Kamis, 01 April 2010

Insinyur dkk Cari Duit, Sri Mulyani “Buang Duit”

Oleh Cardiyan HIS


Kepala BP Migas Ir. R. Priyono pusing tujuh keliling. Mau libur panjang kok pusing mas Pri? Ya, Ir. Priyono, MSc (alumnus ITB angkatan masuk 1976) pusing karena terus-terusan ditilpun Menteri Keuangan Sri Mulyani soal lifting. Sri Mulyani, SE, PhD tentu lebih pusing lagi karena utang RI sudah melampaui Rp. 1.200 triliun dan banyak yang mau jatuh tempo lagi. Sri Mulyani, SE, PhD, tambah pusing karena “buang duit” Rp. 4,126 triliun /tahun untuk “Reformasi Birokrasi” yang dibangga-banggakannya ternyata begitu mudahnya jeblog dibobolin oleh ulah anak buahnya sendiri.

Berita berupa running text di sebuah statsiun TV kemarin ini seperti luput dari perhatian para insinyur dan sarjana lainnya yang tengah jungkir balik bekerja karena kalah dengan berita artis panas Jupe (Julia Perez) yang akan menjadi calon Bupati Pacitan, tempat kelahiran dan SBY dibesarkan. Padahal ini sangat mendasar bagi Pemerintah RI dan pertanggungjawabannya kepada rakyat Indonesia. Dan kalau mau dikorek-korek lebih jauh lagi secara emosional dan sentimen profesi bisa saja; memang terbukti ini merupakan perseturuan abadi antara insinyur yang cari duit jungkir balik di laut dan di hutan dan sarjana ekonomi keuangan yang buang duit seenak udel di kursi empuk.

Ir. R. Priyono, MSc, sebagai Kepala BP Migas memang bertanggungjawab; bagaimana harus terus menerus mengoptimalkan para insinyur dkk yang bekerja siang malam di lapangan minyak gas di offshore berbagai laut Indonesia maupun di hutan-hutan agar proses produksi migas berjalan aman agar lifting bisa meningkat. Tak hanya Ir. R. Priyono, para insinyur di tambang batubara dan mineral lainnya di hutan-hutan siang malam terus bekerja keras agar sumberdaya alam berhasil diangkat menjadi pemasukan negara melalui pajak dan royalti. Begitu pula insinyur pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan dkk bekerja keras di hutan produksi dan perkebunan dan laut agar mampu mencetak produksi maksimal supaya pajak yang masuk ke negara juga tinggi. Belum terhitung insinyur dan insunyur periset di dunia industri manufaktur.
Pajak dijadikan andalan untuk menjadi pemasukan negara, agar RI tidak bangkrut. Tetapi Menteri Keuangan RI Sri Mulyani tidak mengelolanya dengan baik. Dengan dalih untuk Reformasi Birokrasi dia dengan seenaknya menaikkan remunerasi pegawai di lingkungan kementriannya sembilan kali lebih banyak dari kementrian lain di Kabinet SBY. Ini bukan saja tidak efektif menghasilkan kinerja anak buahnya yang tetap saja korupsi gila-gilaan seperti terbukti kasus pegawai rendahan pajak Gayus Tambunan saja sudah luar biasa apalagi pejabat di atasnya. Tetapi tindakan Sri Mulyani ini juga bisa menimbulkan kecemburuan pada profesi yang lain yang nota bene berperan besar dalam menghasilkan duit dan mencegah duit tidak dirampok. Misalnya para insinyur dkk jelas berada di garis depan dalam menghasilkan duit. Tetapi tidak hanya insinyur tetapi juga ada para prajurit TNI dan Polri di daerah terpencil masih setia menjaga NKRI dan menangkap para penyelundup, yang kalau saja lolos bukan hanya bisa merugikan ekonomi negara tetapi juga kedaulatan NKRI dikangkangi. Belum aktivitas para aktivis LSM yang terus mengawasi perusahaan-perusahaan pengeruk SDA agar bekerja sesuai aturan.

Sebagai Menteri Keuangan RI Sri Mulyani juga terlalu getol mencari utang dengan bunga sangat tinggi. Contohnya untuk menerbitkan Obligasi RI dengan bunga tinggi 13% per tahun padahal perusahaan tambang batubara PT. Adaro Energy Tbk dengan mudah menerbitkan obligasi US$ 800 juta selama 10 tahun dengan suku bunga tetap 7,625%/tahun (HU “Kompas” 17 Oktober 2009). Tentu saja Sri Mulyani dipuji-puji jaringan neolib sebagai salah seorang “Menteri Keuangan Terbaik di Dunia” karena memberi ekstra bunga luar biasa. Dan jumlah utangan yang diraihnya pun selalu lebih besar dari realisasinya sehingga RI kena penalti tinggi rentenir asing. Belum amburadulnya realisasi belanja APBN yang selalu ditumpuk di akhir tahun. Ini jelas membuat semua pihak yang terlibat dan bekerja atas sumber APBN jungkir balik sebab sebenarnya mereka bekerja sejak awal tahun APBN; yang sudah menjadi rahasia umum sangat rawan terhadap terjadinya rekayasa pertanggungjawaban belanja negara. Belum cara dia begitu royalnya membelanjai kemewahan untuk kalangan pejabat tinggi negara.

