Oleh Cardiyan HIS
ITB sedang berkabung berat. Almamater sedang menangis sedih, bahkan tersedu-sedu. Sudah sepantasnya bendera setengah tiang dikerek di pintu gerbang kampus Ganesha. Mengapa? Karena hanya ulah plagiarisme salah seorang alumnus S-2 dan S-3 Teknik Elektro ITB, Mochamad Zuliansyah, telah mencederai nilai-nilai kejujuran dan integritas, yang sepanjang 90 tahun telah menjadi kebajikan umum di ITB.
Bagaimana tidak terpukul harga diri civitas academica ITB, karena untuk bisa bergabung menjadi “ITB Club” harus lolos seleksi masuk ITB yang sangat-sangat ketat sepanjang sejarah seleksi masuk PTN di Indonesia, bahkan menjadi Selektivitas Mahasiswa yang terketat dan terbaik se Asia Pasifik versi AsiaWeek (Cesar Bacani, “Time of Ferment”, Hong Kong, June 30, 2000). Ujian seleksi masuk ITB yang jujur menjadi suatu lembaga yang tak tersentuhkan, yang “sakral”. Plus ratusan ujian otak dan mental yang mengiringinya kemudian sepanjang kuliah di ITB merupakan kebanggaan yang tak bisa dipertukarkan dengan uang berapa pun nilainya.
Para alumni S-1 Teknik Elektro ITB yang paling terpukul harga dirinya mungkin masih sedikit “terhibur” bahwa MZ, BUKAN alumnus S-1 Teknik Elektro ITB karena dia lulusan S-1 sebuah sekolah tinggi di daerah Bandung Selatan. Tetapi adalah fakta dia telah lulus S-2 bahkan S-3 Teknik Elektro ITB yang kini bernama Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Jadi para dosen S-2 dan S-3 ITB tidak bisa cuci tangan begitu saja terhadap siapa pun dan dari perguruan tinggi mana pun mahasiswa S-2 dan S-3 itu berasal.
Bahwa MZ melakukan plagiarismenya semasa masih menjadi mahasiswa S-3 STEI ITB tetap adalah fakta civitas academica ITB telah dicemari. Penulis “beruntung” yang pertama kali menerima email pribadi MZ yakni Kamis, 15 April 2010 jam 19.54 dan belakangan pada jam 20.41 ia juga mengirim ke mailist Ikatan Alumni ITB serta terakhir ke detik.com jam 21.54. MZ telah mengakui sepenuhnya atas tindakan plagiarisme atas karya orang lain yakni Siyka Zlatanova berjudul “On 3D Topological Relationships”, yang sudah dipublikasikan dalam 11th International Workshop on Database and Expert System Applications, IEEE terbitan tahun 2000.
Ya, MZ telah mengakui dosanya. Yang terpenting kasus ini hendaknya menjadi yang pertama dan terakhir dalam perjalanan ITB. Seperti adagium terkenal Perancis; “Noblesse Oblige”, civitas academica ITB jangan hanya menikmati semua kebaikan saja, keuntungan saja, bahkan “teraihnya kekuasaan saja” atas nama besar ITB; tetapi juga harus siap dan berjiwa besar dalam memikul tanggungjawab sesulit apa pun terhadap rakyat Indonesia yang telah melahirkannya. Kita harus siap menerima cobaan seberat apa pun.
Civitas academica ITB harus melakukan mawas diri. Kita boleh bersedih atas musibah ini tetapi jangan terus-terusan larut pula dalam kesedihan. Dalam forum IEEE yang memang sangat prestisius masih banyak alumni muda (asli) S-1Teknik Elektro ITB yang menerbitkan karya-karya “Advanced Research” antara lain Khoirul Anwar (JAIST, Japan), Anak Agung Julius (Rensselaer Politechnic Institute, USA), Stephen Prajna (California Institute of Technology at Pasadena, CA, USA), Hendra Nurdin (ANU at Canberra, Australia), Dina Shona Laila (Imperial College London) dan tentu saja dari kalangan dosen muda Teknik Elektro ITB seperti Pekik Dahono.
Para dosen ITB yang sedikitnya 800 bergelar PhD dari berbagai “World Class Universities” dari seluruh populasi 1.025 dosen, sejak dini harus memiliki mindset dalam menangani mahasiswa adalah sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan hanya proses pengajaran saja. Memang ada Biaya Uang disini, begitu pula Biaya Waktu yang harus dikeluarkan oleh ITB dan para dosennya. Namun bila mindset ini diterapkan, saya yakin ITB secara mendasar, berjangka panjang dan strategis akan berhasil menaikkan nilai tambah atas masukan mahasiswa S-1 ITB yang telah sangat baik ini, menjadi lulusan yang secara akademis cemerlang juga memiliki jiwa dan karakter kuat dalam mengusung panji-panji kebenaran; memiliki komitmen dan tanggungjawab tinggi terhadap Bangsa Indonesia; memiliki kepekaan tinggi terhadap problema yang dirasakan Rakyat Indonesia yang telah melahirkannya.
Tetapi apakah ITB telah memiliki banyak dosen yang demikian? Profesor Djoko Soeharto yang khusus mengundang saya ke kantornya di Majelis Wali Amanah ITB ketika lagi ramai-ramainya proses pemilihan Rektor ITB, terus terang mengakui bahwa untuk menerapkan itu: “Kan harus tersedia dosen yang memiliki mindset itu”. Jadi kesimpulannya; ITB masih harus secara terus menerus mengupayakannya. Rektor ITB, Prof.DR. Akhmaloka sendiri kepada detik.com mengakui para dosen ITB hendaknya lebih care dalam membimbing para mahasiswanya; sehingga tidak akan pernah kejadian mahasiswa S-3 ITB melakukan plagiarisme.
Ya komitmen ini harus terus diupayakan dengan kesabaran tinggi, sehingga misalnya tidak akan pernah ada lagi dosen ITB yang tengah berkuasa petantang-petenteng dengan jabatannya “sangat keras” terhadap kegiatan mahasiswa telah ditinju oleh seorang “dosen gaul” yang membela mahasiswa. Saya sangat yakin upaya yang lain-lain meskipun penting tetapi hanya bersifat teknis.
Link yang bisa diakses:
http://www.detiknews.com/read/2010/04/15/215436/1339334/10/zuliansyah-akui-berbuat-curang
http://www.detiknews.com/read/2010/04/16/001841/1339353/10/itb-bentuk-tim-untuk-telusuri-disertasi-zuliansya
http://www.detiknews.com/read/2010/04/15/221028/1339340/10/zuliansyah-diblacklist-ieee-tiga-pembimbingnya-tidak
http://www.detiknews.com/read/2010/04/15/204042/1339319/10/plagiarisme-dilakukan-zuliansyah-saat-berstatus-mahasiswa-s3
http://ia-itb.blogspot.com
http://cardiyanhis.blogspot.com
Kamis, 15 April 2010
Jumat, 02 April 2010
Rakyat (Sepakbola) Keok: “Duet” SBY-Nurdin Halid Menang!
Rakyat (Sepakbola) Keok: “Duet” SBY-Nurdin Halid Menang!
Oleh Cardiyan HIS
Namun ini baru pertempuran kecil, perang sesungguhnya belum berakhir. DPR masih bisa melakukan Yudisial Review kepada Mahkamah Konstitusi tentang qorum sidang DPR untuk Hak Menyatakan Pendapat. Dan KONI bisa membekukan PSSI kalau satu bulan ke depan Nurdin Halid tetap bandel dengan Rekomendasi KSN.
Citra SBY melorot tajam gara-gara Hak Angket DPR atas kasus Bank Century. Skor akhir 5-3 dimenangi oleh kubu penentang SBY. Sementara di luar sidang DPR, foto-foto SBY diinjak-injak dan dibakar mahasiswa di banyak kota di Indonesia. Belum lagi ada seekor kerbau tambun di perutnya ditulisi “SBY” dibawa begitu lambannya oleh serombongan demonstran mengelilingi beberapa kali bundaran Hotel Indonesia.
SBY yang terkenal sangat peragu sehingga terkesan sangat sabar, kali ini marah besar terutama soal kerbau itu. Kerbau yang tambun dirasakan oleh SBY sebagai dilambangkan terhadap dirinya yang oleh sebagian masyarakat dikesankan sebagai berbadan besar gemuk yang lamban bekerja, lamban mengambil keputusan meskipun negara sudah di tepi jurang. Tetapi kemarahan SBY pelan-pelan redup seiring DPR reses. Dan politik pencitraan SBY kembali dimainkan. Tim Public Relations SBY boleh dipuji kali ini. Mereka jeli memanfaatkan momentum kemuakan rakyat yang mayoritas penggemar sepakbola terhadap Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI. SBY melemparkan ide perlu Kongres Sepakbola Nasional (KSN) untuk mereformasi prestasi sepakbola Indonesia. Tawaran simpatik dilemparkan ke PWI untuk menyiapkan KSN bersama berbagai lapisan masyarakat penggila sepakbola. Biaya sekitar Rp. 3 miliar, sepenuhnya akan disiapkan oleh Menteri Olahraga dan Pemuda Andi Malarangeng (AM).
Tawaran SBY langsung disambar PWI dan segudang media cetak dan elektronik termasuk Gerakan Sejuta Facebooker; para mantan pemain nasional; para supporter hampir semua klub . Targetnya Nurdin Halid harus digusur sebagai Ketua Umum PSSI. Berbagai berita dan ulasan diekspose besar-besaran bahwa Nurdin Halid adalah biang kerok kemerosotan prestasi sepakbola selama 7 tahun menjabat Ketua Umum PSSI. Nurdin Halid (NH) hanya berprestasi dalam mimpi termasuk mimpi menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022 yang akhirnya kandas.
Dan akhirnya kota Malang ditetapkan sebagai tuan rumah. Habis membuka KSN pada 30 Maret 2010 pagi hari, sore harinya SBY diangkat citranya setinggi langit. SBY didampingi AM antri membeli karcis di-closeup habis cameraman dan photographer. SBY patut dicontoh rakyat Indonesia karena dia adalah rakyat gila bola yang mau antri berdesakan demi selembar tiket menonton sepakbola, padahal dia Presiden RI. Dan manakala sebelum kick off dimulai, lagi-lagi SBY turun dari tribun VVIP ke lapangan meskipun hujan rintik-rintik karena mau menyalami para pemain Arema dan Persitara, padahal dia Presiden RI.
