Oleh Cardiyan HIS
Perahu perahu la lajue la lajue
Digul le Digul le Digul le darmamu
(“Sungai Digul”)
..........................................................................
Basiri sidabu moyae pata dawana pata nyawae
Basiri sidabu moyae pata dawana pata nyawae
Oh nyawae tawadana sire
Oh nyawae tawadana sire
(“Pemburu Rusa”)
Sebagai insinyur Geodesi dan Geomatika yang sering blusukan ke daerah-daerah terpencil sampai sekarang, saya mendapatkan gairah yang sebenarnya justru manakala bekerja di Irian Barat (sekarang Papua) pada tahun 1984-1985. Nun jauh di sana, di pedalaman kabupaten Merauke, dimana sungai Digul mengalir dengan gagahnya, sehabis bekerja seharian, di base camp saya bersama para surveyor menyanyi “Yosim Pancar” antara lain dua nyanyian di atas, sambil menari dengan sekali-kali diselingi gerakan menari “Dero” yang dinamis.
Kerinduan meninggalkan anak saya yang baru berumur 13 bulan dan istri tercinta jauh di Bandung sana, untuk sementara dapat “dibunuh” dengan menyanyi dan berkomunikasi intens dengan sedikitnya lima ratus orang pekerja lokal pada proyek Departemen Transmigrasi pada Fase 3 A (Survey, Pemetaan dan Perencanaan) pada konsorsium perusahaan kami dengan Fenco Lavalin, Kanada dan tentunya dengan penduduk setempat di mana base camp kami berada, yang sungguh-sungguh sangat bersahabat.
“Dongeng sebelum bobo” di base camp merupakan menu saya kepada NASU (saudara, bahasa Marind) yang berasal dari berbagai suku di Papua seperti Marind, Muyu, Asmat, Mapi, Serui, Waropen, Mandobo, Lani, Auyu. Mereka meminta saya untuk berceritera tentang kemajuan saudara-saudaranya dan kehebatan kota-kota Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota besar lainnya yang baru dikenal namanya saja oleh mereka. Dengan segala ketulusan hati, ada saja di antara mereka menghadiahi saya hampir setiap hari dengan binatang buruan yang sangat lezat seperti Rusa, Kanguru, Ayam Hutan dan bahkan burung Kaswari yang minyak tubuhnya sangat terkenal kasiatnya namun dagingnya sangat liat sehingga harus digodok cukup lama. Dan tentunya mereka juga menghadiahi saya dengan sayur-sayur segar dari hutan perawan Papua.
Rentang waktu yang sangat lama, hampir 28 tahun yang lalu dimana kepulangan saya ke Bandung ditangisi begitu banyak Nasu saya di Papua, kemudian saya dikagetkan dengan berita Organisasi Papua Merdeka mendirikan cabang di Oxford, Inggris, pada 28 April 2013. Apakah sudah demikian parah perkembangan Jakarta, Pemerintah Pusat, dengan rakyat Papua yang saya kenal sangat bersahabat? Menurut saya, peristiwa ini hendaknya jangan ditanggapi terlalu berlebihan karena yang penting bukan merupakan sikap Pemerintah Inggris terhadap Indonesia, sementara Pemerintah Inggris sendiri tidak bisa melarang Walikota Oxford mengizinkan sesuatu organisasi separatis seperti OPM membuka cabang di kotanya. Namun peristiwa ini juga harus disikapi sungguh-sungguh dan hati-hati oleh Kemetrian Luar Negeri RI karena masalah Papua Merdeka ini sudah masuk dalam salah satu agenda Majelis Umum PBB, berbeda dengan masalah Aceh Merdeka sebelumnya yang tidak pernah masuk agenda PBB. Jadi sewaktu-waktu masalah Organisasi Papua Merdeka bisa mencuat ke permukaan menjadi masalah internasional bila langkah-langkah diplomasi Indonesia di PBB dilakukan asal-asalan. Indonesia juga harus ekstra hati-hati agar masalah ini tidak menjadi pintu masuk para imperialis Amerika Serikat, Inggris, Australia untuk mengobok-obok Papua, yang kekayaan sumberdaya alamnya sangat menggiurkan mereka.
Mengapa Papua terus bergejolak? Padahal bukankah mereka telah diistimewakan Jakarta dengan Dana Otonomi Khusus yang jumlahnya triliunan rupiah? Apakah Dana Otonomi Khusus triliunan tersebut telah dikorupsi oleh kalangan elite Papua, baik yang bekerja sebagai birokrat Pemerintah Daerah atau politisi partai, sehingga tidak menyentuh kepada pemecahan masalah mendasar rakyat Papua itu sendiri? Apakah rakyat Papua sudah sangat marah bahkan sang Gubernur Papua, Lukas Enembe, yang baru terpilih dan Bupati Keerom Yusuf Wally, sangat berang sama Freeport McMoran Inc., karena menguras habis sumberdaya alam Papua sedangkan mereka hanya mendapat secuil saja sementara kerusakan luar biasa pada Tanah Ulayat mereka? Kontrak karya Freeport McMoran Inc., dengan Pemerintah Indonesia harus ditinjau kembali dengan alasan prinsipil ada ketidakadilan luar biasa pada saat penyusunan substansi kontrak karya dan kalau perlu pejabat Indonesia yang terlibat dan mengeruk dan menikmati keuntungan pribadi perlu di-KPK-kan.
Analisis saya kesalahan terbesar terletak pada Jakarta, yang tidak sungguh-sungguh untuk mau berdialog dengan masyarakat Papua. Jakarta terlalu menggampangkan persoalan, bahwa dengan menggelontorkan triliuanan rupiah Dana Otonomi Khusus via para birokrat dan politisi Papua, persoalan Papua telah dianggap selesai. Dan kalau ada letupan protes selalu diselesaikan dengan cara gampangan yakni cara-cara represif kepada rakyat Papua yang melanggar HAM. Pendekatan keamanan kalaupun mau dilakukan justru harus lebih diarahkan kepada penjagaan kedaulatan negara di sepanjang perbatasan Indonesia dari ancaman asing. Oleh karena itu rencana pembentukan Divisi Baru Marinir TNI AL di Papua sungguh sangat tepat.