Kita percaya 1.000.000.000.000% bahwa Sri Mulyani sebagai pribadi tidak pernah memperkaya diri. Tetapi dia harus bertanggungjawab bukan soal dia tidak korupsi. Tetapi dia harus bertanggungjawab atas amanah dia menjabat sebagai Menteri Keuangan RI kepada rakyat Indonesia termasuk kepada rakyat insinyur, para prajurit dan profesi lainnya dalam mengelola keuangan negara termasuk dalam “membuang duit”.

Selasa, 16 Februari 2010

Saatnya Rektor Menegor Profesor

Saatnya Rektor Menegor Profesor

Oleh Cardiyan HIS


Menteri Pendidikan Nasional Prof.DR. M. Nuh gundah. Ternyata begitu mudah memperoleh gelar profesor di Indonesia. Ia mengeluh kemudahan itu tak diimbangi oleh karya penelitian yang berkualitas yang tercermin tulisannya dimuat di jurnal ilmiah internasional kredibel. Bahkan M.Nuh gerah ternyata ia menemukan fakta setidaknya ada dua Rektor universitas terkenal di Jawa Barat dan Jawa Timur yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah internasional.

Karena kemudahan menjadi profesor di Indonesia, tak mengherankan kini ada istilah “Profesor Masturbasi”. Yakni, seseorang yang mendapatkan gelar keprofesorannya melalui karya yang dilakukan sendiri. Penelitian dilakukan sendiri (biaya sendiri, tidak berkolaborasi dengan lembaga lain), ditulis sendiri (tidak di-review oleh ahli sebidang dari negara lain, tetapi di-review oleh teman sendiri), dipublikasikan di jurnalnya (milik lembaga sendiri), lalu untuk naik pangkat/jabatan sendiri. Cerdas juga yang membuat istilah tersebut karena masturbasi memang dilakukan sendiri, bahkan cenderung sembunyi-sembunyi (http://jawapos. co.id/halaman/ index.php? act=detail&nid=116798).

Memang betul ada etika yang berlaku universal pada universitas-universitas kelas dunia bahwa karya seorang dosen peneliti “tak boleh” dinilai oleh kolega yang mantan profesor pembimbing dan atau co-promotor disertasinya; kolega yang pernah satu tim dalam penelitian, kolega yang pernah menjadi co-author penulisan di jurnal ilmiah. Peer Reviewer harus berasal dari dosen peneliti universitas di luar negaranya, yang kemampuan menelitinya telah berkelas internasional. Karya yang dinilai pun “tak boleh” hanya dimuat sebagai paper di sebuah konferensi atau seminar internasional yang kemudian ramai-ramai dijadikan “Proceedings”. Juga “tak boleh” hanya dimuat di jurnal nasional yang tak memiliki akreditasi internasional.

Sejak jaman dahulu kala memang sudah ada adagium yang sudah sangat meresap di kalangan masyarakat kampus berkualitas yakni “publish or perish” (“menulis dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional kredibel atau mati”). Bagi seorang dosen peneliti apalagi bila ia seorang profesor, bila tak ada satu pun tulisannya dimuat di jurnal kelas dunia yang memiliki Impact Factor adalah suatu aib besar. Maka tak mengherankan bila ada berita nyata seorang doktor lulusan Stanford University di Amerika Serikat (AS) mundur dari sebuah lembaga penelitian terpandang dan beralih profesi menjadi supir taksi. Entah berapa doktor lagi lulusan universitas kelas dunia di AS yang beralih profesi sebagai pelayan hotel, tukang cuci piring di restoran dan entah apa lagi. Sedangkan di Indonesia, seorang profesor doktor tak mungkin nganggur hanya gara-gara tak memiliki karya tulis di jurnal ilmiah internasional; gajinya yang diraih di era SBY yang sudah naik jauh menjadi Rp. 15 juta/bulan pun akan aman-aman saja masuk rekening banknya. Bahkan boleh jadi kalau sang profesor pintar “cakap” masih laku pula menjadi pengamat di media elektronik televisi; menjadi seorang selebritas yang genit.