Dan setelah pertandingan Arema vs Persitara selesai dengan kemenangan Arema 2-0, arena sidang komisi organisasi KSN dilanjutkan. Rekan saya; Muhamad Kusnaeni, wartawan koran olahraga terbesar di Indonesia “Topskor” yang semula sudah siap membeberkan konsepnya mewakili blok perubahan urung mempresentasikannya. Terlalu banyak anak buah Nurdin Halid yang menghalanginya untuk bicara, belum begitu banyak “preman” yang berwajah angker pendukung NH berkeliaran di ruang dan di luar sidang yang selalu berteriak lantang kalau peserta sidang bersuara menyudutkan NH.
Maka sudah bisa ditebak: pada tanggal 31 Maret 2010 hari kedua sidang sekaligus hari terakhir KSN, kandungan rekomendasi KSN masuk angin. Semua rekomendasi terlalu normatif. Boro-boro merekomendasikan menurunkan Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI. Bahkan dari segi substansi rekomendasi KSN ini sangat mundur yakni meminta agar kegiatan klub berkompetisi dapat dibiayai oleh Pemerintah melalui dana APBN dan atau APBD. Padahal Persib Bandung yang di kompetisi ISL tahun 2008-2009 dikucuri dana APBD Kodya Bandung sebesar Rp. 33 miliar, sekarang telah mampu mandiri karena Persib punya nilai jual tinggi sehingga banyak perusahaan antri untuk menjadi calon sponsor. Begitu pula Arema Malang yang lebih dulu mandiri bahkan siap mau go public, agar saham-sahamnya dapat dibeli oleh masyarakat luas.
Dan permainan diakhiri dengan kekalahan masyarakat sepakbola Indo nesia. Kemenangan politik citra diraih SBY-AM yang berhasil memanfaatkan momentum kuat masyarakat sepakbola membenci kepengurusan PSSI Nurdin Halid untuk mengadakan KSN. Sedangkan kemenangan terbesar dipegang oleh Nurdin Halid tentu saja karena masa jabatannya aman sampai 2011. Bahkan bukan tidak mungkin bisa menjadi Ketua Umum PSSI seumur hidup kalau timas PSSI menjuarai SEA Games 2011 yang akan diselenggarakan di Indonesia. Nurdin Halid yang sekarang status hukumnya sepenuhnya bebas dilawan, sedangkan ketika dia dua kali sedang menjalani hukuman di penjara Salemba, Jakarta saja berhasil menjungkir-balikkan semua kubu lawan antara lain dengan berhasil mengedit statuta FIFA soal status perbuatan kriminal pengurus PSSI!
Namun perang belum berakhir, ini hanya baru pertempuran kecil. SBY masih menghadapi kemungkinan DPR meminta Hak Menyatakan Pendapat. Terlebih suara untuk melakukan Yudisial Review terhadap qorum Sidang DPR akan segera diajukan oleh banyak anggota DPR ke Mahkamah Konsitusi (MK). Kalau hal ini diloloskan MK maka pintu pemakzulan Budiono (SBY) atas kasus Bank Century sangat terbuka kalau mengacu kepada kemenangan telak 5-3 (atau 315 suara anggota DPR penentang SBY).
Nurdin Halid hanya aman-aman saja bila PSSI mampu melakukan reformasi dan membawa timnas juara SEA Games 2011. Tetapi soal reformasi PSSI kita sangat pesimis sebab meskipun sekarang saja sudah ada pelanggaran substansial soal pengangkatan anggota Komite Esksekutif yang tidak sesuai ketentuan FIFA. Begitu juga ambisi timnas juara sepakbola SEA Games 2011 masih fifty-fifty. Kalau semua gagal; resep saya KONI sebagai induk semua cabang olahraga di Indonesia berwenang membekukan kepengurusan PSSI dan FIFA pun tak akan menganggapnya sebagai intervensi. Ayo Bu Rita Subowo (Ketua Umum KONI) jangan takut dengan Nurdin Halid. Para supporter Bobotoh, Bonek, Aremania, Jakmania, Panser dan rakyat sepakbola siap mendukung keputusan KONI.
Oleh Cardiyan HIS
Namun ini baru pertempuran kecil, perang sesungguhnya belum berakhir. DPR masih bisa melakukan Yudisial Review kepada Mahkamah Konstitusi tentang qorum sidang DPR untuk Hak Menyatakan Pendapat. Dan KONI bisa membekukan PSSI kalau satu bulan ke depan Nurdin Halid tetap bandel dengan Rekomendasi KSN.
Citra SBY melorot tajam gara-gara Hak Angket DPR atas kasus Bank Century. Skor akhir 5-3 dimenangi oleh kubu penentang SBY. Sementara di luar sidang DPR, foto-foto SBY diinjak-injak dan dibakar mahasiswa di banyak kota di Indonesia. Belum lagi ada seekor kerbau tambun di perutnya ditulisi “SBY” dibawa begitu lambannya oleh serombongan demonstran mengelilingi beberapa kali bundaran Hotel Indonesia.
SBY yang terkenal sangat peragu sehingga terkesan sangat sabar, kali ini marah besar terutama soal kerbau itu. Kerbau yang tambun dirasakan oleh SBY sebagai dilambangkan terhadap dirinya yang oleh sebagian masyarakat dikesankan sebagai berbadan besar gemuk yang lamban bekerja, lamban mengambil keputusan meskipun negara sudah di tepi jurang. Tetapi kemarahan SBY pelan-pelan redup seiring DPR reses. Dan politik pencitraan SBY kembali dimainkan. Tim Public Relations SBY boleh dipuji kali ini. Mereka jeli memanfaatkan momentum kemuakan rakyat yang mayoritas penggemar sepakbola terhadap Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI. SBY melemparkan ide perlu Kongres Sepakbola Nasional (KSN) untuk mereformasi prestasi sepakbola Indonesia. Tawaran simpatik dilemparkan ke PWI untuk menyiapkan KSN bersama berbagai lapisan masyarakat penggila sepakbola. Biaya sekitar Rp. 3 miliar, sepenuhnya akan disiapkan oleh Menteri Olahraga dan Pemuda Andi Malarangeng (AM).
Tawaran SBY langsung disambar PWI dan segudang media cetak dan elektronik termasuk Gerakan Sejuta Facebooker; para mantan pemain nasional; para supporter hampir semua klub . Targetnya Nurdin Halid harus digusur sebagai Ketua Umum PSSI. Berbagai berita dan ulasan diekspose besar-besaran bahwa Nurdin Halid adalah biang kerok kemerosotan prestasi sepakbola selama 7 tahun menjabat Ketua Umum PSSI. Nurdin Halid (NH) hanya berprestasi dalam mimpi termasuk mimpi menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022 yang akhirnya kandas.
Dan akhirnya kota Malang ditetapkan sebagai tuan rumah. Habis membuka KSN pada 30 Maret 2010 pagi hari, sore harinya SBY diangkat citranya setinggi langit. SBY didampingi AM antri membeli karcis di-closeup habis cameraman dan photographer. SBY patut dicontoh rakyat Indonesia karena dia adalah rakyat gila bola yang mau antri berdesakan demi selembar tiket menonton sepakbola, padahal dia Presiden RI. Dan manakala sebelum kick off dimulai, lagi-lagi SBY turun dari tribun VVIP ke lapangan meskipun hujan rintik-rintik karena mau menyalami para pemain Arema dan Persitara, padahal dia Presiden RI.
Dan setelah pertandingan Arema vs Persitara selesai dengan kemenangan Arema 2-0, arena sidang komisi organisasi KSN dilanjutkan. Rekan saya; Muhamad Kusnaeni, wartawan koran olahraga terbesar di Indonesia “Topskor” yang semula sudah siap membeberkan konsepnya mewakili blok perubahan urung mempresentasikannya. Terlalu banyak anak buah Nurdin Halid yang menghalanginya untuk bicara, belum begitu banyak “preman” yang berwajah angker pendukung NH berkeliaran di ruang dan di luar sidang yang selalu berteriak lantang kalau peserta sidang bersuara menyudutkan NH.
Maka sudah bisa ditebak: pada tanggal 31 Maret 2010 hari kedua sidang sekaligus hari terakhir KSN, kandungan rekomendasi KSN masuk angin. Semua rekomendasi terlalu normatif. Boro-boro merekomendasikan menurunkan Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI. Bahkan dari segi substansi rekomendasi KSN ini sangat mundur yakni meminta agar kegiatan klub berkompetisi dapat dibiayai oleh Pemerintah melalui dana APBN dan atau APBD. Padahal Persib Bandung yang di kompetisi ISL tahun 2008-2009 dikucuri dana APBD Kodya Bandung sebesar Rp. 33 miliar, sekarang telah mampu mandiri karena Persib punya nilai jual tinggi sehingga banyak perusahaan antri untuk menjadi calon sponsor. Begitu pula Arema Malang yang lebih dulu mandiri bahkan siap mau go public, agar saham-sahamnya dapat dibeli oleh masyarakat luas.
Dan permainan diakhiri dengan kekalahan masyarakat sepakbola Indo nesia. Kemenangan politik citra diraih SBY-AM yang berhasil memanfaatkan momentum kuat masyarakat sepakbola membenci kepengurusan PSSI Nurdin Halid untuk mengadakan KSN. Sedangkan kemenangan terbesar dipegang oleh Nurdin Halid tentu saja karena masa jabatannya aman sampai 2011. Bahkan bukan tidak mungkin bisa menjadi Ketua Umum PSSI seumur hidup kalau timas PSSI menjuarai SEA Games 2011 yang akan diselenggarakan di Indonesia. Nurdin Halid yang sekarang status hukumnya sepenuhnya bebas dilawan, sedangkan ketika dia dua kali sedang menjalani hukuman di penjara Salemba, Jakarta saja berhasil menjungkir-balikkan semua kubu lawan antara lain dengan berhasil mengedit statuta FIFA soal status perbuatan kriminal pengurus PSSI!