Jakarta hendaknya mau berpikir lebih panjang tentang bagaimana menghindari kebocoran tindak korupsi Dana Otonomi Khusus, sehingga secara mendasar dana tersebut sampai kepada rakyat Papua yang berhak. Menangani masyarakat Papua membutuhkan pengorbanan, kesabaran dan pengabdian luar biasa dengan pendekatan kesetaraansebagai sesama saudara, sebangsa, setanah air Indonesia. Pendekatan kesejahteraan perlu ditekankan, agar dana otonomi khusus itu mencapai sasaran untuk menyejahterakan rakyat Papua; meningkatkan pendidikan masyarakat, menyehatkan rakyat Papua dari berbagai penyakit endemis, memperbaiki infra struktur yang mendorong tumbuhnya ekonomi Papua.
Http: //id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6
Http: www.cardiyanhis.blogspot.com
|
Senin, 06 Mei 2013
Nasu, Apa Kabar Papua Hari Ini?
Minggu, 17 Juni 2012
Regenerasi Pemain Dihadang Godaan Pragmatisme
Oleh Cardiyan HIS
Minggu, 03 Juni 2012
Kulihat ibu pertiwi
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa
Senin, 21 Mei 2012
Barcelona dan Teori Dialektika Hegel
Oleh Cardiyan HIS
Tidak ada yang tidak berubah di Dunia ini. Dan cara berubahnya pun sedemikian rupa. Bahwa dalam setiap timbul suatu pengertian (thesa), selalu akan menimbulkan satu atau beberapa antithesa, yang berlawanan, atau tidak serupa dari pengertian semula. Memang antithesa tersebut tidak usah bertolak belakang penuh dengan thesa semula, tapi minimum ia tidak serupa.
Thesa dan antithesa ini akan bersama-sama menimbulkan suatu pengertian yang lebih tinggi tingkatnya. Yakni pada fase ketiga yang terletak dalam suatu tingkat pengertian yang lebih tinggi dari bidang perdebatan antara thesa dan antithesa; yang biasanya disebut synthesa. Pengertian synthesa yang akhir ini pun di dalam proses perubahan berikutnya, akan menimbulkan hal-hal atau pengertian-pengertian yang berlawanan atau tidak serupa, sebagai koreksi berikut. Mengapa? Karena sudah mendapat masukan Umpan Balik (feedback), yang akan merangsang dan mengarahkan proses perubahan yang merupakan permulaan dan proses Dialektika berikutnya.
Itulah jalan pikiran “Teori Dialektika” Wilhelm Friedrich HEGEL (1770-1831), yang diyakininya bahwa fenomena dialektika adalah prinsip semua pergerakan; semua proses kehidupan dan semua aktivitas dalam kenyataan hidup sehari-hari. Cara berpikir dialektis ini adalah suatu metoda berpikir yang sering juga disebut sebagai bentuk mula atau intinya metoda berpikir ilmiah. Jan Romein, seorang ahli sejarah Belanda menerangkan yang terkait erat dengan fenomena Dialektika Hegel ini “....... bahwa suatu posisi terdepan, pada suatu waktu tertentu dan dalam kondisi yang tertentu pula, akan justru menghambat dan akan berubah menjadi keterbelakangan”. Atau dengan kata lain; yang di depan melambat dan yang di belakang mempercepat.
Dalam kaitan dengan dunia olahraga khususnya sepakbola, Teori Dialektika Hegel ini secara sederhana sangat mudah dipahami. Segera sebuah tim sekelas Barcelona yang belakangan berulang kali menjuarai La Liga Spanyol dan “Copa del Rey” kemudian dituntaskan dengan menjuarai liga “Champions” musim 2005-2006 (sebelumnya di musim 1991-1992 pada era pelatih Johan Cruyff), 2008-2009 dan 2010-2011; banyak klub maupun para pemain sepakbola di dunia akan berusaha meniru atau mempelajari keunggulan teknik Barcelona dalam memainkan tiki-taka; possesion football; bagaimana melakukan kontrol permainan sehingga membuka banyak peluang mencetak gol; bagaimana mencetak goal dari rancangan adanya peluang yang berasal dari tendangan bebas dan tendangan sudut; bagaimana mengeksekusi finishing touch secara mematikan; dan strategi-strategi bertanding lainnya. Sementara sang juara sendiri , Barcelona, dengan pelatih Guardiola, susah untuk meningkatkan kualitas permainannya, karena mereka merasa tidak ada lagi lawan yang lebih pandai yang dapat dipelajari, setidaknya sebagai bahan evaluasi.
Demikian juga dengan keadaan mental bertanding Barcelona, agak terhambat karena posisi juaranya (something to lose) jika dibandingkan dengan mental klub pesaing di belakangnya, yang ingin merebut kejuaraan (nothing to lose). Maka manakala Barcelona selalu memenangi bahkan dengan skor telak dalam duel klasik melawan Real Madrid di stadion Santiago Bernabeu, Madrid; mental Barcelona telah berubah yang cenderung arogan atau setidaknya mudah berpuas diri. Dan hukuman buat Barcelona pun tinggal menunggu waktu dan sangatlah kejam. “The Special One” Jose Mourinho, pelatih Real Madrid yang selalu berpikir keras dan cerdas, misalnya, agaknya sudah memegang semua kunci kelemahan Barcelona. Bertindak sebagai tuan rumah di laga yang semestinya bisa mempertipis jarak di klasemen La Liga Spanyol 2011-2012 menjadi tinggal satu poin saja dengan Real Madrid, Barcelona malah dipermalukan Real Madrid dengan skor 1-2.
Kelemahan Barcelona terutama terletak pada pengorganisasian lini pertahanan termasuk kelemahan penjaga gawang Victor Valdes dalam menghadapi bola-bola crossing sayap lawan; yang belum mampu meraih pencapaian penjaga gawang legendaris Barcelona, Andoni Zulbizarreta. Menghadapi lawan sekelas Chelsea yang bermain negative football dan mengandalkan serangan balik cepat; Barcelona menemukan detik naasnya. Perangkap offside yang sering diterapkan oleh Barcelona, sering berakibat fatal karena keasyikan menyerang termasuk oleh kedua back sayapnya yang memang tipikal menyerang sehingga sering terlambat kembali ke belakang. Karena tipikal kedua bek sayapnya yakni Daniel Alves di kanan dan Eric Abidal di kiri (atau secara bergantian diperankan oleh Maxwell atau Adriano tetapi sering masih labil), maka Abidal terpaksa bertransformasi menjadi bek tengah bersama Charles Puyol dan Gerrard Pique. Begitu pula Zavier Mascherano yang gelandang bertahan multi fungsi sewaktu-waktu ditarik menjadi bek tengah.
