melalui Liga Primer Indonesia (LPI) secara konsepsional dan komersial adalah bagus. Tetapi itu saja tidak cukup karena “negara adidaya” bernama FIFA lebih mendukung “perpanjangan tangannya” di Indonesia yakni kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) di bawah Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid. Hebatnya FIFA pun tutup mata dengan Statuta FIFA yang dimanipulasi oleh Nurdin Halid dan membolehkan “Nurdin good boy Halid” terpidana dua kali dan beberapa kasus pidana bakal menghadang di depannya; lolos verifikasi untuk menjadi calon Ketua Umum PSSI 2011-2015. Sebuah pelecehan akal sehat tetapi suatu fakta ini kehebatan kekuasaan Nurdin Halid.

Gerakan gusur Nurdin Halid melalui jaringan Facebook dan Twitter yang telah mencapai jutaan tetap tak mampu menurunkan nyali Nurdin Halid untuk mundur. Begitu pula ribuan demonstrasi para maniak sepakbola di seluruh Indonesia nyata-nyata tidak efektif. Bahkan yang efektif adalah slogan Nurdin Halid sendiri; “Saya sangat mencintai demokrasi. Sederhana saja. Saya hanya bisa diturunkan oleh anggota PSSI melalui Kongres PSSI”. Hebatnya, anggota-anggota PSSI sudah “disuap” macam-macam mulai amplop, entertaintments, studi banding ke klub-klub Real Madrid dan Manchester United dan entah apalagi.

Jadi untuk menggusur Nurdin Halid, menurut penulis hanya dua cara saja yang akan sangat efektif:

Pertama; serahkan kepada Ical, bosnya Nurdin Halid di Partai Golkar. Kalau Partai Golkar ingin memenangi Pemilu 2014 sekaligus mencalonkan Ical jadi Presiden RI 2014, jangan pelihara kader yang bermasalah seperti Nurdin Halid. Penggemar sepakbola itu mayoritas pemilih muda yang nota bene menjadi sasaran utama garapan Partai Golkar. Mana mau anak muda Indonesia memilih Partai Golar kalau juru kampanyenya orang-orang bermasalah seperti Nurdin Halid atau bahkan Ical sendiri yang masih bermasalah karena masih belum juga melunasi kewajiban kepada korban lumpur Lapindo. Dari sekarang Ical sebaiknya meminta Nurdin Halid mundur dari pencalonan Ketua Umum PSSI 2011-2015 demi misi yang lebih besar bagi Partai Golkar memenangi Pemilu 2014dan Pilpres 2014.

Kedua; sebenarnya lebih gampang lagi yakni pakai jalur hukum baik melalui KPK maupun Polisi dan Jaksa. Mengapa? Karena Nurdin Halid hanya takut dengan urusan hukum pidana. Sedikitnya ada 2 (dua) bukti pidana yang melilit dirinya. Yakni bukti aliran dana dari penetapan Pengadilan di Samarinda bahwa Nurdin Halid dan Andi Darussalam menerima aliran dana korupsi APBD dari terdakwa mantan manajer Persisam masing-masing Rp. 100 juta dan Rp. 80 juta. Kemudian bukti pengakuan Hamka Yamdhu, mantan anggota DPR 2004-2009 dari Partai Golkar yang juga mantan Bendahara PSSI pada Pengadilan Tipikor, bahwa Nurdin Halid menerima dana Rp. 500 juta berupa suap cek pelawat pemenangan Miranda Goeltom, sebagai Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia.

Masalahnya Nurdin Halid pun tak bakalan tinggal diam. Otak Nurdin barangkali sudah berpikir melampaui jamannya. Apalagi KPK, Polisi dan Jaksa sering berolahraga “jalan di tempat” dari pada bergerak jalan aktif mencokok para koruptor kelas kakap.