Kalau pembaca tak punya akses ke Web of Science: ISI Knowledge yang harga langganannya Rp. 800 juta rupiah/tahun atau Scopus yang “lebih murah” Rp. 300 juta/tahun, sehingga untuk itu ITB misalnya, berturut-turut dikasih Dana Hibah Inggris untuk berlangganan ISI Web of Science (3 tahun sebelumnya) dan Chevron Texaco (2 tahun terakhir ini). Maka dengan kemajuan teknologi informatika yang membuat hampir segala informasi begitu transparan, kita dengan mudah bisa melihat siapa profesor doktor di Indonesia dan di dunia yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal kredibel dunia seperti Nature, Science, Lancet. Asal tahu namanya; “Oom GoogleScholar” akan dengan mudah searching siapa profesor doktor yang hanya memiliki 1 (satu) Citation saja yakni tak lebih dari disertasi yang ditulisnya. “Satu disertasi sampai mati”, ungkap seorang kolega saya; ahli komunikasi senior sebuah universitas terkenal di ibukota yang gagal meraih doktor di Cornell University tetapi sering “berkilah dan membanggakan diri” (di banyak kesempatan pertemuan) masih mendingan menulis banyak artikel dan beberapa buku ketimbang satu disertasi doktor.

Di Indonesia, ITB meskipun yang bertahun-tahun merupakan barometer terbaik dari jumlah Citation para dosen penelitinya dibanding UI, UGM, IPB dan LIPI versi Scopus. Namun jumlah Citation ITB belum memberikan gambaran umum bagi setiap dosen yang bergelar PhD yang jumlahnya terbanyak pula di Indonesia yakni 775 PhD dari 1.025 seluruh dosennya; mampu mempublikasikan karya penelitiannya di jurnal internasional kredibel. Ternyata tidak sedikit pula kalangan PhD dan atau profesor ITB yang masih hanya memiliki satu Citation saja yakni disertasinya itu! Pemilik dua ratusan Citation terbanyak asal ITB masih “eta keneh eta keneh” (itu saja itu saja) antara lain Widiyantoro S, Halim M, Noer AS, Soenarko B, Soemarsono H, Hidayat R, Wenas WW, Hakim EH, Wiramihardja SD, Ariando, Gusnidar T, Pancoro, Onggo D, Linaya C, Suwono, Priadi, Cahyati, Hidayat T, Akhmaloka (Rektor ITB), Wenten IG, Hadi S, Adisasanto, Wuryanto A, Herdianita NR, Rusydi A, Widjaja J, Hasanuddin ZA, Retnoningrum, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT, Arismunandar, Dahono P.


Kriteria Harus Diubah

Kritikan Mendiknas M. Nuh meskipun sangat terlambat tetapi lebih baik dari pada tidak sama sekali. Oleh karena itu kriteria bagi persyaratan memperoleh profesor di Indonesia harus diubah. Bobot terbesar hendaknya diletakkan pada jumlah karya penelitian dosen yang berhasil dimuat di jurnal ilmiah internasional kredibel, yang memiliki Impact Factor. Kebijakan ini akan memacu para dosen peneliti yang bergelar PhD (Doktor) untuk terus melakukan penelitian berkualitas dan mampu mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional. Sebaliknya Mendiknas pun harus mengubah pandangan dalam mengalokasikan dana riset bagi perguruan tinggi tidak asal untuk melakukan riset. Tetapi mengubahnya menjadi dana riset yang jumlahnya besar tetapi tetap selektif untuk riset-riset dasar maupun riset terapan yang berkualitas.

Saatnya para Rektor pun menegor para profesor yang sampai sekarang hanya memiliki satu Citation yakni dari satu disertasinya saja. Bagi para doktor yang sudah terlanjur mendapat “pangkat” profesor dengan performa ini hendaknya “tobat” yakni kembali kepada suasana kondusif untuk fokus melakukan kegiatan meneliti dalam intensitas tinggi kemdian mempublikasikan karyanya di jurnal ilmiah internasional kredibel.

Juga secara sistimatis dan berjangka panjang, kalangan perguruan tinggi hendaknya menjadi lokomotif penarik bagi tumbuh berkembangnya organisasi profesi yang disamping mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebenaran, juga menjadi penerbit jurnal-jurnal ilmiah profesi yang independen, yang berkualitas internasional. Sehingga jurnal-jurnal profesi ini bisa menjadi wahana bagi para peneliti Indonesia untuk menuliskan karya-karya penelitiannya. Dengan demikian secara jangka panjang, Indonesia akan keluar dari predikat negara dunia ketiga yang kehilangan generasi peneliti; generasi yang hanya bisa mengkonsumsi teknologi impor tetapi tak mampu mengkreasi teknologi sendiri.


http://cardiyanhis.blogspot.com

Jumat, 12 Februari 2010

Tim Impian Indonesia Lolos ke Piala Dunia !!!

Oleh Cardiyan HIS







Indonesia adalah “Brazil Asia”. Yang ngomong bukan sembarang orang tetapi Ketua FIFA Sepp Blater. Tapi pujian itu hanya didedikasikan untuk tim nasional sepakbola Indonesia yang dikapteni oleh Soetjipto “Gareng” Soentoro. Dan komandan PSSI-nya jelas bukan Nurdin Halid pula tetapi kakak kandung Solichin GP yakni Kosasih Purwanegara.