Namun perang belum berakhir, ini hanya baru pertempuran kecil. SBY masih menghadapi kemungkinan DPR meminta Hak Menyatakan Pendapat. Terlebih suara untuk melakukan Yudisial Review terhadap qorum Sidang DPR akan segera diajukan oleh banyak anggota DPR ke Mahkamah Konsitusi (MK). Kalau hal ini diloloskan MK maka pintu pemakzulan Budiono (SBY) atas kasus Bank Century sangat terbuka kalau mengacu kepada kemenangan telak 5-3 (atau 315 suara anggota DPR penentang SBY).
Nurdin Halid hanya aman-aman saja bila PSSI mampu melakukan reformasi dan membawa timnas juara SEA Games 2011. Tetapi soal reformasi PSSI kita sangat pesimis sebab meskipun sekarang saja sudah ada pelanggaran substansial soal pengangkatan anggota Komite Esksekutif yang tidak sesuai ketentuan FIFA. Begitu juga ambisi timnas juara sepakbola SEA Games 2011 masih fifty-fifty. Kalau semua gagal; resep saya KONI sebagai induk semua cabang olahraga di Indonesia berwenang membekukan kepengurusan PSSI dan FIFA pun tak akan menganggapnya sebagai intervensi. Ayo Bu Rita Subowo (Ketua Umum KONI) jangan takut dengan Nurdin Halid. Para supporter Bobotoh, Bonek, Aremania, Jakmania, Panser dan rakyat sepakbola siap mendukung keputusan KONI.
Kamis, 01 April 2010
Insinyur dkk Cari Duit, Sri Mulyani “Buang Duit”
Oleh Cardiyan HIS
Kepala BP Migas Ir. R. Priyono pusing tujuh keliling. Mau libur panjang kok pusing mas Pri? Ya, Ir. Priyono, MSc (alumnus ITB angkatan masuk 1976) pusing karena terus-terusan ditilpun Menteri Keuangan Sri Mulyani soal lifting. Sri Mulyani, SE, PhD tentu lebih pusing lagi karena utang RI sudah melampaui Rp. 1.200 triliun dan banyak yang mau jatuh tempo lagi. Sri Mulyani, SE, PhD, tambah pusing karena “buang duit” Rp. 4,126 triliun /tahun untuk “Reformasi Birokrasi” yang dibangga-banggakannya ternyata begitu mudahnya jeblog dibobolin oleh ulah anak buahnya sendiri.
Berita berupa running text di sebuah statsiun TV kemarin ini seperti luput dari perhatian para insinyur dan sarjana lainnya yang tengah jungkir balik bekerja karena kalah dengan berita artis panas Jupe (Julia Perez) yang akan menjadi calon Bupati Pacitan, tempat kelahiran dan SBY dibesarkan. Padahal ini sangat mendasar bagi Pemerintah RI dan pertanggungjawabannya kepada rakyat Indonesia. Dan kalau mau dikorek-korek lebih jauh lagi secara emosional dan sentimen profesi bisa saja; memang terbukti ini merupakan perseturuan abadi antara insinyur yang cari duit jungkir balik di laut dan di hutan dan sarjana ekonomi keuangan yang buang duit seenak udel di kursi empuk.
Ir. R. Priyono, MSc, sebagai Kepala BP Migas memang bertanggungjawab; bagaimana harus terus menerus mengoptimalkan para insinyur dkk yang bekerja siang malam di lapangan minyak gas di offshore berbagai laut Indonesia maupun di hutan-hutan agar proses produksi migas berjalan aman agar lifting bisa meningkat. Tak hanya Ir. R. Priyono, para insinyur di tambang batubara dan mineral lainnya di hutan-hutan siang malam terus bekerja keras agar sumberdaya alam berhasil diangkat menjadi pemasukan negara melalui pajak dan royalti. Begitu pula insinyur pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan dkk bekerja keras di hutan produksi dan perkebunan dan laut agar mampu mencetak produksi maksimal supaya pajak yang masuk ke negara juga tinggi. Belum terhitung insinyur dan insunyur periset di dunia industri manufaktur.
Pajak dijadikan andalan untuk menjadi pemasukan negara, agar RI tidak bangkrut. Tetapi Menteri Keuangan RI Sri Mulyani tidak mengelolanya dengan baik. Dengan dalih untuk Reformasi Birokrasi dia dengan seenaknya menaikkan remunerasi pegawai di lingkungan kementriannya sembilan kali lebih banyak dari kementrian lain di Kabinet SBY. Ini bukan saja tidak efektif menghasilkan kinerja anak buahnya yang tetap saja korupsi gila-gilaan seperti terbukti kasus pegawai rendahan pajak Gayus Tambunan saja sudah luar biasa apalagi pejabat di atasnya. Tetapi tindakan Sri Mulyani ini juga bisa menimbulkan kecemburuan pada profesi yang lain yang nota bene berperan besar dalam menghasilkan duit dan mencegah duit tidak dirampok. Misalnya para insinyur dkk jelas berada di garis depan dalam menghasilkan duit. Tetapi tidak hanya insinyur tetapi juga ada para prajurit TNI dan Polri di daerah terpencil masih setia menjaga NKRI dan menangkap para penyelundup, yang kalau saja lolos bukan hanya bisa merugikan ekonomi negara tetapi juga kedaulatan NKRI dikangkangi. Belum aktivitas para aktivis LSM yang terus mengawasi perusahaan-perusahaan pengeruk SDA agar bekerja sesuai aturan.
Sebagai Menteri Keuangan RI Sri Mulyani juga terlalu getol mencari utang dengan bunga sangat tinggi. Contohnya untuk menerbitkan Obligasi RI dengan bunga tinggi 13% per tahun padahal perusahaan tambang batubara PT. Adaro Energy Tbk dengan mudah menerbitkan obligasi US$ 800 juta selama 10 tahun dengan suku bunga tetap 7,625%/tahun (HU “Kompas” 17 Oktober 2009). Tentu saja Sri Mulyani dipuji-puji jaringan neolib sebagai salah seorang “Menteri Keuangan Terbaik di Dunia” karena memberi ekstra bunga luar biasa. Dan jumlah utangan yang diraihnya pun selalu lebih besar dari realisasinya sehingga RI kena penalti tinggi rentenir asing. Belum amburadulnya realisasi belanja APBN yang selalu ditumpuk di akhir tahun. Ini jelas membuat semua pihak yang terlibat dan bekerja atas sumber APBN jungkir balik sebab sebenarnya mereka bekerja sejak awal tahun APBN; yang sudah menjadi rahasia umum sangat rawan terhadap terjadinya rekayasa pertanggungjawaban belanja negara. Belum cara dia begitu royalnya membelanjai kemewahan untuk kalangan pejabat tinggi negara.
Kita percaya 1.000.000.000.000% bahwa Sri Mulyani sebagai pribadi tidak pernah memperkaya diri. Tetapi dia harus bertanggungjawab bukan soal dia tidak korupsi. Tetapi dia harus bertanggungjawab atas amanah dia menjabat sebagai Menteri Keuangan RI kepada rakyat Indonesia termasuk kepada rakyat insinyur, para prajurit dan profesi lainnya dalam mengelola keuangan negara termasuk dalam “membuang duit”.
Kepala BP Migas Ir. R. Priyono pusing tujuh keliling. Mau libur panjang kok pusing mas Pri? Ya, Ir. Priyono, MSc (alumnus ITB angkatan masuk 1976) pusing karena terus-terusan ditilpun Menteri Keuangan Sri Mulyani soal lifting. Sri Mulyani, SE, PhD tentu lebih pusing lagi karena utang RI sudah melampaui Rp. 1.200 triliun dan banyak yang mau jatuh tempo lagi. Sri Mulyani, SE, PhD, tambah pusing karena “buang duit” Rp. 4,126 triliun /tahun untuk “Reformasi Birokrasi” yang dibangga-banggakannya ternyata begitu mudahnya jeblog dibobolin oleh ulah anak buahnya sendiri.
Berita berupa running text di sebuah statsiun TV kemarin ini seperti luput dari perhatian para insinyur dan sarjana lainnya yang tengah jungkir balik bekerja karena kalah dengan berita artis panas Jupe (Julia Perez) yang akan menjadi calon Bupati Pacitan, tempat kelahiran dan SBY dibesarkan. Padahal ini sangat mendasar bagi Pemerintah RI dan pertanggungjawabannya kepada rakyat Indonesia. Dan kalau mau dikorek-korek lebih jauh lagi secara emosional dan sentimen profesi bisa saja; memang terbukti ini merupakan perseturuan abadi antara insinyur yang cari duit jungkir balik di laut dan di hutan dan sarjana ekonomi keuangan yang buang duit seenak udel di kursi empuk.
Ir. R. Priyono, MSc, sebagai Kepala BP Migas memang bertanggungjawab; bagaimana harus terus menerus mengoptimalkan para insinyur dkk yang bekerja siang malam di lapangan minyak gas di offshore berbagai laut Indonesia maupun di hutan-hutan agar proses produksi migas berjalan aman agar lifting bisa meningkat. Tak hanya Ir. R. Priyono, para insinyur di tambang batubara dan mineral lainnya di hutan-hutan siang malam terus bekerja keras agar sumberdaya alam berhasil diangkat menjadi pemasukan negara melalui pajak dan royalti. Begitu pula insinyur pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan dkk bekerja keras di hutan produksi dan perkebunan dan laut agar mampu mencetak produksi maksimal supaya pajak yang masuk ke negara juga tinggi. Belum terhitung insinyur dan insunyur periset di dunia industri manufaktur.
Pajak dijadikan andalan untuk menjadi pemasukan negara, agar RI tidak bangkrut. Tetapi Menteri Keuangan RI Sri Mulyani tidak mengelolanya dengan baik. Dengan dalih untuk Reformasi Birokrasi dia dengan seenaknya menaikkan remunerasi pegawai di lingkungan kementriannya sembilan kali lebih banyak dari kementrian lain di Kabinet SBY. Ini bukan saja tidak efektif menghasilkan kinerja anak buahnya yang tetap saja korupsi gila-gilaan seperti terbukti kasus pegawai rendahan pajak Gayus Tambunan saja sudah luar biasa apalagi pejabat di atasnya. Tetapi tindakan Sri Mulyani ini juga bisa menimbulkan kecemburuan pada profesi yang lain yang nota bene berperan besar dalam menghasilkan duit dan mencegah duit tidak dirampok. Misalnya para insinyur dkk jelas berada di garis depan dalam menghasilkan duit. Tetapi tidak hanya insinyur tetapi juga ada para prajurit TNI dan Polri di daerah terpencil masih setia menjaga NKRI dan menangkap para penyelundup, yang kalau saja lolos bukan hanya bisa merugikan ekonomi negara tetapi juga kedaulatan NKRI dikangkangi. Belum aktivitas para aktivis LSM yang terus mengawasi perusahaan-perusahaan pengeruk SDA agar bekerja sesuai aturan.