Barcelona semestinya mengevaluasi total sejak kekalahan memalukan di kandang sendiri dari Real Madrid. Mereka semestinya melupakan segera peluang di La Liga yang sudah menjadi milik Real Madrid. Mental bertanding Barcelona tak bisa pulih malah sangat menurun tajam, apalagi untuk dapat menutupnya dalam persiapan menghadapi pertandingan home melawan Chelsea di liga Champions. Chelsea yang menjadi “underdog” di pertandingan away tak memiliki beban mental sama sekali. Chelsea dengan modal keunggulan 1-0 di kandang, bermain lepas menghadapi sang juara bertahan Barcelona. Maka hanya dengan menahan Barcelona 2-2, Chelsea yang sangat diremehkan akhirnya menang agregat 3-2 dan melaju ke final melawan Bayern Muenchen, yang di pertandingan lain memenangi adu penalti melawan Real Madrid. Mental bertanding Chelsea yang sedang bagus-bagusnya bahkan akhirnya memenangi liga Champions dengan memenangi adu penalti lawan Bayern Muenchen di kandang Bayern Muenchen. Itulah buah penantian panjang sebuah investasi dan sebuah cita-cita Roman Abramovic sejak tahun 2003, yang pertama kali menghasilkan juara liga Primer Inggris pada 2005 dan kemudian piala Liga Champions 2012.
Barcelona oh Barcelona. Mudah-mudahan Teori Dialektika Hegel menjadi masukan yang sangat berharga bagi Barcelona untuk mengevaluasi diri menghadapi kompetisi ke depan dan bangkit dari kekalahan! Regenerasi adalah salah satu jawaban pasti kalau mau mengubah keadaan. Regenerasi Barcelona yang berasal dari akademi Barcelona, sangat terlambat terutama untuk pemain belakang yang hanya menghasilkan Andre Pontas pada tahun 2009 dengan prestasi biasa-biasa saja. Regenerasi lainnya di tahun yang sama untuk posisi gelandang menghasilkan Thiago Alcantara; sebelumnya pada tahun 2008 adalah Pedro Rodriguez dan Sergio Busquets. Dan regenerasi paling anyar ada pada diri penyerang Christian Tello dan Isaac Cuenca. Barcelona hendaknya juga jangan lengah menjaga pemain binaan di akademi Barcelona, seperti kasus Cesc Fabregas yang dicomot Arsenal dan Gerrard Tique oleh Manchester United.
Kamis, 05 April 2012
Hentikan Penzaliman Terhadap Masyarakat Sepakbola Indonesia!



Kubur Kepentingan Bisnis Pribadi
HENTIKAN PENZALIMAN TERHADAP MASYARAKAT SEPAKBOLA INDONESIA!
Oleh Cardiyan HIS
Revolusi sepakbola Indonesia yang semula diharapkan segera terwujud pasca tumbangnya rezim Nurdi Halid terhambat karena masih ada dua “kompetisi” sepakbola IPL dan ISL. Secara formal IPL adalah kompetisi legal versi FIFA terlebih rakyat Indonesia diuntungkan karena kran APBD untuk kepentingan klub-klub sepakbola resmi ditutup. Tetapi turnamen ISL ternyata banyak dihuni klub yang berprestasi, yang entah bagaimana terus digiring untuk tetap dipertahankan, dibiayai dan dicitrakan dengan harga mati demi kepentingan bisnis pihak tertentu. Damai, damai dan damailah!
Untung FIFA masih melihat masyarakat sepakbola Indonesia sebagai potensi pasar raksasa di Asia. Kalau tak melihat aspek ini, bagi FIFA sebenarnya enteng saja untuk menjatuhkan sanksi bagi PSSI, yang ranking FIFAnya terus melorot. Oleh karena itu FIFA masih memberikan tenggat waktu bagi PSSI untuk menyatukan dan atau mengontrol tidak adanya dualisme kompetisi di Indonesia sampai tanggal 15 Juni 2012. Tanpa mampu menyelesaikan masalah itu, PSSI dipastikan akan dikenai sanksi FIFA.
Kita sebagai bagian dari masyarakat sepakbola baik sebagai penonton, pemain, wasit, pembina, pemodal, abdi negara, atau pun pengamat/penulis/wartawan media cetak maupun elektronik dan sebagainya tentu tak menginginkan Indonesia mendapatkan sanksi FIFA. Mereka hanya menginginkan Indonesia memiliki kesebelasan nasional Indonesia yang kuat dan berprestasi bagus seperti kejayaan kesebelasan Indonesia tahun 1950an (era Ramang-Aang Witarsa cs), 1960an (era Soetjipto Soentoro-Anwar Udjang cs) dan 1970an (era Iswadi Idris-Djunaedi Abdilah cs) yang merajai peta sepakbola Asia, jauh di atas prestasi kesebelasan Jepang, Korea Selatan dan jazirah Arab. Tak mengherankan bila kesebelasan Indonesia disebut sebagai “Brazil Asia” seperti sering diucapkan oleh para dedengkot FIFA dari berbagai era baik jauh sebelum era Joao Havelange yang sangat panjang itu sampai era Sepp Blatter sekarang ini.
Dualisme Kompetisi
Kesebelasan Indonesia yang kuat tidak mungkin terbentuk dari kompetisi sepakbola yang amburadul. Oleh karena itu akar pemecahan kisruh sepakbola Indonesia harus datang dari konsep pemikiran yang jernih, jujur, adil, penuh idealisme dan tak memiliki kepentingan apa pun selain ingin mewujudkan kompetisi sepakbola Indonesia yang kredibel dan berkualitas tinggi. Jadi bila kita menemukan dimana akar pemecahan masalah sebenarnya dan sejujurnya; maka akan membawa kepada kita bagaimana tindakan yang tepat, pas dan akurat harus dilakukan.