Pada era 1960-an sampai medio 1970-an, kesebelasan Indonesia memang menjadi kesebelasan elite Asia kalau tak boleh dijuluki “Raja Asia” , yang sangat dihormati oleh kesebelasan-kesebelasan di Asia bahkan Eropa. Padahal modal kas PSSI semata-mata dari keuntungan bersih jualan karcis di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, manakala Indonesia melawan tim-tim kelas dunia seperti Dynamo Moscow, Dynamo Kiev (dahulu masih Uni Soviet), Santos, Cruziero, Sao Paolo (Brazil), Independiente (Argentina), Cosmos dan Washington Diplomat (USA) dan lain-lain.

Saingan berat Indonesia di Asia hanya Israel (belum masuk zona Eropa), Iran dan Burma (sekarang Myanmar). Jepang dan Korea Selatan yang menjadi langganan Piala Dunia sekarang ini, biasa dipermak habis Indonesia dengan minimal skor 3-0. Bahkan Timnas Taiwan dicukur Indonesia dengan skor telak 11-1 di Piala Merdeka Games, Malaysia, tahun 1968. Jangan tanyalah timnas Thailand, Vietnam dan Singapura karena ketiganya nggak level disandingkan dengan Indonesia. Terlebih negara-negara di jazirah Arab, bahkan mereka “belum tahu cara bermain bola”, maklumlah federasi sepakbola pun mereka belum punya.

Bayangkan saja sejak Piala Merdeka Games yang sangat prestisius di Asia pertama kali diadakan sejak 1954 dan Indonesia yang pertama kali menjuarainya, kemudian Indonesia memenanginya kembali pada tahun 1960, 1961, 1962 dan 1969 (dan tahun-tahun yang hilang di Merdeka Games karena Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia). Rute emas kejuaraan yang dimenangi Indonesia selalu dimulai dari kota Dacca (ibukota Pakistan Timur ketika itu, sekarang ibukota Bangladesh) dimana ada turnamen Agha Khan Gold Cup. Indonesia menjuarai piala Agha Khan ini sejak 1961, 1966, 1967, 1968 dan 1979 (tahun-tahun lainnya Indonesia adalah juara 2). Kemudian tim Indonesia turun ke Bangkok untuk menjuarai King’s Cup dan Queen’s Cup pada tahun 1968 dan 1971 (tahun-tahun lainnya Indonesia selalu lolos ke final). Kemudian timnas Indonesia memenangi Piala Sukan Singapura, bahkan menciptakan All Indonesian Final antara Indonesia A dan Indonesia B pada tahun 1972. Dan terakhir tentu saja main di kandang pada Jakarta Anniversary Cup, yang terakhir dijuarai pada tahun 1972 dengan menundukkan timnas Korea Selatan dengan skor 4-2.

Atas supremasi kesebelasan Indonesia itulah akhirnya Indonesia diminta AFC (Asia Football Confederation) mengirim 5 pemain nasionalnya untuk mengisi skuad “Asia All Stars”. Mereka itu adalah Soetjipto Soentoro (penyerang lubang sekaligus bertindak sebagai kapten), Yacob Sihasale (penyerang tengah), Iswadi Idris (sayap kanan), Abdul Kadir (sayap kiri) dan Yudho Hadianto (penjaga gawang). Sebenarnya AFC berniat memanggil pemain Indonesia lebih banyak lagi seperti stopper Anwar Udjang dan Mulyadi serta gelandang Basri dan Aliandu. Ttetapi AFC tentu saja harus bertindak adil dengan memanggil pemain Asia lainnya meskipun hanya masing-masing satu orang saja.

Apa keunggulan pemain-pemain Indonesia ketika itu? Indonesia memiliki penjaga gawang “sangat kebal” seperti dinobatkan oleh koran “Utusan Malaysia”, Kuala Lumpur dan “Bangkok Post”, Bangkok pada diri Yudho Hadianto. Fisik Yudho sebenarnya tidak terlalu tinggi tetapi dia mampu bermain akrobat yang sangat memukau dengan tetap tak kehilangan akurasinya. Yacob Sihasale adalah striker oportunis dengan sundulan kepala yang sangat luar biasa keras dan terarah disamping kemampuan dribbling, screening dan tendangan yang akurat. Iswadi Idris adalah seorang pemain penuh percaya diri sehingga mampu menggiring bola tak pernah putus melampaui pemain belakang lawan sebelum mengumpan tarik ke striker Yacob Sihasale. Abdul Kadir adalah pemain sayap kiri tercepat di Asia dalam membawa bola maupun tanpa membawa; umpan-umpan dari Kadir inilah menjadi santapan empuk bagi striker Yacob dan second striker Soetjipto Soentoro untuk menciptakan gol-gol spektakuler yang tidak bisa dilihat pada setiap pertandingan. Dan Soetjipto Soentoro tentu adalah pemain istimewa yang pernah dilahirkan Indonesia. Ballskill Soetjipto sangat sempurna; kemampuan menjaga bola (screening) sangat sempurna pula sehingga setiap lawan yang akan merebut bola darinya akan berbuah pelanggaran; tendangan sangat keras dan terarah dari berbagai sudut sempit sekalipun; kemampuan mengecoh dua-tiga pemain belakang sering menjadi makanan hampir pada setiap pertandingan karena memiliki kemampuan “menyulap” bola demikian cepat dan tak terduga. Namun di atas segalanya, Soetjipto memiliki jiwa kepemimpinan, kepercayaan diri dan mentalitas bertanding sangat tinggi sehingga bisa mengangkat permainan tim dalam situasi tertekan sekalipun.