Sebagai Menteri Keuangan RI Sri Mulyani juga terlalu getol mencari utang dengan bunga sangat tinggi. Contohnya untuk menerbitkan Obligasi RI dengan bunga tinggi 13% per tahun padahal perusahaan tambang batubara PT. Adaro Energy Tbk dengan mudah menerbitkan obligasi US$ 800 juta selama 10 tahun dengan suku bunga tetap 7,625%/tahun (HU “Kompas” 17 Oktober 2009). Tentu saja Sri Mulyani dipuji-puji jaringan neolib sebagai salah seorang “Menteri Keuangan Terbaik di Dunia” karena memberi ekstra bunga luar biasa. Dan jumlah utangan yang diraihnya pun selalu lebih besar dari realisasinya sehingga RI kena penalti tinggi rentenir asing. Belum amburadulnya realisasi belanja APBN yang selalu ditumpuk di akhir tahun. Ini jelas membuat semua pihak yang terlibat dan bekerja atas sumber APBN jungkir balik sebab sebenarnya mereka bekerja sejak awal tahun APBN; yang sudah menjadi rahasia umum sangat rawan terhadap terjadinya rekayasa pertanggungjawaban belanja negara. Belum cara dia begitu royalnya membelanjai kemewahan untuk kalangan pejabat tinggi negara.
Kita percaya 1.000.000.000.000% bahwa Sri Mulyani sebagai pribadi tidak pernah memperkaya diri. Tetapi dia harus bertanggungjawab bukan soal dia tidak korupsi. Tetapi dia harus bertanggungjawab atas amanah dia menjabat sebagai Menteri Keuangan RI kepada rakyat Indonesia termasuk kepada rakyat insinyur, para prajurit dan profesi lainnya dalam mengelola keuangan negara termasuk dalam “membuang duit”.
Selasa, 16 Februari 2010
Saatnya Rektor Menegor Profesor
Saatnya Rektor Menegor Profesor
Oleh Cardiyan HIS
Menteri Pendidikan Nasional Prof.DR. M. Nuh gundah. Ternyata begitu mudah memperoleh gelar profesor di Indonesia. Ia mengeluh kemudahan itu tak diimbangi oleh karya penelitian yang berkualitas yang tercermin tulisannya dimuat di jurnal ilmiah internasional kredibel. Bahkan M.Nuh gerah ternyata ia menemukan fakta setidaknya ada dua Rektor universitas terkenal di Jawa Barat dan Jawa Timur yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah internasional.
Karena kemudahan menjadi profesor di Indonesia, tak mengherankan kini ada istilah “Profesor Masturbasi”. Yakni, seseorang yang mendapatkan gelar keprofesorannya melalui karya yang dilakukan sendiri. Penelitian dilakukan sendiri (biaya sendiri, tidak berkolaborasi dengan lembaga lain), ditulis sendiri (tidak di-review oleh ahli sebidang dari negara lain, tetapi di-review oleh teman sendiri), dipublikasikan di jurnalnya (milik lembaga sendiri), lalu untuk naik pangkat/jabatan sendiri. Cerdas juga yang membuat istilah tersebut karena masturbasi memang dilakukan sendiri, bahkan cenderung sembunyi-sembunyi (http://jawapos. co.id/halaman/ index.php? act=detail&nid=116798).
Memang betul ada etika yang berlaku universal pada universitas-universitas kelas dunia bahwa karya seorang dosen peneliti “tak boleh” dinilai oleh kolega yang mantan profesor pembimbing dan atau co-promotor disertasinya; kolega yang pernah satu tim dalam penelitian, kolega yang pernah menjadi co-author penulisan di jurnal ilmiah. Peer Reviewer harus berasal dari dosen peneliti universitas di luar negaranya, yang kemampuan menelitinya telah berkelas internasional. Karya yang dinilai pun “tak boleh” hanya dimuat sebagai paper di sebuah konferensi atau seminar internasional yang kemudian ramai-ramai dijadikan “Proceedings”. Juga “tak boleh” hanya dimuat di jurnal nasional yang tak memiliki akreditasi internasional.
Sejak jaman dahulu kala memang sudah ada adagium yang sudah sangat meresap di kalangan masyarakat kampus berkualitas yakni “publish or perish” (“menulis dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional kredibel atau mati”). Bagi seorang dosen peneliti apalagi bila ia seorang profesor, bila tak ada satu pun tulisannya dimuat di jurnal kelas dunia yang memiliki Impact Factor adalah suatu aib besar. Maka tak mengherankan bila ada berita nyata seorang doktor lulusan Stanford University di Amerika Serikat (AS) mundur dari sebuah lembaga penelitian terpandang dan beralih profesi menjadi supir taksi. Entah berapa doktor lagi lulusan universitas kelas dunia di AS yang beralih profesi sebagai pelayan hotel, tukang cuci piring di restoran dan entah apa lagi. Sedangkan di Indonesia, seorang profesor doktor tak mungkin nganggur hanya gara-gara tak memiliki karya tulis di jurnal ilmiah internasional; gajinya yang diraih di era SBY yang sudah naik jauh menjadi Rp. 15 juta/bulan pun akan aman-aman saja masuk rekening banknya. Bahkan boleh jadi kalau sang profesor pintar “cakap” masih laku pula menjadi pengamat di media elektronik televisi; menjadi seorang selebritas yang genit.
Kalau pembaca tak punya akses ke Web of Science: ISI Knowledge yang harga langganannya Rp. 800 juta rupiah/tahun atau Scopus yang “lebih murah” Rp. 300 juta/tahun, sehingga untuk itu ITB misalnya, berturut-turut dikasih Dana Hibah Inggris untuk berlangganan ISI Web of Science (3 tahun sebelumnya) dan Chevron Texaco (2 tahun terakhir ini). Maka dengan kemajuan teknologi informatika yang membuat hampir segala informasi begitu transparan, kita dengan mudah bisa melihat siapa profesor doktor di Indonesia dan di dunia yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal kredibel dunia seperti Nature, Science, Lancet. Asal tahu namanya; “Oom GoogleScholar” akan dengan mudah searching siapa profesor doktor yang hanya memiliki 1 (satu) Citation saja yakni tak lebih dari disertasi yang ditulisnya. “Satu disertasi sampai mati”, ungkap seorang kolega saya; ahli komunikasi senior sebuah universitas terkenal di ibukota yang gagal meraih doktor di Cornell University tetapi sering “berkilah dan membanggakan diri” (di banyak kesempatan pertemuan) masih mendingan menulis banyak artikel dan beberapa buku ketimbang satu disertasi doktor.
Di Indonesia, ITB meskipun yang bertahun-tahun merupakan barometer terbaik dari jumlah Citation para dosen penelitinya dibanding UI, UGM, IPB dan LIPI versi Scopus. Namun jumlah Citation ITB belum memberikan gambaran umum bagi setiap dosen yang bergelar PhD yang jumlahnya terbanyak pula di Indonesia yakni 775 PhD dari 1.025 seluruh dosennya; mampu mempublikasikan karya penelitiannya di jurnal internasional kredibel. Ternyata tidak sedikit pula kalangan PhD dan atau profesor ITB yang masih hanya memiliki satu Citation saja yakni disertasinya itu! Pemilik dua ratusan Citation terbanyak asal ITB masih “eta keneh eta keneh” (itu saja itu saja) antara lain Widiyantoro S, Halim M, Noer AS, Soenarko B, Soemarsono H, Hidayat R, Wenas WW, Hakim EH, Wiramihardja SD, Ariando, Gusnidar T, Pancoro, Onggo D, Linaya C, Suwono, Priadi, Cahyati, Hidayat T, Akhmaloka (Rektor ITB), Wenten IG, Hadi S, Adisasanto, Wuryanto A, Herdianita NR, Rusydi A, Widjaja J, Hasanuddin ZA, Retnoningrum, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT, Arismunandar, Dahono P.
Kriteria Harus Diubah
Kritikan Mendiknas M. Nuh meskipun sangat terlambat tetapi lebih baik dari pada tidak sama sekali. Oleh karena itu kriteria bagi persyaratan memperoleh profesor di Indonesia harus diubah. Bobot terbesar hendaknya diletakkan pada jumlah karya penelitian dosen yang berhasil dimuat di jurnal ilmiah internasional kredibel, yang memiliki Impact Factor. Kebijakan ini akan memacu para dosen peneliti yang bergelar PhD (Doktor) untuk terus melakukan penelitian berkualitas dan mampu mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional. Sebaliknya Mendiknas pun harus mengubah pandangan dalam mengalokasikan dana riset bagi perguruan tinggi tidak asal untuk melakukan riset. Tetapi mengubahnya menjadi dana riset yang jumlahnya besar tetapi tetap selektif untuk riset-riset dasar maupun riset terapan yang berkualitas.
Saatnya para Rektor pun menegor para profesor yang sampai sekarang hanya memiliki satu Citation yakni dari satu disertasinya saja. Bagi para doktor yang sudah terlanjur mendapat “pangkat” profesor dengan performa ini hendaknya “tobat” yakni kembali kepada suasana kondusif untuk fokus melakukan kegiatan meneliti dalam intensitas tinggi kemdian mempublikasikan karyanya di jurnal ilmiah internasional kredibel.