Sebelum rezim Nurdin Halid tumbang, konglomerat pemilik Medco Group, Arifin Panigoro dan keluarga, menurut sumber yang layak dipercaya sudah berinvestasi sedikitnya USD 35 juta untuk membuat “breakaway league” bernama Indonesian Premier League (IPL). Sementara Indonesian Super League (ISL) sudah dan sedang berkibar di rezim Nurdin Halid, tetapi dengan sangat menggantungkan diri masalah pembiyaan kompetisi ISL dan operasional PSSI ke Bakrie Group (Aburizal Bakrie dan keluarga) disamping menggantungkan kepada APBD untuk membiayai klub peserta ISL yang jelas-jelas sangat menggerogoti dan merugikan keuangan negara.
Nah ketika rezim Nurdin Halid tumbang, PSSI rupanya terlalu semangat berevolusi. Padahal membangun Roma tidak mungkin dalam satu hari, kata sebuah adagium. Semua produk rezim Nurdin Halid digusur meskipun sebenarnya ada juga yang tersisa sedikit yang cukup baik yang hanya memerlukan sedikit modifikasi saja untuk terus dilanjutkan. Kompetisi ISL (tanpa membubarkannya) misalnya sebenarnya bisa digabungkan dengan kompetisi IPL dengan mengubah menjadi nama baru sama sekali. PSSI misalnya bisa saja mengintegrasikan semua kepemilikan saham para stake holder kedua kubu besar ke dalam satu perusahaan baru, sehingga kapitalisasinya pun menjadi sangat besar. Disini rupanya yang sulit dilakukan karena masing-masing “God Father” dari Medco Group dan Bakrie Group dari awal sudah sulit untuk dirujukkan karena membawa “cacat bawaan konflik” kasus lumpur Lapindo pada PT. Lapindo Brantas pada kedua grup perusahaan tersebut.
Yang juga dibatalkan oleh PSSI adalah masalah perjanjian hak siar eksklusif kompetisi Djarum ISL yang sebelumnya dipegang oleh ANTEVE milik Bakrie Group melalui anak perusahaan PT. Cakrawala Andalan Televisi, yang menjadi kontributor terbesar PT. Visi Media Asia Tbk (VIVA, induk PT. Cakrawala Andalan Televisi, yang tentunya masih masuk Bakrie Group). Pembatalan hak siar eksklusif Djarum ISL kepada ANTEVE oleh PSSI, bila dicermati lebih mendalam ternyata bisa berakibat hukum jauh bagi ANTEVE. Karena VIVA dalam IPO (Initial Public Offering) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) menjanjikan perolehan terbesar pendapatannya berasal dari ANTEVE yang memegang hak siar eksklusif kompetisi Djarum ISL selama 10 (sepuluh) tahun. Dengan fakta ini ribuan pemegang saham VIVA bisa menuntut ke pihak VIVA atas fakta sangat akurat ini karena bisa dianggap sebagai suatu kebohongan publik dengan menyatakan sesuatu yang bukan miliknya. Setidaknya otoritas Bursa Efek Jakarta (BEJ) bisa men-suspend saham VIVA bahkan lebih jauh menutup keberadaanVIVA di BEJ.
Nah melihat situasi inilah, mudah dibaui dan ditengarai bila pihak VIVA berusaha mati-matian untuk mempertahankan ISL sebagai kompetisi yang legal dan bahkan lebih jauh berharap banyak FIFA mengakui “PSSI Tandingan” yang diprakarsai oleh KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia) dan tidak mengakui PSSI kepengurusan Djohar Arifin dan kawan-kawan. Sebab dengan demikian legitimasi ISL sebagai kompetisi yang diakui FIFA otomatis akan menyelamatkan VIVA dari banyak gugatan publik dan terhindarkan dari kerugian bisnis yang lebih besar. Mudah-mudahan motif dan gerakan seperti itu tidak benar dan ini harus dibuktikan dengan tindakan nyata dari kubu ISL untuk melakukan rekonsialisasi sebagai solusi terbaik.
Sementara PSSI begitu kepengurusannya terbentuk, yang merasa punya wewenang sebagai satu-satunya organisasi sepakbola yang diakui FIFA, dengan serta merta hanya mengakui kompetisi legal adalah kompetisi IPL, memberikan hak siar eksklusif IPL kepada MNC Group melalui statsiun televisi RCTI dan Global TV.
Dengan melihat pemetaan permasalahan yang terang benderang tadi, masyarakat sepakbola Indonesia sangat berhak memaksa para kepentingan bisnis sesaat untuk menghentikan segera segala permainan mereka yang lebih mengedepankan kepentingan bisnis mereka sendiri yang selama ini sangat merugikan sepakbola Indonesia. Damai, damailah. Semua bisa duduk satu meja dengan mengabaikan ego masing-masing untuk mencari solusi terbaik agar kita lolos dari tenggat waktu yang telah ditetapkan oleh FIFA tanggal 15 Juni 2012.
Kita hargai berbagai upaya rekonsialisasi oleh PSSI untuk mengundang klub-klub anggota ISL sampai tiga kali sampai 5 April 2012. Namun dari 18 klub anggota ISL hanya klub terbesar Persib Bandung yang datang memenuhi undangan. Kita masih berharap agar upaya rekonsialisasi ini tetap dilakukan oleh PSSI dengan penuh kesabaran sampai sebelum deadline FIFA datang. Karena kalau pun FIFA tak memberikan sanksi kepada Indonesia karena misalnya hanya mengakui PSSI kepengurusan Djohar Arifin, tetap saja terutama para pemain dan pendukung klub ISL akan sangat dirugikan. Mengapa? Karena klub-klub kesayangan mereka akan langsung didegradasi ke Divisi Utama oleh PSSI meneruskan keputusan FIFA. Bahkan bukan tidak mungkin banyak klub ISL gulung tikar.
Sayang bukan. Padahal sebagai Bangsa Indonesia kita masih memiliki ruang untuk menyelesaikan masalah. Karena berbagai suku bangsa Indonesia memiliki begitu banyak kearifan lokal seperti kearifan bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah. Maka sebenarnya, semua hal bisa diselesaikan secara musyawarah, secara damai, dari hati ke hati yang dalam, yang tulus dengan mengubur segala kedengkian dan kebencian. Terlebih mereka; kedua bos besar yang terlibat adalah berasal dari almamater yang sama Institut Teknologi Bandung (ITB), bahkan pada program studi yang sama pula yakni Teknik Elektro ITB. Sebagai penggila bola yang alumnus ITB juga, saya menghimbau kedua senior saya ini untuk menguatkan tekad yang kuat pada masing-masing pihak untuk sama-sama menyelamatkan sepakbola Indonesia ketimbang ambisi pribadi.