Selengkapnya inilah “Tim Impian Indonesia” yang diyakini oleh penulis bakal “Lolos” ke Piala Dunia seandainya para pemain-pemainnya masih berkumpul utuh seperti di jaman kejayaan Indonesia dulu:

Penjaga gawang: Yudho Hadianto, Yus Etek, Ronny Pasla

Belakang: Yuswardi, Sunarto, Reny Salaki, Mulyadi, Anwar Udjang, Masri, Ishak Udin, Makful, Ronny Pattinasarani, Johanes Auri

Gelandang: Aliandu, Surya Lesmana, Basri, Fatah Hidayat, Bob Hippy, Djunaedi Abdillah, Nobon, Anjas Asmara, Mettu Duaramuri

Depan: Soetjipto Soentoro (Kapten), Yacob Sihasale, Komar, Andjik Alinurdin, Omo, Wowo, Iswadi Idris, Abdul Kadir

Pelatih: Tony Poganik (Pelatih Utama), EA Mangindaan, Endang Witarsa (Asisten Pelatih)

Minggu, 31 Januari 2010

Monumen Flamboyan Bung Karno di Palangkaraya pun Masih Hutan Produksi

Monumen Flamboyan Bung Karno di Palangkaraya pun Masih Hutan Produksi


Oleh Cardiyan HIS

Ada saja “ole-ole” lucu kalau berkunjung ke Kalimantan Tengah. Kalau bulan Puasa Ramadhan lalu saya dapat ole-ole “Menghindari Neraka Orang Hutan pun Ikut Puasa” dan “Kelelawar Menjerit-jerit Kesakitan karena Dipukulin oleh sang Penjual hanya agar Memperoleh Rp. 13 Ribu”. Maka ole-ole kali ini adalah tak kurang lucunya bahkan sekaligus ironis. Inilah ceriteranya.

Monumen Flamboyan diresmikan dan prasastinya ditandatangani oleh Bung Karno tahun 1957. Peresmian ini menandai awal Bung Karno mendeklarasi terbentuknya provinsi Kalimantan Tengah dengan ibukota Palangkaraya sekaligus mengangkat Gubernur pertama; Tjilik Riwut. Alumnus ITB pertama ini juga memberi sinyal betapa Palangkaraya dari berbagai aspek sangat-sangat pantas menjadi ibukota Republik Indonesia menggantikan Jakarta. Melihat kota Palangkaraya sekarang adalah mirip Kebayoran Baru, Jakarta akhir tahun 1960an. Kotanya sangat asri dan tertata baik. Jalannya lebar-lebar, trotoar bagi pejalan kali lebar-lebar pula. Drainasenya tak pernah mampat, sehingga Palangkaraya tak pernah banjir karena ulah penduduknya tak pernah buang sampah sembarangan.

Nah yang lucu di balik kehebatan Palangkaraya sebagai kota sangat asri ini adalah Monumen Flamboyan ternyata masih masuk HUTAN PRODUKSI !!! Padahal monumen yang terletak di jalan Ahmad Yani, di dekat jembatan sungai Kahayan ini persis di depan kantor DPRD Kalimantan Tengah.

Mengapa hal itu bisa terjadi di kota Palangkaraya yang sangat asri dan menurut penilaian banyak orang Indonesia dan asing adalah salah satu ibukota provinsi terasri dan “bebas gempa bumi” di Indonesia?

Ternyata dari hasil “investigasi” kunjungan kerja saya ke Kalimantan Tengah kemarin ditemukan fakta betapa Pemda Kalimantan Tengah tak mampu juga mewujudkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP)! Ini satu-satunya provinsi di Indonesia yang belum memiliki RTRWP! Gorontalo sebagai kelompok provinsi termuda saja telah memiliki RTRWP yang telah disahkan oleh DPR beberapa bulan lalu.