Juga secara sistimatis dan berjangka panjang, kalangan perguruan tinggi hendaknya menjadi lokomotif penarik bagi tumbuh berkembangnya organisasi profesi yang disamping mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebenaran, juga menjadi penerbit jurnal-jurnal ilmiah profesi yang independen, yang berkualitas internasional. Sehingga jurnal-jurnal profesi ini bisa menjadi wahana bagi para peneliti Indonesia untuk menuliskan karya-karya penelitiannya. Dengan demikian secara jangka panjang, Indonesia akan keluar dari predikat negara dunia ketiga yang kehilangan generasi peneliti; generasi yang hanya bisa mengkonsumsi teknologi impor tetapi tak mampu mengkreasi teknologi sendiri.
http://cardiyanhis.blogspot.com
Oleh Cardiyan HIS
Menteri Pendidikan Nasional Prof.DR. M. Nuh gundah. Ternyata begitu mudah memperoleh gelar profesor di Indonesia. Ia mengeluh kemudahan itu tak diimbangi oleh karya penelitian yang berkualitas yang tercermin tulisannya dimuat di jurnal ilmiah internasional kredibel. Bahkan M.Nuh gerah ternyata ia menemukan fakta setidaknya ada dua Rektor universitas terkenal di Jawa Barat dan Jawa Timur yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah internasional.
Karena kemudahan menjadi profesor di Indonesia, tak mengherankan kini ada istilah “Profesor Masturbasi”. Yakni, seseorang yang mendapatkan gelar keprofesorannya melalui karya yang dilakukan sendiri. Penelitian dilakukan sendiri (biaya sendiri, tidak berkolaborasi dengan lembaga lain), ditulis sendiri (tidak di-review oleh ahli sebidang dari negara lain, tetapi di-review oleh teman sendiri), dipublikasikan di jurnalnya (milik lembaga sendiri), lalu untuk naik pangkat/jabatan sendiri. Cerdas juga yang membuat istilah tersebut karena masturbasi memang dilakukan sendiri, bahkan cenderung sembunyi-sembunyi (http://jawapos. co.id/halaman/ index.php? act=detail&nid=116798).
Memang betul ada etika yang berlaku universal pada universitas-universitas kelas dunia bahwa karya seorang dosen peneliti “tak boleh” dinilai oleh kolega yang mantan profesor pembimbing dan atau co-promotor disertasinya; kolega yang pernah satu tim dalam penelitian, kolega yang pernah menjadi co-author penulisan di jurnal ilmiah. Peer Reviewer harus berasal dari dosen peneliti universitas di luar negaranya, yang kemampuan menelitinya telah berkelas internasional. Karya yang dinilai pun “tak boleh” hanya dimuat sebagai paper di sebuah konferensi atau seminar internasional yang kemudian ramai-ramai dijadikan “Proceedings”. Juga “tak boleh” hanya dimuat di jurnal nasional yang tak memiliki akreditasi internasional.
Sejak jaman dahulu kala memang sudah ada adagium yang sudah sangat meresap di kalangan masyarakat kampus berkualitas yakni “publish or perish” (“menulis dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional kredibel atau mati”). Bagi seorang dosen peneliti apalagi bila ia seorang profesor, bila tak ada satu pun tulisannya dimuat di jurnal kelas dunia yang memiliki Impact Factor adalah suatu aib besar. Maka tak mengherankan bila ada berita nyata seorang doktor lulusan Stanford University di Amerika Serikat (AS) mundur dari sebuah lembaga penelitian terpandang dan beralih profesi menjadi supir taksi. Entah berapa doktor lagi lulusan universitas kelas dunia di AS yang beralih profesi sebagai pelayan hotel, tukang cuci piring di restoran dan entah apa lagi. Sedangkan di Indonesia, seorang profesor doktor tak mungkin nganggur hanya gara-gara tak memiliki karya tulis di jurnal ilmiah internasional; gajinya yang diraih di era SBY yang sudah naik jauh menjadi Rp. 15 juta/bulan pun akan aman-aman saja masuk rekening banknya. Bahkan boleh jadi kalau sang profesor pintar “cakap” masih laku pula menjadi pengamat di media elektronik televisi; menjadi seorang selebritas yang genit.
Kalau pembaca tak punya akses ke Web of Science: ISI Knowledge yang harga langganannya Rp. 800 juta rupiah/tahun atau Scopus yang “lebih murah” Rp. 300 juta/tahun, sehingga untuk itu ITB misalnya, berturut-turut dikasih Dana Hibah Inggris untuk berlangganan ISI Web of Science (3 tahun sebelumnya) dan Chevron Texaco (2 tahun terakhir ini). Maka dengan kemajuan teknologi informatika yang membuat hampir segala informasi begitu transparan, kita dengan mudah bisa melihat siapa profesor doktor di Indonesia dan di dunia yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal kredibel dunia seperti Nature, Science, Lancet. Asal tahu namanya; “Oom GoogleScholar” akan dengan mudah searching siapa profesor doktor yang hanya memiliki 1 (satu) Citation saja yakni tak lebih dari disertasi yang ditulisnya. “Satu disertasi sampai mati”, ungkap seorang kolega saya; ahli komunikasi senior sebuah universitas terkenal di ibukota yang gagal meraih doktor di Cornell University tetapi sering “berkilah dan membanggakan diri” (di banyak kesempatan pertemuan) masih mendingan menulis banyak artikel dan beberapa buku ketimbang satu disertasi doktor.
Di Indonesia, ITB meskipun yang bertahun-tahun merupakan barometer terbaik dari jumlah Citation para dosen penelitinya dibanding UI, UGM, IPB dan LIPI versi Scopus. Namun jumlah Citation ITB belum memberikan gambaran umum bagi setiap dosen yang bergelar PhD yang jumlahnya terbanyak pula di Indonesia yakni 775 PhD dari 1.025 seluruh dosennya; mampu mempublikasikan karya penelitiannya di jurnal internasional kredibel. Ternyata tidak sedikit pula kalangan PhD dan atau profesor ITB yang masih hanya memiliki satu Citation saja yakni disertasinya itu! Pemilik dua ratusan Citation terbanyak asal ITB masih “eta keneh eta keneh” (itu saja itu saja) antara lain Widiyantoro S, Halim M, Noer AS, Soenarko B, Soemarsono H, Hidayat R, Wenas WW, Hakim EH, Wiramihardja SD, Ariando, Gusnidar T, Pancoro, Onggo D, Linaya C, Suwono, Priadi, Cahyati, Hidayat T, Akhmaloka (Rektor ITB), Wenten IG, Hadi S, Adisasanto, Wuryanto A, Herdianita NR, Rusydi A, Widjaja J, Hasanuddin ZA, Retnoningrum, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT, Arismunandar, Dahono P.
Kriteria Harus Diubah
Kritikan Mendiknas M. Nuh meskipun sangat terlambat tetapi lebih baik dari pada tidak sama sekali. Oleh karena itu kriteria bagi persyaratan memperoleh profesor di Indonesia harus diubah. Bobot terbesar hendaknya diletakkan pada jumlah karya penelitian dosen yang berhasil dimuat di jurnal ilmiah internasional kredibel, yang memiliki Impact Factor. Kebijakan ini akan memacu para dosen peneliti yang bergelar PhD (Doktor) untuk terus melakukan penelitian berkualitas dan mampu mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional. Sebaliknya Mendiknas pun harus mengubah pandangan dalam mengalokasikan dana riset bagi perguruan tinggi tidak asal untuk melakukan riset. Tetapi mengubahnya menjadi dana riset yang jumlahnya besar tetapi tetap selektif untuk riset-riset dasar maupun riset terapan yang berkualitas.
Saatnya para Rektor pun menegor para profesor yang sampai sekarang hanya memiliki satu Citation yakni dari satu disertasinya saja. Bagi para doktor yang sudah terlanjur mendapat “pangkat” profesor dengan performa ini hendaknya “tobat” yakni kembali kepada suasana kondusif untuk fokus melakukan kegiatan meneliti dalam intensitas tinggi kemdian mempublikasikan karyanya di jurnal ilmiah internasional kredibel.
Juga secara sistimatis dan berjangka panjang, kalangan perguruan tinggi hendaknya menjadi lokomotif penarik bagi tumbuh berkembangnya organisasi profesi yang disamping mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebenaran, juga menjadi penerbit jurnal-jurnal ilmiah profesi yang independen, yang berkualitas internasional. Sehingga jurnal-jurnal profesi ini bisa menjadi wahana bagi para peneliti Indonesia untuk menuliskan karya-karya penelitiannya. Dengan demikian secara jangka panjang, Indonesia akan keluar dari predikat negara dunia ketiga yang kehilangan generasi peneliti; generasi yang hanya bisa mengkonsumsi teknologi impor tetapi tak mampu mengkreasi teknologi sendiri.
http://cardiyanhis.blogspot.com
Jumat, 12 Februari 2010
Tim Impian Indonesia Lolos ke Piala Dunia !!!
Oleh Cardiyan HIS

Indonesia adalah “Brazil Asia”. Yang ngomong bukan sembarang orang tetapi Ketua FIFA Sepp Blater. Tapi pujian itu hanya didedikasikan untuk tim nasional sepakbola Indonesia yang dikapteni oleh Soetjipto “Gareng” Soentoro. Dan komandan PSSI-nya jelas bukan Nurdin Halid pula tetapi kakak kandung Solichin GP yakni Kosasih Purwanegara.
Pada era 1960-an sampai medio 1970-an, kesebelasan Indonesia memang menjadi kesebelasan elite Asia kalau tak boleh dijuluki “Raja Asia” , yang sangat dihormati oleh kesebelasan-kesebelasan di Asia bahkan Eropa. Padahal modal kas PSSI semata-mata dari keuntungan bersih jualan karcis di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, manakala Indonesia melawan tim-tim kelas dunia seperti Dynamo Moscow, Dynamo Kiev (dahulu masih Uni Soviet), Santos, Cruziero, Sao Paolo (Brazil), Independiente (Argentina), Cosmos dan Washington Diplomat (USA) dan lain-lain.
Saingan berat Indonesia di Asia hanya Israel (belum masuk zona Eropa), Iran dan Burma (sekarang Myanmar). Jepang dan Korea Selatan yang menjadi langganan Piala Dunia sekarang ini, biasa dipermak habis Indonesia dengan minimal skor 3-0. Bahkan Timnas Taiwan dicukur Indonesia dengan skor telak 11-1 di Piala Merdeka Games, Malaysia, tahun 1968. Jangan tanyalah timnas Thailand, Vietnam dan Singapura karena ketiganya nggak level disandingkan dengan Indonesia. Terlebih negara-negara di jazirah Arab, bahkan mereka “belum tahu cara bermain bola”, maklumlah federasi sepakbola pun mereka belum punya.