Jumat, 06 Januari 2012
Supaya “Pintar” Anjing pun Rajin ke Sekolah


Oleh Cardiyan HIS
“Takut Masuk Neraka Orang Hutan pun Terpaksa Berpuasa dan Kelelawar Menjerit-jerit Kesakitan”. Itu judul artikel “Ole-ole Kalimantan” dari penulis 2 tahun lalu. Ole-ole Kalimantan kali ini soal nasib binatang juga. Tapi yang ini soal Anjing bernama Blacky, yang rajin pergi ke sekolah, ke ruang kelas 3, Sekolah Dasar Negeri 8 Tewah, kecamatan Tewah, kabupaten Gunung Mas, provinsi Kalimantan Tengah. Apakah si Blacky ingin belajar Matematika agar “pintar” seperti kepintaran si Blacky berburu Kijang dan Babi Hutan? Entahlah.
Pada mulanya si Blacky sebagai bukti kesetiaan terhadap bos tersayang, ingin mengantar bosnya, Yudisia, yang masih siswa kelas 2 ke sekolah. Waktu masih kelas 1 Yudisia masih diantar ibunya dan Si Blacky juga masih kecil “belum percaya diri” untuk antar bosnya. Dan setelah merasa “besar dan PD” si Blacky berinisiatip mengantar bosnya, setelah mandi pagi disabunin bosnya dan sarapan pagi.
Tetapi ternyata si Blacky keblablasan ingin sekaligus masuk ke ruang kelas 2. Meskipun dipaksa-paksa diusir dari ruang kelas, si Blacky tetap bersikukuh ingin masuk kelas; ingin ikut “belajar” bersama-sama bosnya; Yudisia, murid kelas 2 di sekolah itu. Meski sudah dirayu oleh bos Yudisia agar menunggu di luar kelas saja, Si Blacky terus memaksa masuk dengan perangai “bersahabat”. Dan hebatnya setelah gagal diusir, si Blacky malah langsung minta tempat “meja belajar” di atas meja baris belakang; persis di belakang bos, Yudisia.
Sang ibu guru Ny. Suryaningsih SPd, (isteri Dodi Jamal, manajer perusahaan batubara SWI Group) pada mulanya ketakutan juga dan merasa tak pantas anjing ikut-ikutan belajar bersama murid-muridnya. Namun akhirnya bu guru “mengalah” setelah Yudisia muridnya “menjamin” si Blacky tak akan mengganggu suasana belajar siswa. Dan memang betul, selama bu guru mengajar dengan “disiplin” si Blacky mendengarkan segala penjelasan. Entah mengerti atau tidak penjelasan bu guru, yang jelas si Blacky tak bikin gaduh dengan menggonggong layaknya seekor anjing, misalnya. Ini malah berbeda dengan para siswa yang kadang bikin gaduh kalau pelajaran sudah dirasakan “bete”.
Dan manakala bel berbunyi tanda istirahat, si Blacky pun meloncat dari “meja belajar” dan berjalan mengikuti bos Yudisia dan siswa-siswa lainnya untuk makan-minum siang. Kadangkala kalau istirahat panjang, para siswa main sepakbola. Si Blacky pun ikut-ikutan main sepakbola; ke mana Yudisia lari mengejar bola si Blacky selalu mengikuti di belakangnya. Sekali Yudisia bertindak menjadi penjaga gawang, si Blacky pun ikut menjadi “penjaga gawang kedua” dengan berdiri gagah di belakang Yudisia.
Setelah bel berbunyi tanda siswa harus masuk kelas kembali, si Blacky dengan “disiplin” selalu masuk menguntit bos Yudisia. Dan setelah bosnya duduk, si Blacky langsung meloncat ke “meja belajar”. Suasana belajar pun berlangsung dengan tenang dengan si Blacky tetap setia duduk di “meja belajar”. Begitulah suasana di salah satu ruang kelas SDN 8 Tewah dengan kehadiran seekor anjing “pintar” Blacky yang telah “naik kelas” ke kelas 3, berlangsung dengan tenang hampir dua tahun lamanya.
www.cardiyanhis.blogspot.com
http: //id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6
Sabtu, 24 Desember 2011
Ikatan Alumni ITB Kapan Mau Maju?
Ikatan Alumni ITB adalah paguyuban yang lebih memerlukan para alumni yang menjadi pengurusnya bekerja tanpa pamrih, tanpa niat ngiler sana-sini. Impian ke depan Ketua Umum IA ITB datang dari kalangan muda yang independen (wirausaha sejati) yang dipilih dengan mekanisme perpaduan pemilihan langsung agar bersilaturahmi sesama alumni dan voting melalui dunia maya agar menjangkau alumni ITB sedunia.
Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni ITB memang paling heboh di Indonesia bahkan di dunia. Pemungutan suaranya yang dipusatkan di Kampus ITB, telah menyiksa para pengguna jalan di Bandung karena kendaraan mewah para alumni ITB tumpah blek menyerbu Bandung. Hotel-hotel sudah fully booked beberapa hari menjelang acara karena dipesan habis oleh masing-masing “Tim Sukses” para kandidat. Tak mengherankan alumni UGM, UI dan Unpad yang alumninya jauh lebih banyak dari alumni ITB pun sering berdecak kagum bahkan mereka beranggapan alumni ITB sangat kompak. Alumni ITB kompak? Ah tunggu dulu, itu soal lain lagi. Kadangkala saya jadi ingin ketawa sendiri.
Dan ternyata soal kehebohan IA ITB memang “numero uno”, nomor satu. Coba pasca Ketua Umum IA ITB terpilih pun masih menyimpan kehebohan. Karena Ketua Umum IA ITB terpilih SUM (S. Widayatin) yang mengumpul suara 38,93%, diatas H. Dardak (26,16%), Amir Sambodo (22,69%), Nining I. Soesilo (6,18%) dan Dasep A. (6,03%) ternyata belum mampu menyusun kabinetnya karena dia harus segera terbang ke Brasil urusan dinas. Maklumlah dia masih terbilang orang makan gaji, masih punya bos besar, meski pun jabatannya keren Deputi Menteri di sebuah kementrian sangat sexy; Kementrian BUMN. SUM hanya berhasil menetapkan Betti Alisjahbana sebagai calon Sekretaris Jenderal. Dan ini yang meninggalkan kehebohan khususnya bagi yang berkepentingan berebut untuk masuk gerbong kabinet SUM. Karena para “vested interest” menganggap Betti tak berkeringat kok diangkat jadi Sekjen. Belum tuduhan Betti “neolib”. Betti hasil “intervensi” Hatta Rajasa. Tak mengherankan SUM terpaksa membentuk Tim 9 tanpa Betti di dalamnya, yang ditengarai untuk meredam gejolak di kalangan “Tim Sukses”-nya.