Konsekuensi inilah yang menjadi kendala utama akselerasi pembangunan provinsi Kalimantan Tengah terhambat. Yang sederhana semua permohonan legalitas kepemilikan tanah masyarakat agar mendapatkan sertifikat tanah tak berani dilakukan oleh pejabat Badan Pertanahan Nasional setempat karena takut masuk penjara. Untuk skala ekonomi lebih luas dan lebih besar, investor tambang batubara terhenti pada satu tahap proses saja soal “Pinjam Pakai Hutan” padahal kegiatan eksplorasi lengkap telah dilakukan sehingga tahap produksi tertunda terus. Begitu pula sektor agro industri khususnya sawit, semua bibit sawit telah tumbuh di kamp pembibitan tanpa pernah ditanam di areal yang telah mendapat ijin lokasinya! Dan investor pun puyeng tujuh keliling.

Tak aneh bila dalam pembacaan laporan pertanggungjawaban pendapatan daerah sektor pertambangan di kabupaten Katingan misalnya, Kadistamben sempat stress karena “diolok-olok” anggota DPRD Katingan: “Yang benar saja, apakah pantas sektor pertambangan yang keren cuma mampu setor Rp 5 juta setahun ke kas Pemda?”. Kadistamben Katingan hanya berkilah kalau hanya galian C saja yang diijinkan nambang ya itu saja yang halal yang bisa disetorkan.

Kamis, 21 Januari 2010

ITB Berubah: Menghargai Entrepreneur Arifin Panigoro dengan Doktor HC

ITB Berubah: Menghargai Entrepreneur Arifin Panigoro dengan Doktor HC

Oleh Cardiyan HIS


ITB berubah. ITB yang sangat pelit dalam memberikan gelar doktor kehormatan (DR. HC) karena kriterianya sangat ketat dan baru memberikan DR. (HC) kepada 6 (enam) orang saja. Salah satu yang mendapat penghargaan pelit ITB ini adalah Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI sekaligus alumnus ITB angkatan pertama (1920). ITB akan mengubah sejarahnya dengan memberikan DR.(HC) kepada seorang entrepreneur papan atas Indonesia; Ir. Arifin Panigoro. Rencananya Arifin Panigoro, pendiri dan pemilik utama Medco Group akan diganjar DR.(HC) bidang Technopreneur pada Sidang Terbuka ITB, di Aula Barat ITB, Sabtu, 23 Januari 2010.

Penghargaan ITB untuk Arifin Panigoro, seorang Entrepreneur atau lebih spesifik lagi Technopreneur papan atas Indonesia patut disambut baik. Terlebih sebelumnya ITB telah mengundang kontroversi atas rencana pemberian DR. (HC) kepada Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI sekarang, yang berujung dengan “pembatalan” karena SBY sendiri meminta untuk “menunda”-nya karena alasan politis yang bakal merugikan citranya dan citra ITB pula.

Keputusan ITB kali ini sangat tepat karena Arifin Panigoro adalah salah satu alumnus ITB (Teknik Elektro) yang sangat menonjol dalam proses pencapaian kewirausahaannya, sehingga meraih derajat “world class genuine entrepreneur especially in energy industry”. Kakang Pipin (begitu nama akrab dan egaliter yang dipanggil teman-temannya) memulai kewirausahaannya dari perusahaan kecil yang didirikannya sejak lulus dari ITB awal tahun 1970an. Kecerdasannya dalam mengendus peluang dan (terutama) keberaniannya dalam mengambil risiko telah membawanya meniti tangga demi tangga menjadi seorang Wirausaha Sejati kelas dunia.

ITB sebenarnya sangat terlambat dalam memberikan apresiasi DR.(HC) bagi kalangan Wirausaha Sejati. UGM telah lebih dulu memberikan DR.(HC) kepada salah seorang alumnus terkemukanya, Jakob Oetama, Founder and Chairman Kompas Gramedia Group dan bahkan kepada Ir. Ciputra, yang nota bene adalah alumnus Departemen Arsitektur ITB!. Tetapi seperti pepatah masih lebih baik terlambat dari pada tidak berbuat sama sekali, bolehlah kita menghargai keputusan ITB ini.

Dan yang lebih penting keputusan ITB ini tidak berhenti hanya kepada memberikan DR. (HC) kepada seorang Wirausaha Sejati, Arifin Panigoro, tetapi bertindak nyata dalam mengukuhkan kerjasama yang lebih intens dengan kalangan dunia usaha. ITB harus aktif jemput bola, mendatangi industri agar mau memanfaatkan invensi dan inovasi kampus ITB dalam upaya meningkatkan skala usahanya. Banyak kolega penulis yang “curhat” kepada penulis bahwa ITB terlalu sombong untuk mau “door to door” mendatangi perusahaan-perusahaan yang sebenarnya merupakan “potential clients”.

Kita sangat berharap, pemberian DR.(HC) oleh ITB kepada yang berhak dengan latar belakang Technopreneur sekelas Arifin Panigoro akan memberikan inspirasi kepada para alumni ITB, baik yang baru memulai maupun yang tengah didera banyak masalah dalam proses kewirausahaannya untuk tetap tidak menyerah dalam mengarungi samudra ganas dunia usaha. Perjuangan Anda seperti halnya Wirausaha Sejati Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Ciputra, TP Rachmat, Beny Subianto, Iman Taufik, Achmad Kalla dan masih banyak lagi, suatu ketika akan terbukti dapat memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa Indonesia dalam membuka kesempatan kerja yang sangat luas.