Bayangkan saja sejak Piala Merdeka Games yang sangat prestisius di Asia pertama kali diadakan sejak 1954 dan Indonesia yang pertama kali menjuarainya, kemudian Indonesia memenanginya kembali pada tahun 1960, 1961, 1962 dan 1969 (dan tahun-tahun yang hilang di Merdeka Games karena Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia). Rute emas kejuaraan yang dimenangi Indonesia selalu dimulai dari kota Dacca (ibukota Pakistan Timur ketika itu, sekarang ibukota Bangladesh) dimana ada turnamen Agha Khan Gold Cup. Indonesia menjuarai piala Agha Khan ini sejak 1961, 1966, 1967, 1968 dan 1979 (tahun-tahun lainnya Indonesia adalah juara 2). Kemudian tim Indonesia turun ke Bangkok untuk menjuarai King’s Cup dan Queen’s Cup pada tahun 1968 dan 1971 (tahun-tahun lainnya Indonesia selalu lolos ke final). Kemudian timnas Indonesia memenangi Piala Sukan Singapura, bahkan menciptakan All Indonesian Final antara Indonesia A dan Indonesia B pada tahun 1972. Dan terakhir tentu saja main di kandang pada Jakarta Anniversary Cup, yang terakhir dijuarai pada tahun 1972 dengan menundukkan timnas Korea Selatan dengan skor 4-2.
Atas supremasi kesebelasan Indonesia itulah akhirnya Indonesia diminta AFC (Asia Football Confederation) mengirim 5 pemain nasionalnya untuk mengisi skuad “Asia All Stars”. Mereka itu adalah Soetjipto Soentoro (penyerang lubang sekaligus bertindak sebagai kapten), Yacob Sihasale (penyerang tengah), Iswadi Idris (sayap kanan), Abdul Kadir (sayap kiri) dan Yudho Hadianto (penjaga gawang). Sebenarnya AFC berniat memanggil pemain Indonesia lebih banyak lagi seperti stopper Anwar Udjang dan Mulyadi serta gelandang Basri dan Aliandu. Ttetapi AFC tentu saja harus bertindak adil dengan memanggil pemain Asia lainnya meskipun hanya masing-masing satu orang saja.
Apa keunggulan pemain-pemain Indonesia ketika itu? Indonesia memiliki penjaga gawang “sangat kebal” seperti dinobatkan oleh koran “Utusan Malaysia”, Kuala Lumpur dan “Bangkok Post”, Bangkok pada diri Yudho Hadianto. Fisik Yudho sebenarnya tidak terlalu tinggi tetapi dia mampu bermain akrobat yang sangat memukau dengan tetap tak kehilangan akurasinya. Yacob Sihasale adalah striker oportunis dengan sundulan kepala yang sangat luar biasa keras dan terarah disamping kemampuan dribbling, screening dan tendangan yang akurat. Iswadi Idris adalah seorang pemain penuh percaya diri sehingga mampu menggiring bola tak pernah putus melampaui pemain belakang lawan sebelum mengumpan tarik ke striker Yacob Sihasale. Abdul Kadir adalah pemain sayap kiri tercepat di Asia dalam membawa bola maupun tanpa membawa; umpan-umpan dari Kadir inilah menjadi santapan empuk bagi striker Yacob dan second striker Soetjipto Soentoro untuk menciptakan gol-gol spektakuler yang tidak bisa dilihat pada setiap pertandingan. Dan Soetjipto Soentoro tentu adalah pemain istimewa yang pernah dilahirkan Indonesia. Ballskill Soetjipto sangat sempurna; kemampuan menjaga bola (screening) sangat sempurna pula sehingga setiap lawan yang akan merebut bola darinya akan berbuah pelanggaran; tendangan sangat keras dan terarah dari berbagai sudut sempit sekalipun; kemampuan mengecoh dua-tiga pemain belakang sering menjadi makanan hampir pada setiap pertandingan karena memiliki kemampuan “menyulap” bola demikian cepat dan tak terduga. Namun di atas segalanya, Soetjipto memiliki jiwa kepemimpinan, kepercayaan diri dan mentalitas bertanding sangat tinggi sehingga bisa mengangkat permainan tim dalam situasi tertekan sekalipun.
Selengkapnya inilah “Tim Impian Indonesia” yang diyakini oleh penulis bakal “Lolos” ke Piala Dunia seandainya para pemain-pemainnya masih berkumpul utuh seperti di jaman kejayaan Indonesia dulu:
Penjaga gawang: Yudho Hadianto, Yus Etek, Ronny Pasla
Belakang: Yuswardi, Sunarto, Reny Salaki, Mulyadi, Anwar Udjang, Masri, Ishak Udin, Makful, Ronny Pattinasarani, Johanes Auri
Gelandang: Aliandu, Surya Lesmana, Basri, Fatah Hidayat, Bob Hippy, Djunaedi Abdillah, Nobon, Anjas Asmara, Mettu Duaramuri
Depan: Soetjipto Soentoro (Kapten), Yacob Sihasale, Komar, Andjik Alinurdin, Omo, Wowo, Iswadi Idris, Abdul Kadir
Pelatih: Tony Poganik (Pelatih Utama), EA Mangindaan, Endang Witarsa (Asisten Pelatih)

Indonesia adalah “Brazil Asia”. Yang ngomong bukan sembarang orang tetapi Ketua FIFA Sepp Blater. Tapi pujian itu hanya didedikasikan untuk tim nasional sepakbola Indonesia yang dikapteni oleh Soetjipto “Gareng” Soentoro. Dan komandan PSSI-nya jelas bukan Nurdin Halid pula tetapi kakak kandung Solichin GP yakni Kosasih Purwanegara.
Pada era 1960-an sampai medio 1970-an, kesebelasan Indonesia memang menjadi kesebelasan elite Asia kalau tak boleh dijuluki “Raja Asia” , yang sangat dihormati oleh kesebelasan-kesebelasan di Asia bahkan Eropa. Padahal modal kas PSSI semata-mata dari keuntungan bersih jualan karcis di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, manakala Indonesia melawan tim-tim kelas dunia seperti Dynamo Moscow, Dynamo Kiev (dahulu masih Uni Soviet), Santos, Cruziero, Sao Paolo (Brazil), Independiente (Argentina), Cosmos dan Washington Diplomat (USA) dan lain-lain.
Saingan berat Indonesia di Asia hanya Israel (belum masuk zona Eropa), Iran dan Burma (sekarang Myanmar). Jepang dan Korea Selatan yang menjadi langganan Piala Dunia sekarang ini, biasa dipermak habis Indonesia dengan minimal skor 3-0. Bahkan Timnas Taiwan dicukur Indonesia dengan skor telak 11-1 di Piala Merdeka Games, Malaysia, tahun 1968. Jangan tanyalah timnas Thailand, Vietnam dan Singapura karena ketiganya nggak level disandingkan dengan Indonesia. Terlebih negara-negara di jazirah Arab, bahkan mereka “belum tahu cara bermain bola”, maklumlah federasi sepakbola pun mereka belum punya.
Bayangkan saja sejak Piala Merdeka Games yang sangat prestisius di Asia pertama kali diadakan sejak 1954 dan Indonesia yang pertama kali menjuarainya, kemudian Indonesia memenanginya kembali pada tahun 1960, 1961, 1962 dan 1969 (dan tahun-tahun yang hilang di Merdeka Games karena Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia). Rute emas kejuaraan yang dimenangi Indonesia selalu dimulai dari kota Dacca (ibukota Pakistan Timur ketika itu, sekarang ibukota Bangladesh) dimana ada turnamen Agha Khan Gold Cup. Indonesia menjuarai piala Agha Khan ini sejak 1961, 1966, 1967, 1968 dan 1979 (tahun-tahun lainnya Indonesia adalah juara 2). Kemudian tim Indonesia turun ke Bangkok untuk menjuarai King’s Cup dan Queen’s Cup pada tahun 1968 dan 1971 (tahun-tahun lainnya Indonesia selalu lolos ke final). Kemudian timnas Indonesia memenangi Piala Sukan Singapura, bahkan menciptakan All Indonesian Final antara Indonesia A dan Indonesia B pada tahun 1972. Dan terakhir tentu saja main di kandang pada Jakarta Anniversary Cup, yang terakhir dijuarai pada tahun 1972 dengan menundukkan timnas Korea Selatan dengan skor 4-2.
Atas supremasi kesebelasan Indonesia itulah akhirnya Indonesia diminta AFC (Asia Football Confederation) mengirim 5 pemain nasionalnya untuk mengisi skuad “Asia All Stars”. Mereka itu adalah Soetjipto Soentoro (penyerang lubang sekaligus bertindak sebagai kapten), Yacob Sihasale (penyerang tengah), Iswadi Idris (sayap kanan), Abdul Kadir (sayap kiri) dan Yudho Hadianto (penjaga gawang). Sebenarnya AFC berniat memanggil pemain Indonesia lebih banyak lagi seperti stopper Anwar Udjang dan Mulyadi serta gelandang Basri dan Aliandu. Ttetapi AFC tentu saja harus bertindak adil dengan memanggil pemain Asia lainnya meskipun hanya masing-masing satu orang saja.
Apa keunggulan pemain-pemain Indonesia ketika itu? Indonesia memiliki penjaga gawang “sangat kebal” seperti dinobatkan oleh koran “Utusan Malaysia”, Kuala Lumpur dan “Bangkok Post”, Bangkok pada diri Yudho Hadianto. Fisik Yudho sebenarnya tidak terlalu tinggi tetapi dia mampu bermain akrobat yang sangat memukau dengan tetap tak kehilangan akurasinya. Yacob Sihasale adalah striker oportunis dengan sundulan kepala yang sangat luar biasa keras dan terarah disamping kemampuan dribbling, screening dan tendangan yang akurat. Iswadi Idris adalah seorang pemain penuh percaya diri sehingga mampu menggiring bola tak pernah putus melampaui pemain belakang lawan sebelum mengumpan tarik ke striker Yacob Sihasale. Abdul Kadir adalah pemain sayap kiri tercepat di Asia dalam membawa bola maupun tanpa membawa; umpan-umpan dari Kadir inilah menjadi santapan empuk bagi striker Yacob dan second striker Soetjipto Soentoro untuk menciptakan gol-gol spektakuler yang tidak bisa dilihat pada setiap pertandingan. Dan Soetjipto Soentoro tentu adalah pemain istimewa yang pernah dilahirkan Indonesia. Ballskill Soetjipto sangat sempurna; kemampuan menjaga bola (screening) sangat sempurna pula sehingga setiap lawan yang akan merebut bola darinya akan berbuah pelanggaran; tendangan sangat keras dan terarah dari berbagai sudut sempit sekalipun; kemampuan mengecoh dua-tiga pemain belakang sering menjadi makanan hampir pada setiap pertandingan karena memiliki kemampuan “menyulap” bola demikian cepat dan tak terduga. Namun di atas segalanya, Soetjipto memiliki jiwa kepemimpinan, kepercayaan diri dan mentalitas bertanding sangat tinggi sehingga bisa mengangkat permainan tim dalam situasi tertekan sekalipun.