Jangan Pilih “Tim Sukses”
Ketika menjelang H-7, setelah dengar pendapat dengan para alumni muda ITB di kawasan Bakrie Club, Kuningan, Jakarta, saya mengingatkan Laksamana Sukardi (Menteri BUMN ketika itu) kalau terpilih kelak sebagai Ketua Umum IA ITB untuk tidak mengangkat anggota “Tim Sukses” dalam kepengurusannya. Karena sebagian besar anggota “Tim Sukses” seringkali punya motif “minta balas budi”. Saya ingatkan Laksamana Sukardi agar mengaca kepada pengalaman Cacuk Sudariyanto, seorang alumnus ITB yang hebat karena jagoan manajemen yang penuh terobosan. Namun sebagai Ketua Umum IA ITB ternyata Cacuk tersandera dengan “harus balas budi” kepada mayoritas “Tim Sukses”-nya, tetapi sepanjang kepengurusannya gagal total menjalankan program yang sebelumnya sukses terutama yang telah diperankan oleh kepengurusan Sanyoto Sastrowardoyo.
Laksamana Sukardi pun akhirnya bernasib sama dengan pendahulunya, hanya sebagian kecil programnya jalan. Laksamana tebar pesona dengan mengangkat banyak teman dari “Tim Sukses” menjadi pejabat di berbagai perusahaan BUMN. Bahkan sobat saya yang mantan menteri dan petinggi kampus ITB menyebut banyak janji Laksamana Sukardi untuk almamater ITB sendiri tak terbukti satu pun. Sobat saya ketika sesama menjadi Senator Mahasiswa ITB perioda 1977-1978, Hatta Rajasa, yang kemudian terpilih juga menjadi Ketua Umum IA ITB, saya kritik habis ketika nyaris “100 Hari Pertama” kepengurusannya dia belum juga berbuat apa-apa terhadap alumni ITB.
Menjadi Ketua Umum IA ITB dianggap banyak alumni ITB dan non-alumni ITB sebagai jabatan prestisius. Sanyoto Sastrowardoyo, Giri Suseno dan Cacuk Sudariyanto adalah Ketua Umum IA-ITB sebelum menjadi Menteri Kabinet di rejim Suharto, BJ Habibie dan Gus Dur. Tentu saja Laksamana Sukardi dan Hatta Rajasa menjadi kekecualian karena sudah menjadi Menteri ketika terpilih sebagai Ketua Umum IA ITB, namun tak dapat dipungkiri mereka berdua sangat bangga menjadi Ketua Umum IA ITB. Entah apa alasannya; padahal IA ITB hanyalah sebuah paguyuban seperti halnya paguyuban lawak “Srimulat” dulu atau sekarang paguyuban lawak “Opera van Java” si Sule.
Sebagai alumnus ITB “senior” (maklum masuk ITB 1973) yang tak akan pernah bosan menulis untuk kemajuan civitas academica ITB, saya hanya ingin mengingatkan Ketua Umum IA ITB S. Widayatin agar “tidak tertipu” dalam memilih anggota kabinetnya. Pilihlah alumni ITB yang mau bekerja keras tanpa dibayar (kecuali para staf dan karyawan Eksekutif IA ITB), mau bekerja tanpa pamrih hanya untuk kemajuan IA ITB; mau bekerja tanpa niat ngiler sana-sini cari proyek BUMN (apalagi Anda bos di Kementrian BUMN). Konsekuensinya Anda harus berani untuk tidak memilih anggota “Tim Sukses” Anda yang motifnya tidak tulus. Jangan terjebak jargon “yang berkeringat” dan “tak berkeringat”. Yang benar adalah siapa yang mau bekerja tulus untuk Ikatan Alumni ITB. Sebagai mantan aktifis kampus, saya percaya Anda sudah pinter “membaui” siapa-siapa saja alumni ITB yang “emas dan loyang”.
Untuk program ke depan saya ingin mengingatkan agar aspirasi banyak alumni ITB yang sudah menyebar ke berbagai belahan dunia dapat terakomodasikan, maka dalam mekanisme pemilihan Ketua Umum IA ITB ke depan harus dipikirkan adanya perubahan dalam AD/ART. Perpaduan antara pemungutan suara langsung di kampus ITB dan cabang-cabang IA ITB di berbagai tempat baik di dalam maupun di luar negeri (karena ini akan sangat baik untuk silaturahmi sesama alumni ITB); tetapi juga melalui pemungutan suara melalui dunia maya agar suara yang diberikan kepada calon Ketua Umum ITB akan menjangkau alumni ITB di berbagai belahan dunia. Sehingga jumlahnya akan jauh melebihi jumlah sekarang ini bahkan bisa mendekati jumlah alumni ITB yang masih hidup dari jumlah alumni seluruhnya sejak ITB (TH Bandung) tahun 1920 yang telah mencapai 70.000an. Selebihnya program Anda yang digadang-gadang selama kampanye pemilihan, harus konsekuen dan konsisten dijalankan.
Impian saya ke depan, Ketua Umum IA ITB adalah datang dari kalangan wirausaha muda sejati (genuine entrepreneur). Kemarin sudah ada Dasep A, pemenang BJ Habibie Award sebagai seorang wirausaha sejati yang sukses, yang independen, yang sudah berani maju ke depan. Namun karena Dasep tak mampu menggalang para alumni ITB yang banyak terpusat di lingkungan pemerintah (Kementrian-kementrian terutama Kementrian BUMN), maka nasibnya menjadi “juru kunci” saja. Inilah sebenarnya dimensi kekeringan atau kemunduran alumni ITB yang tetap tak mandiri dalam memilih Ketua Umum IA ITB. Mitos Ketua Umum IA ITB “harus” dari kalangan pejabat tinggi pemerintah tetap tak tergoyahkan. Dan ini dimanfaatkan betul oleh “Tim Sukses” di lapangan dalam “menggiring” para alumni ITB yang pegawai negeri di berbagai Kementrian RI dan alumni ITB yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang bosnya menjadi “kroni” pejabat tinggi pemerintah.