Dan last but not least, ITB harus pula mengubah mindset dalam cara pandang menangani mahasiswa ITB secara keseluruhan terlebih lagi kepada para mahasiswa yang memiliki minat tinggi kepada dunia kewirausahaan. ITB hendaknya memandang mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan untuk suatu “human investment” berjangka panjang dan bukan menganggap menangani mahasiswa adalah suatu “cost centre” yang buang uang dan buang waktu. Maka ITB hendaknya memberikan lebih banyak lagi proses latihan kepada para mahasiswanya yang merupakan bibit unggul terbaik di kawasan Asia Pasifik dalam hal Selektifitas Mahasiswa. Cetak lebih banyak lagi “Business Incubator” pada unit-unit kegiatan mahasiswa. Dari sinilah awalnya sebenarnya puluhan tahun kemudian akan dijumpai banyak alumni ITB yang berkelas Arifin Panigoro bahkan akan melampaui skala ekonominya juga proses pencapaiannya yang bermartabat.

ITB akan dicap gagal total kalau tak mampu menaikkan nilai tambah kepada para mahasiswanya yang talentanya sangat hebat (high achiever) kalau hanya berkutat pintar mengawasi bahkan memata-matai kegiatan mahasiswa ITB dan hanya pintar memberikan sanksi akademis. ITB memang harus berubah menjadi lebih sabar dan lebih kreatif menuju “ITB Technopreneur University” berkelas dunia.

Selasa, 29 Desember 2009

Jakarta Pusat adalah Pusat (Cicak) Buaya

Jakarta Pusat adalah Pusat (Cicak) Buaya!

Oleh: Cardiyan HIS

Jakarta sudah tua bangka. Usianya saja sudah mencapai 582 tahun pada 22 Juni 2009 yl. Jakarta pada ribuan tahun yang lampau adalah kawasan yang terbentang pada tanah aluvial yang luas berupa dataran rendah di pantai utara Jawa Barat, yang dibentuk selama 5.000 tahun terakhir masa holosen muda. Sedangkan bagian selatan Jakarta yang lebih tinggi dibentuk pada masa holosen tua. Endapan ini membentuk dataran dengan alur-alur sungai menyerupai kipas.

Dalam perkembangannya kemudian ternyata menarik beberapa kelompok orang Sunda (sampai abad ke 16 orang Sunda masih menjadi mayoritas penduduk Sunda Kelapa) yang termasuk kerajaan Hindu Sunda Pajajaran untuk menghuninya sampai kemudian berkembang menjadi pelabuhan besar yang bernama Sunda Kelapa, yang sudah bercorak internasional sejak dulu.

Sekurang-kurangnya sejak abad ke 5 kapal-kapal dari Tiongkok dan Champa (Vietnam sekarang) dan dari seluruh pelosok Kepulauan Nusantara berlabuh di muara Ciliwung. Sunda Kelapa rupanya menjadi pelabuhan utama Kerajaan Hindu Sunda Pajajaran yang ibukotanya sendiri terletak di Batutulis (Bogor) yang pada jaman itu dapat dicapai dalam dua hari perjalanan menyusuri sungai Ciliwung. Sunda Kelapa kemudian semakin banyak didatangi kapal-kapal dagang asing lainnya dari India dan Kepulauan Ryuku (Jepang).

Namun demikian Jakarta yang sudah menjadi sangat ramai, sampai abad ke 17 ternyata masih dihuni banyak binatang baik yang “ecek-ecek” seperti cicak, ular sampai binatang buas seperti macan (pantesan kesebelasan sepakbola Persija Jakarta dijuluki Macan Kemayoran sampai sekarang meskipun sudah menjadi “Macan Ompong”) dan badak. Bahkan di kali-kali yang membelah daerah kota (Jakarta Pusat sekarang) pun masih banyak berkeliaran buaya ganas.

Konon pada tahun 1692 misalnya, 3 orang laki-laki yang baru tiba dari Eropa hanya sempat menyelamatkan diri dengan memanjat tiang gantungan (tiang gantungan oleh penjajah Belanda memang sengaja diletakkan secara mencolok di dekat sebuah kali yang strategis). Sebab dari kali itu tiba-tiba muncul seekor buaya besar yang lapar mengejar mereka (A. Heuken SJ, 1997). Tambah si pelapor peristiwa ini: “Untuk pertama kalinya di dunia saya baru mendengar, bahwa tiang gantungan menyelamatkan nyawa seseorang bahkan tiga orang sekaligus!”.

(Dipetik dari buku: “Pemetaan di DKI Jakarta, Sejarah dan Prospek Pengembangannya” oleh Cardiyan HIS et al., Penerbit Dinas Pemetaan dan Pengukuran Tanah, DKI Jakarta, 2000.)