Selengkapnya inilah “Tim Impian Indonesia” yang diyakini oleh penulis bakal “Lolos” ke Piala Dunia seandainya para pemain-pemainnya masih berkumpul utuh seperti di jaman kejayaan Indonesia dulu:
Penjaga gawang: Yudho Hadianto, Yus Etek, Ronny Pasla
Belakang: Yuswardi, Sunarto, Reny Salaki, Mulyadi, Anwar Udjang, Masri, Ishak Udin, Makful, Ronny Pattinasarani, Johanes Auri
Gelandang: Aliandu, Surya Lesmana, Basri, Fatah Hidayat, Bob Hippy, Djunaedi Abdillah, Nobon, Anjas Asmara, Mettu Duaramuri
Depan: Soetjipto Soentoro (Kapten), Yacob Sihasale, Komar, Andjik Alinurdin, Omo, Wowo, Iswadi Idris, Abdul Kadir
Pelatih: Tony Poganik (Pelatih Utama), EA Mangindaan, Endang Witarsa (Asisten Pelatih)
Minggu, 31 Januari 2010
Monumen Flamboyan Bung Karno di Palangkaraya pun Masih Hutan Produksi
Monumen Flamboyan Bung Karno di Palangkaraya pun Masih Hutan Produksi
Oleh Cardiyan HIS
Ada saja “ole-ole” lucu kalau berkunjung ke Kalimantan Tengah. Kalau bulan Puasa Ramadhan lalu saya dapat ole-ole “Menghindari Neraka Orang Hutan pun Ikut Puasa” dan “Kelelawar Menjerit-jerit Kesakitan karena Dipukulin oleh sang Penjual hanya agar Memperoleh Rp. 13 Ribu”. Maka ole-ole kali ini adalah tak kurang lucunya bahkan sekaligus ironis. Inilah ceriteranya.
Monumen Flamboyan diresmikan dan prasastinya ditandatangani oleh Bung Karno tahun 1957. Peresmian ini menandai awal Bung Karno mendeklarasi terbentuknya provinsi Kalimantan Tengah dengan ibukota Palangkaraya sekaligus mengangkat Gubernur pertama; Tjilik Riwut. Alumnus ITB pertama ini juga memberi sinyal betapa Palangkaraya dari berbagai aspek sangat-sangat pantas menjadi ibukota Republik Indonesia menggantikan Jakarta. Melihat kota Palangkaraya sekarang adalah mirip Kebayoran Baru, Jakarta akhir tahun 1960an. Kotanya sangat asri dan tertata baik. Jalannya lebar-lebar, trotoar bagi pejalan kali lebar-lebar pula. Drainasenya tak pernah mampat, sehingga Palangkaraya tak pernah banjir karena ulah penduduknya tak pernah buang sampah sembarangan.
Nah yang lucu di balik kehebatan Palangkaraya sebagai kota sangat asri ini adalah Monumen Flamboyan ternyata masih masuk HUTAN PRODUKSI !!! Padahal monumen yang terletak di jalan Ahmad Yani, di dekat jembatan sungai Kahayan ini persis di depan kantor DPRD Kalimantan Tengah.
Mengapa hal itu bisa terjadi di kota Palangkaraya yang sangat asri dan menurut penilaian banyak orang Indonesia dan asing adalah salah satu ibukota provinsi terasri dan “bebas gempa bumi” di Indonesia?
Ternyata dari hasil “investigasi” kunjungan kerja saya ke Kalimantan Tengah kemarin ditemukan fakta betapa Pemda Kalimantan Tengah tak mampu juga mewujudkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP)! Ini satu-satunya provinsi di Indonesia yang belum memiliki RTRWP! Gorontalo sebagai kelompok provinsi termuda saja telah memiliki RTRWP yang telah disahkan oleh DPR beberapa bulan lalu.
Konsekuensi inilah yang menjadi kendala utama akselerasi pembangunan provinsi Kalimantan Tengah terhambat. Yang sederhana semua permohonan legalitas kepemilikan tanah masyarakat agar mendapatkan sertifikat tanah tak berani dilakukan oleh pejabat Badan Pertanahan Nasional setempat karena takut masuk penjara. Untuk skala ekonomi lebih luas dan lebih besar, investor tambang batubara terhenti pada satu tahap proses saja soal “Pinjam Pakai Hutan” padahal kegiatan eksplorasi lengkap telah dilakukan sehingga tahap produksi tertunda terus. Begitu pula sektor agro industri khususnya sawit, semua bibit sawit telah tumbuh di kamp pembibitan tanpa pernah ditanam di areal yang telah mendapat ijin lokasinya! Dan investor pun puyeng tujuh keliling.
Tak aneh bila dalam pembacaan laporan pertanggungjawaban pendapatan daerah sektor pertambangan di kabupaten Katingan misalnya, Kadistamben sempat stress karena “diolok-olok” anggota DPRD Katingan: “Yang benar saja, apakah pantas sektor pertambangan yang keren cuma mampu setor Rp 5 juta setahun ke kas Pemda?”. Kadistamben Katingan hanya berkilah kalau hanya galian C saja yang diijinkan nambang ya itu saja yang halal yang bisa disetorkan.
Oleh Cardiyan HIS
Ada saja “ole-ole” lucu kalau berkunjung ke Kalimantan Tengah. Kalau bulan Puasa Ramadhan lalu saya dapat ole-ole “Menghindari Neraka Orang Hutan pun Ikut Puasa” dan “Kelelawar Menjerit-jerit Kesakitan karena Dipukulin oleh sang Penjual hanya agar Memperoleh Rp. 13 Ribu”. Maka ole-ole kali ini adalah tak kurang lucunya bahkan sekaligus ironis. Inilah ceriteranya.
Monumen Flamboyan diresmikan dan prasastinya ditandatangani oleh Bung Karno tahun 1957. Peresmian ini menandai awal Bung Karno mendeklarasi terbentuknya provinsi Kalimantan Tengah dengan ibukota Palangkaraya sekaligus mengangkat Gubernur pertama; Tjilik Riwut. Alumnus ITB pertama ini juga memberi sinyal betapa Palangkaraya dari berbagai aspek sangat-sangat pantas menjadi ibukota Republik Indonesia menggantikan Jakarta. Melihat kota Palangkaraya sekarang adalah mirip Kebayoran Baru, Jakarta akhir tahun 1960an. Kotanya sangat asri dan tertata baik. Jalannya lebar-lebar, trotoar bagi pejalan kali lebar-lebar pula. Drainasenya tak pernah mampat, sehingga Palangkaraya tak pernah banjir karena ulah penduduknya tak pernah buang sampah sembarangan.
Nah yang lucu di balik kehebatan Palangkaraya sebagai kota sangat asri ini adalah Monumen Flamboyan ternyata masih masuk HUTAN PRODUKSI !!! Padahal monumen yang terletak di jalan Ahmad Yani, di dekat jembatan sungai Kahayan ini persis di depan kantor DPRD Kalimantan Tengah.
Mengapa hal itu bisa terjadi di kota Palangkaraya yang sangat asri dan menurut penilaian banyak orang Indonesia dan asing adalah salah satu ibukota provinsi terasri dan “bebas gempa bumi” di Indonesia?
Ternyata dari hasil “investigasi” kunjungan kerja saya ke Kalimantan Tengah kemarin ditemukan fakta betapa Pemda Kalimantan Tengah tak mampu juga mewujudkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP)! Ini satu-satunya provinsi di Indonesia yang belum memiliki RTRWP! Gorontalo sebagai kelompok provinsi termuda saja telah memiliki RTRWP yang telah disahkan oleh DPR beberapa bulan lalu.
Konsekuensi inilah yang menjadi kendala utama akselerasi pembangunan provinsi Kalimantan Tengah terhambat. Yang sederhana semua permohonan legalitas kepemilikan tanah masyarakat agar mendapatkan sertifikat tanah tak berani dilakukan oleh pejabat Badan Pertanahan Nasional setempat karena takut masuk penjara. Untuk skala ekonomi lebih luas dan lebih besar, investor tambang batubara terhenti pada satu tahap proses saja soal “Pinjam Pakai Hutan” padahal kegiatan eksplorasi lengkap telah dilakukan sehingga tahap produksi tertunda terus. Begitu pula sektor agro industri khususnya sawit, semua bibit sawit telah tumbuh di kamp pembibitan tanpa pernah ditanam di areal yang telah mendapat ijin lokasinya! Dan investor pun puyeng tujuh keliling.
Tak aneh bila dalam pembacaan laporan pertanggungjawaban pendapatan daerah sektor pertambangan di kabupaten Katingan misalnya, Kadistamben sempat stress karena “diolok-olok” anggota DPRD Katingan: “Yang benar saja, apakah pantas sektor pertambangan yang keren cuma mampu setor Rp 5 juta setahun ke kas Pemda?”. Kadistamben Katingan hanya berkilah kalau hanya galian C saja yang diijinkan nambang ya itu saja yang halal yang bisa disetorkan.
Kamis, 21 Januari 2010
ITB Berubah: Menghargai Entrepreneur Arifin Panigoro dengan Doktor HC
ITB Berubah: Menghargai Entrepreneur Arifin Panigoro dengan Doktor HC
Oleh Cardiyan HIS
ITB berubah. ITB yang sangat pelit dalam memberikan gelar doktor kehormatan (DR. HC) karena kriterianya sangat ketat dan baru memberikan DR. (HC) kepada 6 (enam) orang saja. Salah satu yang mendapat penghargaan pelit ITB ini adalah Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI sekaligus alumnus ITB angkatan pertama (1920). ITB akan mengubah sejarahnya dengan memberikan DR.(HC) kepada seorang entrepreneur papan atas Indonesia; Ir. Arifin Panigoro. Rencananya Arifin Panigoro, pendiri dan pemilik utama Medco Group akan diganjar DR.(HC) bidang Technopreneur pada Sidang Terbuka ITB, di Aula Barat ITB, Sabtu, 23 Januari 2010.