Selamat bekerja dengan tulus Pengurus IA ITB yang baru!!!
www.cardiyanhis.blogspot.com
Http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6
Minggu, 10 Juli 2011
Selamat Datang Profesor. Bedahlah Penyakit PSSI

Oleh Cardiyan HIS
Penantian lama mereformasi PSSI setelah tumbangnya rezim Nurdin Halid, untuk sementara berakhir sudah dengan terpilihnya Ketua Umum PSSI Prof.DR. Djohar Arifin Husein. Mantan pemain seangkatan breaker Nobon (PSMS/timnas) dan stopper Risnandar (Persib/timnas), wasit FIFA dan pejabat tinggi serta profesor ini diharapkan dapat melaksanakan semangat reformasi di tubuh PSSI.
Profesor Djohar sangat paham situasi sepakbola Indonesia. Maka waktu yang sangat berharga yang hilang percuma selama kepengurusan rezim Nurdin Halid harus segera diganti dengan kinerja yang serba cepat tetapi sistematis. Perseneling sudah harus siap digerakkan dari gigi tiga dan gas siap diinjak dalam-dalam untuk mengejar program mendesak terutama hajatan timnas Indonesia di Pra Piala Dunia melawan timnas Turkmenistan (home and away) dan sepakbola SEA Games 2011 di Jakarta-Palembang.
Tetapi seperti sama-sama maklum program PSSI begitu menumpuk untuk secara paralel harus dijalankan segera pula. Perhatian kepada Kompetisi Usia Muda harus menjadi prioritas. Karena dari sinilah suplai bahan baku terbaik bagi tim nasional secara sistematis dan berkesinambungan akan terjadi. Sejarah membuktikan, mengapa prestasi timnas Indonesia bisa berlangsung bagus dan lama sejak 1950-an sampai 1970-an karena ada kesinambungan antara pembinaan timnas Indonesia Yunior dengan timnas Indonesia Senior ketika itu. Peranan sponsor yang sebelumnya diperankan dengan konsisten oleh Medco Group tentu akan semakin berlipat lagi karena perusahaan milik Arifin Panigoro ini, suka atau tidak suka melalui Kelompok 78 sangat berperan besar bagi terpilihnya Profesor Djohar Arifin Husein, sebagai Ketua Umum PSSI dan Farid Rahman, sebagai Wakil Ketua Umum PSSI serta dominasi anggota Kelompok 78 di jajaran Komite Eksekutif PSSI. Tentu sponsor yang lain juga akan menyusul seperti dari Salim Group, Coca Cola dsb.
Dualisme kompetisi Indonesia Super League (ISL) dan Liga Primer Indonesia (LPI) juga optimis akan segera berakhir antara lain dengan terobosan ide menggabungkan kepemilikan masing-masing klub melalui merger. Setidaknya pada klub-klub sekota atau sepropinsi. Ini jawaban sangat logis atas fakta bahwa klub sepakbola professional sudah sepatutnya dilarang memanfaatkan dana bersumber APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) maupun APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional). Karena ini akan menjadi bibit korupsi sistemik dan penyalahgunaan kekuasaan para politikus dalam melanggengkan kekuasaannya. Dana yang dimiliki Rakyat Indonesia ini sangat adil bila dialihkan untuk pembangunan infrastruktur olahraga (tidak hanya sepakbola) dan juga pembinaan sumberdaya manusia dalam membina para calon olahragawan berprestasi melalui pencarian bibit unggul, program pelatihan calon pelatih dan wasit di berbagai kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Pembenahan kompetisi dengan peleburan dua sistem kompetisi menjadi satu kompetisi PSSI diharapkan akan mengerucut kepada meningkatnya prestasi timnas PSSI. Namun ini tidak mudah karena menyangkut banyak hal terutama profesionalisme pemain; wasit; pengurus klub; pengurus PSSI, Komite Eksekutif dan Komisi Disiplin serta Komisi Banding PSSI; aturan pembatasan jumlah pemain professional asing; peranan media cetak dan elektronik dan juga tentunya sikap dewasa penonton. Bila setiap stake holder menyadari kedudukan dan tanggungjawabnya, masalah sponsor kompetisi rasanya tidak akan terlalu sulit lagi. Mengapa? Karena lepas dari pencapaian mutu kompetisi PSSI yang belum bisa dibanggakan, tetapi sepakbola Indonesia memiliki keunggulan luar biasa dalam hal potensi nyata jumlah penonton yang sangat luar biasa serta peliputan media yang luar biasa pula. Hanya dengan kejelian dan profesionalisme pada pengurus PSSI, sepakbola Indonesia akan menjelma menjadi industri sepakbola yang luar biasa di level dunia.
Kita berharap, dengan adanya “Pelajaran Sepakbola Nurdin Halid”, jajaran pengurus PSSI harus sejak awal kepengurusan di PSSI menjadikan organisasi PSSI sebagai “ladang beramal” dan bukan malah sebaliknya sebagai “ladang mencari duit”. Kita akan sangat mengapresiasi bila niat baik mereka diwujudkan dengan karya nyata terwujudnya prestasi tim nasional Indonesia di jajaran elite dunua. Tentu pencapaiannya secara bertahap dan sistematis. Sebab bukankah membangun Roma tidak bisa diwujudkan dalam satu hari?
Selamat bekerja Profesor Djohar Arifin Husein. Sampai ketemu di stadion Senayan manakala timnas Indonesia menjuarai sepakbola SEA Games 2011 dan timnas senior Indonesia lolos Pra Piala Dunia.
www.cardiyanhis.blogspot.com
Sabtu, 04 Juni 2011
Fenomena Menarik: SMA “Kampung” Taklukkan SMA “Elite Kota”
Oleh Cardiyan HIS
SMA-SMA dari daerah membuat kejutan pada Ujian Nasional SMA 2011. Selain menduduki SMA dengan nilai rata-rata murni terbaik nasional juga menempatkan siswanya mendominasi prestasi individu nasional. Akankah kejutan ini akan berlanjut pada hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2011? Sangat layak untuk ditunggu kalau kita peduli dengan perkembanan kemajuan pendidikan.