Sabtu, 26 Desember 2009

Ketika Larangan Merokok Kandas di Tangan Jenderal Soeharto

Ketika Larangan Merokok Kandas di Tangan Jenderal Soeharto

Oleh Cardiyan HIS


Menteri Kesehatan RI Mayjen Dr. dr. Soewardjono Soerjaningrat SpOG (K) kembali dipercaya oleh Presiden RI Soeharto untuk melanjutkan masa jabatannya untuk periode kedua yakni periode 1983-1988. Kepercayaan ini menunjukkan bahwa Presiden Soeharto sangat mempercayai kemampuan Dr.dr. Soewardjono Soerjaningrat memimpin Departemen Kesehatan RI, sebuah departemen yang terbilang besar dalam jajaran Kabinet Pembangunan.

Barangkali Presiden Soeharto sangat terkesan dengan cara-cara Soewardjono Soerjaningrat yang senantiasa menyampaikan program-program kesehatan dengan secara sadar menyesuaikan diri dengan bahasa yang bisa dipahami oleh rakyat Indonesia, yang sebagian besar pendidikannya masih rendah. “Bukan rakyat yang harus mengerti program-program kesehatan Departemen Kesehatan tetapi kita yang harus meyakinkan rakyat bahwa program kesehatan yang ditawarkan akan mengangkat kepentingan mereka,” kata Soewardjono Soerjaningrat kepada penulis tentang rahasia keberhasilan Program Keluarga Berencana yang sangat dipuji dunia internasional.

Namun ada kejadian yang menarik tentang upaya Soewardjono Soerjaningrat dalam meyakinkan Presiden Soeharto untuk melarang atau setidaknya membatasi kebiasaan merokok pada banyak rakyat Indonesia. Soewardjono Soerjaningrat berupaya meyakinkan Pak Harto betapa berbahayanya merokok bagi kesehatan rakyat Indonesia. Dan ia memohon kepada Pak Harto agar melakukan tindakan melarang merokok kepada rakyat Indonesia yakni dengan mencantumkan bahaya merokok di bungkus rokok seperti di negara-negara maju.

“Pak Harto dengan atraktif merokok cerutu sambil mendengarkan permintaan saya,” kata Soewardjono Soerjaningrat. Sudah bisa diduga, Presiden Soeharto menanggapi dingin usulan Soewardjono Soerjaningrat ini. “Saya tidak mau mematikan kehidupan ribuan petani tembakau,” Soewardjono Soerjaningrat menuturkan alasan Presiden Soeharto tak mau mengeluarkan kebijakan larangan merokok.

Dan Soewardjono Soerjaningrat diperintahkan Presiden Soeharto agar lebih meningkatkan dan memperkaya program kesehatan terutama program Keluarga Berencana dari pada terus mengusulkan perlunya kebijakan pemerintah untuk melarang merokok kepada rakyat Indonesia.

Beruntunglah bahwa penerus Soewardjono Soerjaningrat sebagai Menteri Kesehatan yakni Dr. Adhyatma, MPH dengan tegas menerapkan larangan merokok dengan memulainya di lingkungan k antor Departemen Kesehatan RI, jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Gebrakan ini setidaknya menyadarkan para karyawan dan pimpinan di Departemen Kesehatan RI agar menjadi suri tauladan bagi masyarakat untuk tidak merokok.

Gebrakan Dr. Adhyatma kemudian ditindak-lanjuti dengan gebrakan yang lebih menggigit lagi yakni diberlakukannya kewajiban bagi produsen rokok untuk mencantumkan dalam kemasan produk rokoknya tentang bahaya merokok bagi manusia. Tentang bagaimana pengaruh kebijakan baru ini dalam mengurangi jumlah para perokok di Indonesia memang memerlukan waktu untuk mendata jumlah yang sebenarnya. Tetapi kebijakan ini adalah suatu kebijakan yang sangat berani dalam mencegah sedini mungkin jumlah para calon potensial perokok baru dan menggugah sikap para perokok berat untuk mencoba juga menghargai masyarakat yang tidak merokok.

Apa rahasianya Dr. Adhyatma berhasil melakukan itu? Ya Adhyatma tak minta petunjuk terlebih dulu kepada Jenderal Soeharto berbeda seperti selalu dilakukan oleh Menteri Penerangan Harmoko yang selalu minta petunjuk bos. Ia tembak langsung saja. Dan itulah salah satu jasa Dr. Adhyatma dalam pencantuman bahaya merokok pada bungkus rokok sampai sekarang ini. Malahan sebenarnya Dr. Adhyatma ingin pabrik rokok menampilkan gambar seram-seram orang sakit akibat bahaya merokok seperti di negara-negara maju.


Dipetik dari buku: “Mencatat Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia, Era 1973-2009” oleh Cardiyan HIS et al., Departemen Kesehatan RI, Desember 2009.