Penghargaan ITB untuk Arifin Panigoro, seorang Entrepreneur atau lebih spesifik lagi Technopreneur papan atas Indonesia patut disambut baik. Terlebih sebelumnya ITB telah mengundang kontroversi atas rencana pemberian DR. (HC) kepada Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI sekarang, yang berujung dengan “pembatalan” karena SBY sendiri meminta untuk “menunda”-nya karena alasan politis yang bakal merugikan citranya dan citra ITB pula.
Keputusan ITB kali ini sangat tepat karena Arifin Panigoro adalah salah satu alumnus ITB (Teknik Elektro) yang sangat menonjol dalam proses pencapaian kewirausahaannya, sehingga meraih derajat “world class genuine entrepreneur especially in energy industry”. Kakang Pipin (begitu nama akrab dan egaliter yang dipanggil teman-temannya) memulai kewirausahaannya dari perusahaan kecil yang didirikannya sejak lulus dari ITB awal tahun 1970an. Kecerdasannya dalam mengendus peluang dan (terutama) keberaniannya dalam mengambil risiko telah membawanya meniti tangga demi tangga menjadi seorang Wirausaha Sejati kelas dunia.
ITB sebenarnya sangat terlambat dalam memberikan apresiasi DR.(HC) bagi kalangan Wirausaha Sejati. UGM telah lebih dulu memberikan DR.(HC) kepada salah seorang alumnus terkemukanya, Jakob Oetama, Founder and Chairman Kompas Gramedia Group dan bahkan kepada Ir. Ciputra, yang nota bene adalah alumnus Departemen Arsitektur ITB!. Tetapi seperti pepatah masih lebih baik terlambat dari pada tidak berbuat sama sekali, bolehlah kita menghargai keputusan ITB ini.
Dan yang lebih penting keputusan ITB ini tidak berhenti hanya kepada memberikan DR. (HC) kepada seorang Wirausaha Sejati, Arifin Panigoro, tetapi bertindak nyata dalam mengukuhkan kerjasama yang lebih intens dengan kalangan dunia usaha. ITB harus aktif jemput bola, mendatangi industri agar mau memanfaatkan invensi dan inovasi kampus ITB dalam upaya meningkatkan skala usahanya. Banyak kolega penulis yang “curhat” kepada penulis bahwa ITB terlalu sombong untuk mau “door to door” mendatangi perusahaan-perusahaan yang sebenarnya merupakan “potential clients”.
Kita sangat berharap, pemberian DR.(HC) oleh ITB kepada yang berhak dengan latar belakang Technopreneur sekelas Arifin Panigoro akan memberikan inspirasi kepada para alumni ITB, baik yang baru memulai maupun yang tengah didera banyak masalah dalam proses kewirausahaannya untuk tetap tidak menyerah dalam mengarungi samudra ganas dunia usaha. Perjuangan Anda seperti halnya Wirausaha Sejati Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Ciputra, TP Rachmat, Beny Subianto, Iman Taufik, Achmad Kalla dan masih banyak lagi, suatu ketika akan terbukti dapat memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa Indonesia dalam membuka kesempatan kerja yang sangat luas.
Dan last but not least, ITB harus pula mengubah mindset dalam cara pandang menangani mahasiswa ITB secara keseluruhan terlebih lagi kepada para mahasiswa yang memiliki minat tinggi kepada dunia kewirausahaan. ITB hendaknya memandang mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan untuk suatu “human investment” berjangka panjang dan bukan menganggap menangani mahasiswa adalah suatu “cost centre” yang buang uang dan buang waktu. Maka ITB hendaknya memberikan lebih banyak lagi proses latihan kepada para mahasiswanya yang merupakan bibit unggul terbaik di kawasan Asia Pasifik dalam hal Selektifitas Mahasiswa. Cetak lebih banyak lagi “Business Incubator” pada unit-unit kegiatan mahasiswa. Dari sinilah awalnya sebenarnya puluhan tahun kemudian akan dijumpai banyak alumni ITB yang berkelas Arifin Panigoro bahkan akan melampaui skala ekonominya juga proses pencapaiannya yang bermartabat.
ITB akan dicap gagal total kalau tak mampu menaikkan nilai tambah kepada para mahasiswanya yang talentanya sangat hebat (high achiever) kalau hanya berkutat pintar mengawasi bahkan memata-matai kegiatan mahasiswa ITB dan hanya pintar memberikan sanksi akademis. ITB memang harus berubah menjadi lebih sabar dan lebih kreatif menuju “ITB Technopreneur University” berkelas dunia.
Oleh Cardiyan HIS
ITB berubah. ITB yang sangat pelit dalam memberikan gelar doktor kehormatan (DR. HC) karena kriterianya sangat ketat dan baru memberikan DR. (HC) kepada 6 (enam) orang saja. Salah satu yang mendapat penghargaan pelit ITB ini adalah Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI sekaligus alumnus ITB angkatan pertama (1920). ITB akan mengubah sejarahnya dengan memberikan DR.(HC) kepada seorang entrepreneur papan atas Indonesia; Ir. Arifin Panigoro. Rencananya Arifin Panigoro, pendiri dan pemilik utama Medco Group akan diganjar DR.(HC) bidang Technopreneur pada Sidang Terbuka ITB, di Aula Barat ITB, Sabtu, 23 Januari 2010.
Penghargaan ITB untuk Arifin Panigoro, seorang Entrepreneur atau lebih spesifik lagi Technopreneur papan atas Indonesia patut disambut baik. Terlebih sebelumnya ITB telah mengundang kontroversi atas rencana pemberian DR. (HC) kepada Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI sekarang, yang berujung dengan “pembatalan” karena SBY sendiri meminta untuk “menunda”-nya karena alasan politis yang bakal merugikan citranya dan citra ITB pula.
Keputusan ITB kali ini sangat tepat karena Arifin Panigoro adalah salah satu alumnus ITB (Teknik Elektro) yang sangat menonjol dalam proses pencapaian kewirausahaannya, sehingga meraih derajat “world class genuine entrepreneur especially in energy industry”. Kakang Pipin (begitu nama akrab dan egaliter yang dipanggil teman-temannya) memulai kewirausahaannya dari perusahaan kecil yang didirikannya sejak lulus dari ITB awal tahun 1970an. Kecerdasannya dalam mengendus peluang dan (terutama) keberaniannya dalam mengambil risiko telah membawanya meniti tangga demi tangga menjadi seorang Wirausaha Sejati kelas dunia.
ITB sebenarnya sangat terlambat dalam memberikan apresiasi DR.(HC) bagi kalangan Wirausaha Sejati. UGM telah lebih dulu memberikan DR.(HC) kepada salah seorang alumnus terkemukanya, Jakob Oetama, Founder and Chairman Kompas Gramedia Group dan bahkan kepada Ir. Ciputra, yang nota bene adalah alumnus Departemen Arsitektur ITB!. Tetapi seperti pepatah masih lebih baik terlambat dari pada tidak berbuat sama sekali, bolehlah kita menghargai keputusan ITB ini.
Dan yang lebih penting keputusan ITB ini tidak berhenti hanya kepada memberikan DR. (HC) kepada seorang Wirausaha Sejati, Arifin Panigoro, tetapi bertindak nyata dalam mengukuhkan kerjasama yang lebih intens dengan kalangan dunia usaha. ITB harus aktif jemput bola, mendatangi industri agar mau memanfaatkan invensi dan inovasi kampus ITB dalam upaya meningkatkan skala usahanya. Banyak kolega penulis yang “curhat” kepada penulis bahwa ITB terlalu sombong untuk mau “door to door” mendatangi perusahaan-perusahaan yang sebenarnya merupakan “potential clients”.
Kita sangat berharap, pemberian DR.(HC) oleh ITB kepada yang berhak dengan latar belakang Technopreneur sekelas Arifin Panigoro akan memberikan inspirasi kepada para alumni ITB, baik yang baru memulai maupun yang tengah didera banyak masalah dalam proses kewirausahaannya untuk tetap tidak menyerah dalam mengarungi samudra ganas dunia usaha. Perjuangan Anda seperti halnya Wirausaha Sejati Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Ciputra, TP Rachmat, Beny Subianto, Iman Taufik, Achmad Kalla dan masih banyak lagi, suatu ketika akan terbukti dapat memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa Indonesia dalam membuka kesempatan kerja yang sangat luas.
Dan last but not least, ITB harus pula mengubah mindset dalam cara pandang menangani mahasiswa ITB secara keseluruhan terlebih lagi kepada para mahasiswa yang memiliki minat tinggi kepada dunia kewirausahaan. ITB hendaknya memandang mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan untuk suatu “human investment” berjangka panjang dan bukan menganggap menangani mahasiswa adalah suatu “cost centre” yang buang uang dan buang waktu. Maka ITB hendaknya memberikan lebih banyak lagi proses latihan kepada para mahasiswanya yang merupakan bibit unggul terbaik di kawasan Asia Pasifik dalam hal Selektifitas Mahasiswa. Cetak lebih banyak lagi “Business Incubator” pada unit-unit kegiatan mahasiswa. Dari sinilah awalnya sebenarnya puluhan tahun kemudian akan dijumpai banyak alumni ITB yang berkelas Arifin Panigoro bahkan akan melampaui skala ekonominya juga proses pencapaiannya yang bermartabat.
ITB akan dicap gagal total kalau tak mampu menaikkan nilai tambah kepada para mahasiswanya yang talentanya sangat hebat (high achiever) kalau hanya berkutat pintar mengawasi bahkan memata-matai kegiatan mahasiswa ITB dan hanya pintar memberikan sanksi akademis. ITB memang harus berubah menjadi lebih sabar dan lebih kreatif menuju “ITB Technopreneur University” berkelas dunia.
Label:
Arifin Panigoro,
Cardiyan HIS,
Doktor HC ITB
Langganan:
Postingan (Atom)