Bayangkan! Berturut-turut SMA Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh; SMA Negeri 4 Denpasar, Bali dan SMA Negeri 1 Kota Tasikmalaya, Jawa Barat memperoleh nilai rata-rata murni terbaik nasional!. Dari 10 SMA Negeri terbaik nasional tak menyisakan satu pun untuk SMA Negeri “Elite Kota” seperti SMA Negeri 8 Jakarta; SMA Negeri 3 Bandung atau SMA Negeri 3 Malang yang selama ini dikenal sebagai penghasil siswa terbanyak yang diterima di PTN ternama.
Tak berhenti disini; SMA Negeri 4 Denpasar, Bali juga menempatkan siswanya mendominasi prestasi individu yakni berturut-turut nomor 1 sampai nomor 4 terbaik nasional. SMA Negeri 2 Tasikmalaya, Jawa Barat, berturut-turut menduduki nomor 5 sampai nomor 8 terbaik nasional dan dikunci oleh SMA Negeri 2 Lamongan, Jawa Timur dan SMA Negeri 1, Bekasi, Jawa Barat pada nomor 9 dan 10 terbaik nasional!!!
Bagi para alumnus SMA Negeri “kampung” seperti penulis (alumnus SMA Negeri 2 Tasikmalaya, Jawa Barat), fenomena SMA “Kampung” Taklukkan SMA “Elite Kota” ini bukan hanya menjadi kebanggaan tersendiri. Tetapi menjadi menarik bahwa ada kemajuan signifikan tentang kualitas SMA-SMA Negeri di daerah sekarang ini. Terus terang sudah menjadi semacam mitos bahwa hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah jauh lebih bergengsi ketimbang hasil Ujian Nasional SMA. Hal ini bisa dimaklumi kalau melihat kepada fakta begitu banyak kejadian kebocoran soal pada pelaksanaan Ujian Nasional SMA, sementara SNMPTN relatif lebih terkontrol meskipun ada sedikit tercoreng dengan kasus joki.
Bahwa selama ini SNMPTN, yang dimulai pada tahun 1989 dengan nama Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) kemudian berganti-ganti nama -----antara lain terakhir SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) sejak 2002, sebelum berganti nama SNMPTN sejak tahun 2008 hingga sekarang ini----- adalah seleksi yang sangat berkualitas, kredibel, dan efisien. Secara akademis hasilnya berkualitas tinggi karena calon mahasiswa yang diterima adalah mereka yang berhak atas kecerdasannya dan tidak ditentukan atau tidak diembel-embeli lagi oleh tebal tidaknya kantung orangtua calon mahasiswa. Kredibel karena penyelenggaraannya dilakukan sangat jujur, dimana secara nasional dari Aceh sampai Papua tidak pernah ada kasus kebocoran soal ujian; dan bahwa ada kasus joki pun telah berhasil ditindak secara pidana; sehingga tidak mempengaruhi hasil secara keseluruhan. Efisien dan hemat secara ekonomi karena setiap calon tidak perlu mendatangi masing-masing PTN yang menjadi pilihannya tetapi hanya cukup datang dan mendaptar kepada Panitia Lokal SNMPTN di PTN terdekat dengan domisili sang calon mahasiswa.
Disertasi DR. Toemin A. Maksoem yang berjudul “Hasil UMPTN Lebih Tajam dari pada Nilai Ebtanas Murni untuk Digunakan sebagai Kriteria Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri” yang dipertahankan di IPB, Bogor pada tahun 1996, telah membuktikan tentang kredibilitas seleksi UMPTN ini. Disertasi ini kemudian dibukukan dengan judul “Mana Yang lebih Dapat Diandalkan Ebtanas atau UMPTN” (Penerbit UI Press 1997) semakin membuka mata publik, bahwa Nilai Ebtanas Murni tidak dapat menggantikan UMPTN sebagai alat seleksi untuk memilih calon mahasiswa baru PTN.
Tak mengherankan bila komunitas pendidikan tinggi di dunia internasional pun sangat mengapresiasi kredibilitas penyelenggaraan UMPTN di Indonesia. Ini terbukti dalam kriteria Selektivitas Mahasiswa dalam ranking perguruan tinggi di Asia Pasifik versi majalah “AsiaWeek” (Hong Kong) , PTN-PTN Indonesia menduduki skor tertinggi yakni ITB nomor 1, UI nomor 5, UGM nomor 6, Undip nomor 19 dan Unair nomor 37 (“Time of Ferment”, Cover Story Education, Asia Week, 30 Juni 2000).
Bertahap Harus Dikaitkan UN SMA dengan SNMPTN
Oleh karena adanya fenomena kemajuan signifikan SMA-SMA Negeri di daearah pada hasil akhir Ujian Nasional SMA 2011 dan kemungkinan adanya “stagnansi” pada SMA-SMA Negeri mapan yang selama ini lebih dikenal dalam kaitan dengan SNMPTN. Maka menjadi sangat menarik menunggu hasil SNMPTN 2011 yang baru saja dilaksanakan pada 31 Mei dan 1 Juni 2011. Bila ada korelasi kuat antara prestasi SMA Negeri dan prestasi individu siswanya yang berprestasi secara nasional pada Ujian Nasional SMA 2011 dengan hasil SNMPTN 2011, maka kita boleh menaruh harapan bahwa ada kemajuan dalam proses pendidikan di SMA-SMA Negeri di daerah.
Dan selanjutnya perlu diteliti secara lebih mendalam bahwa boleh jadi ada keterkaitan perkembangan prestasi SMA-SMA Negeri dan atau swasta di daerah atau secara nasional dengan kebijakan untuk memberikan “kepercayaan” nilai Ujian Nasional SMA mulai diperhitungkan sebagai alat seleksi yang memiliki bobot tertentu bagi penerimaaan mahasiswa baru pada PTN secara nasional. Sehingga ada kesinambungan antara hasil binaan para guru SMA dengan PTN yang akan menyeleksi para calon mahasiswanya. Paling tidak, kebijakannya bisa dilakukan secara bertahap sampai diyakini betul setelah melalui riset yang kredibel bahwa memang ada keterkaitan kuat antara prestasi pada Ujian Nasional SMA dengan SNMPTN.







